Sastra Budaya › Essay


Talempong Batuang dari Silungkang

Selasa, 11/12/2012 WIB | Oleh : Novia Amirah Azmi (Mg)

Melihat sosoknya yang penuh semangat memang menggambarkan betapa gigihnya ia bekerja. Meski raga tak lagi muda, kulit yang sudah mulai keriput, namun senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Ialah Umar Malin Parmato atau yang akrab disapa Ongku Umar. Kakek berusia 83 tahun ini merupakan penerus dari alat musik tradisional khas Silungkang, Calempong Batuang.

 

Calempong batuang terbuat dari batuang(bambu,red). “Mulonyo dari nenek moyang, tu turun manurun hinggo ka ambo. Ambo baraja dari induak, dek ocok mancoliak baliau main.” Ujar Ongko. Kecintaannya terhadap seni memang membuat ia kerap memainkan alat musik ini sehari-hari. Dikala hati dilanda gundah, calempong batuanglah yang menjadi sahabat sejatinya, beragam lagu bisa ia mainkan, tanpa pernah mengecap bangku pendidikan. Semua mengalir begitu saja, karena memang diraganya terdapat darah seni dari sang bunda. “Sakali mandanga lagu, ambo alah bisa mamainkannyo pakai calempong ko mah nak” , tambahnya lagi.

 

Ia tak hanya mahir memainkan calempong batuang, tapi juga calempong kayu dan calempong pacik. “Dulunyo ambo baraja dari calempong kayu, tu baru ka calempong pacik jo batuang. Kami ocok main batigo baradiak, pai maarak marakpulai jo anak daro, tampil di acara-acara adaik, tapi  sajak adiak bungsu maningga tahun 2005, tingga ambo jo Basri yang manaruihan lai” ungkap ayah beranak tujuh ini.

 

Calempong batuang mulai dikenal luas semenjak adanya otonomi daerah tahun 1990. Saat itu pemerintah Sawahlunto mencari budaya lokal untuk dikembangkan. Awalnya yang diperkenalkan oleh Ongku Umar ialah Marunguih, dendang saluang. Kemudian barulah Calempong batuang. Dengan calempong batuangnya, Ia pernah tampil di kantor Camat dan diundang ke rumah walikota Sawahlunto. Tampil di Pekan budaya dinas Pariwisata Kota Padang dan pernah tampil juga di Malaysia melalui orkes parmato hitam.

 

Proses pembuatan calempong ini pun tidaklah sulit. Hanya perlu mencari bambu dengan diameter tertentu, lalu dipotong dan mulai dibentuk. Bagian terluar bambu disayat sebanyak enam buah, lalu dipasak dengan bambu pula hingga didapat ketegangan tertentu. Dengan telinganya Ongku bisa menentukan urutan nada yang ingin dibuat. Kemudian barulah dipukul dengan bambu berukuran kecil seperti stik drum. Telah banyak calempong batuang yang ia hasilkan. “hmm... Pernah dulu datang urang dari prancis mambali calempong ko, tu urang dari dinas pariwisata”, gumamnya seraya mengingat-ingat.

 

“Nan mambuek ambo tanamo katiko tampil di Puncak Cemara Sawahlunto, bapakaian randai, tu nyo liput dek TVRI tahun 2010. Tu kato urang nan datang karumah ambo nyo coliak di internet pulo” ungkapnya bangga. Selama memperkenalkan calempong batuang banyak manfaat yang ia rasakan, rasa bangga yang tak terhingga, setiap kali tampil diberi uang, ini bisa membantu kehidupannya yang sehari-hari hanya sebagai petani.

 

Namun sayang, sebagai pelestari budaya tradisional yang hampir punah ia tak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah kota Sawahlunto. Rumah yang ia huni sangat sederhana. Lantainya beralaskan semen, atap pun sudah banyak yang bocor. “Rumah iko dulunyo kantua desa, dek alah adoh bangunan baru makonyo iko ambo jadian rumah. Dulu pernah ado bantuan dari pemerintah kota tapi indak sampai katangan ambo, indak tau lah dima tasangkuiknyo. Kaba tabaru yang ambo donga akan ado reword dari kota, tapi sampai kini alum joleh.” Ungkapnya sedih.

 

Di usia nya yang tak lagi muda, ia sudah mengajarkan calempong batuang kepada sang anak, Misriani dan cucu-cucunya. Ia ingin Calempong batuang ini dilestarikan. Ia ingin mendirikan sanggar untuk siapa saja yang ingin belajar Calempong batuang. Ia tak mau budaya khas Silungkang ini hilang dimakan zaman. “Datanglah karumah Ambo di jalan microwave dusun Sungai cocang Desa Silungkang Oso Kecamatan Silungkang Sawahlunto, ambo sanang kalau urang nio baraja, bia ambo ajaan. Telepon ambo jadi juo ka nomor 085375087135” tuturnya dengan penuh harapan.

 

Semasa hidupnya ia habiskan untuk mengabdi kepada masyarakat. Ia pernah menjabat sebagai kepala desa selama 10 tahun, dan kini ia diamanahi sebagai kepala dusun sungai Cocang. Ia juga merupakan pelopor pendiri SDN 13 Silungkang Oso yang dengan susah payah ia perjuangkan. Tak salah jika ia diamanahi sebagai ketua yayasan dari sekolah tersebut. Begitu banyak inspirasi yang bisa kita peroleh darinya. 




• Essay Terkait
Suarakampus