Sastra Budaya › Essay


Syamsir Rajo Lelo, Dari Guru Ngaji Hingga Pawang Harimau

Selasa, 11/12/2012 WIB | Oleh : Novia Amirah Azmi

Setiap manusia memang diberikan kelebihan masing-masing oleh Allah SWT, tergantung bagaimana manusia menyikapi kelebihan yang ia miliki serta memanfaatkannya untuk jalan kebaikan. Disadari atau tidak, kelebihan yang dimiliki kerap membuat manusia menjadi semakin dekat dengan sang khalik. Namun tak jarang juga orang-orang menjadi buta karenanya.

 

Ialah Syamsir Rajo Lelo atau yang akrap disapa Pak Lelo, seorang kakek yang memiliki bakat yang bisa dikatakan langka, yakni kemampuannya dalam menangkap harimau. Bakat ini memang telah ia miliki saat masih muda. “Mamak ambo dulunyo memang alah manangkok harimau juo, tu ambo mulai baraja-raja pulo”, ungkapnya.

 

Kemampuan ini tidak semata-mata diperoleh begitu saja, dengan pengajian rutin, ibadah yang cukup serta berbagai ritual yang harus beliau jalani hingga bisa menjadi sosok pawang harimau seperti sekarang. Hingga saat ini jumlah harimau yang berhasil beliau tangkap sebanyak 27 ekor. Harimau tersebut kemudian diserahkan kepada pemerintah untuk dipelihara di kebun binatang. Ini tentu bukan jumlah yang sedikit bagi kakek kelahiran tahun 1937.   

 

Tak tanggung-tanggung beliau pernah mendapatkan penghargaan dari SBKSDA (Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam) Sumatera Barat atas kesadarannya berperan aktif dalam penyelamatan Satwa liat yang dilindungi oleh undang-undang pada tanggal 1 Februari 1995. Penghargaan ini tentunya menjadi suatu bentuk pengakuan atas bakat yang ia miliki. “Manangkok harimau tu susah-susah gampang, ambo acok manangkok di kampuang ambo, Batu busuak, tapi pernah juo dibaok urang ka Sungai Bangek jo Pasisia” ujar kakek beranak 11 ini.

 

Menurut beliau, tak sembarang harimau yang bisa ditangkap. Hanya harimau yang mengganggu ketenangan masyarakat dan yang berbuat salah seperti memakan ternak warga saja yang bisa ditangkap. Memasang umpan pun tak sembarangan. Seekor kambing dimasukkan kedalam perangkap khusus yang dipasang saat pagi atau malam hari, kemudian dibacakan doa-doa khusus serta pantun yang memanggil harimau tersebut hingga terperangkap. Pantunnya berbunyi seperti ini:

 

Kok Tidak landang jo Landi

Dimano kiambang Diam

Kok indak utang dibayia

Dimano dagang ka diam

 

Pantun ini benar-benar mengisyaratkan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh harimau memang dibayar dengan nyawanya sendiri. “Kalaupun harimau tu indak masuak parangkok, ujuang-ujunganyo harimau tu mati juo dek indak makan, pangana nyo alah ka kambiang yang jadi umpan tu,” tambahnya lagi.

 

Beliau pun punya pengalaman menarik saat berada di hutan. Saat tersesat, maka beliau cukup membakar kumayan atau rokok, kemudian menanyakan arah yang benar, maka dengan isyarat tertentu harimau (inyiak) ini akan memberikan petunjuk atas izin Allah SWT. Beliau juga pernah diselamatkan oleh harimau saat ada pohon yang tumbang di pondok yang ia singgahi. Harimau juga kerap memberikan simbol-simbol tertentu di hutan, seperti memberi garis cakaran kuku menyilang di tanah dan banyak ranting atau daun di sekitar tanda tersebut, maka berarti di daerah tersebut sang harimau tengah berburu.

 

“Sabananyo harimau tu mamantau awak katiko dihutan, asalkan pantangannyo indak dilanggar insyallah awak aman di hutan. Apo pantangannyo? Antaro lain indak buliah baok pariuak karaia, mangapiang puntuang, karaia tagak apolai bagi yang laki-laki, mangalatiakan aia cucian, dan yang paliang penting, indak takabua,” nasehatnya.

 

Saat banjir bandang yang melanda daerah Batu Busuak, Limau manis dan Gurun Laweh, beliau justru diberi isyarat oleh harimau. “Malam tu kan hujan labek, ambo bagolek-golek di dalam, tu taranga suaro harimau tu mangaum, tapi indak ambo cikaroi, kamudian pintu rumah ambo ko dibukaknyo, barulah ambo mangarati kalau inyiak (harimau) datang. Ambo mancaliak dari jajak kakinyo yang lakek di laman rumah. Sasudah tu baru ado urang nan manyorakkan kalau kampuang ambo kanai galodo,” ujarnya.

 

Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kemampuan kepada hewan dan tumbuhan untuk memberikan tanda-tanda kepada manusia. Inilah yang beliau rasakan. Semakin banyak pengalaman hidupnya, makin dekat pula ia dengan Tuhan-nya.

 

Sosok agamis pun telah terpancar dari wajahnya, tak salah karena sejak masih muda beliau merupakan guru mengaji di kampungnya, Batu Busuak Kecamatan Pauh Padang. Bertahun-tahun ia mengabdi sebagai guru mengaji, dan setelah menikah pun dan pindah ke daerah Ulu Gadut, belakang RSJ. Sa`anin, beliau masih menyiarkan agama Allah SWT.

 

Disamping itu namanya juga cukup terkenal di masyarakat karena beliau juga memiliki kemampuan dalam hal pijat-memijat. Telah banyak pasien yang datang kerumahnya untuk berobat, mulai dari warga kota Padang hingga dari luar daerah. Atas izin Allah SWT Beliau mampu mengobati orang yang salah urat hingga patah tulang. Dari balita hingga tua renta. Laki-laki maupun wanita. Penyakit fisik maupun magic. Hebatnya lagi, sebahagian dari pendapatannya ia kumpulkan untuk membangun sebuah surau, tepat di belakang rumahnya. Surau Al-Mu`minin, begitulah namanya. Surau yang sengaja ia peruntukkan bagi masyarakat sekitar agar lebih dekat dengan Allah SWT dan juga bagi pasien yang ingin melaksanakan ibadah shalat. Sungguh luar biasa sosok yang satu ini.




• Essay Terkait
Suarakampus