Sastra Budaya › Essay


Wc Kampus Bukanlah Barang Pribadi

Rabu, 12/12/2012 WIB | Oleh : Gusriwandi

Krisis moral yang terjadi belakangan di Indonesia, akhirnya menyambangi IAIN IB Padang. Akibatnya, seorang mahasiswi di usir kala menggunakan fasilitas umum (WC).

 

Ade (20 tahun), begitulah sapaan akrabnya. seorang mahasiswi Fakultas Tarbiyah yang kini duduk di semester tiga. Gadis ayu asal Pariaman dan keluarga yang sangat sederhana ini mengalami kejadian memalukan beberapa waktu silam, disaat telah putus asa mencari WC di lingkungan kampusnya. Setelah wara-wiri kesana kemari mencari WC, akhirnya ia menemukan WC yang berada di dalam gedung fakultas, tanpa pikir panjang ia segera masuk WC untuk menuntaskan hasrat buang hajatnya yang tertunda.

 

Namun apa daya, seorang dosen memergokinya sedang memakai WC tersebut dan langsung mengusirnya keluar. Ketika ditanya perihal pengusirannya, “Dosen tersebut mengusir saya tidak dengan kata-kata, tapi lebih dari itu. Dia mengusir dengan gesture dan ekspresi wajah terburuk di dunia,” ungkap Ade menerangkan tragedi memalukan yang pernah dialaminya itu. Sejak saat itu, gadis ayu ini mengalami trauma untuk menggunakan fasilitas kampus, karena Ia merasa kampus islami yang ia bangga-banggakan kepada seluruh teman-teman di kampungnya ternyata tidak sesuai dengan harapan, bahkan sedikit sekali nuansa islam yang bisa ia rasakan terlebih kalau sudah menyangkut masalah SDM, budaya islam itu seakan menguap begitu saja ke udara.

 

Atas kejadian ini ia berjanji tidak akan pernah lagi menggunakan WC IAIN, dia lebih baik menahan hajatnya untuk nanti dituntaskan di wisma, dengan resiko terkena kencing batu atau numpang di kos temannya yang tidak terlalu jauh dari lokasi kampus. Ketika ditanya lebih lanjut, tentang kehidupan dan aktifitas lainnya di kampus, gadis ini seakan menutup diri dan berusaha berlalu dari pandangan penulis.

 

Hal ini senada dengan apa yang di ungkapkan oleh Ardi (20), dia juga lebih memilih kosannya untuk buang hajat ketimbang harus dilakukan di WC IAIN nan jorok dan kering. Namun jika hal tersebut benar-benar urgen, ia lebih memilih WC yang ada dilingkungan Fakultas Ushuluddin dikarenakan WC nya lumayan bersih, jelas Ardi menerangkan.

 

Ditemui ditempat terpisah, seorang dosen dari Fakultas Dakwah yang enggan menyebutkan identitasnya dengan alasan  privasi berkomentar, “WC memang menjadi polemik di IAIN pasca gempa 2009 lalu. Disamping itu, perhatian dari para petinggi IAIN juga dirasa kurang dalam menanggapi masalah ini” ungkapnya. Selain itu Ia menambahkan, “Mahasiswa juga kurang perhatian terhadap kebersihan WC, yang mengakibatkan WC menjadi kotor, bau dan akhirnya tak terurus”. Disinggung mengenai adanya dosen yang mengusir mahasiswa yang ketahuan memakai WC yang konon katanya diperuntukkan khusus buat dosen dan karyawan dengan alasan mahasiswa tersebut kepepet karena sudah tidak ada lagi WC yang layak untuk digunakan, Bapak satu ini menjawab dengan “no coment”.

 

Dari beberapa narasumber yang penulis coba korek informasinya, WC yang berada di lingkungan Fakultas Ushuluddin disebut-sebut sebagai WC yang hampir memenuhi standar kebersihan menurut Islam. Hal ini mungkin saja karena sebagian besar gedung fakultas. Ushuluddin baru saja direnovasi dan bahkan ada gedung yang benar-benar baru selesai dibangun. Semoga saja kebersihan itu tetap terjaga, sehingga di tengah buruknya fasilitas WC di lingkungan IAIN ini.




• Essay Terkait
Suarakampus