Sastra Budaya › Cerpen


Juara Bertahan

Selasa, 26/02/2013 WIB | Oleh : Evi Candra

Mentari belum mengeluarkan sinarnya, pagi terasa dingin sekali seakan menembus kisi-kisi bantin Titi yang penuh pengharapan bisa mempertahankan apa yang telah diraihnya. Semalam Titi memang tidur lebih cepat karena ingin lebih cepat menyongsong pagi, ketika ia merasa perjuangannya selama satu semester akan “berbuah manis”.

 

Titi bangun lebih awal daripada hari sebelumnya. Semangat Titi menggelora. Segera melompat dari tempat tidur, melipat selimut dan merapikan bantal dan alas kasur. Pada hari biasanya Titi bangun tidur selalu dibangunkan orang tuanya, terkadang digendong untuk mandi sebelum berangkat ke sekolah. Hari ini  berbeda dengan sebelumnya sebab Titi akan menerima lapor semester ganjil.

 

Perasaan itu membuat Titi segera terbang ke kamar mandi. Ketika kuncuran dan butiran air menyiram, membuat Titi terasa nyaman dan menghayutkan semua perasaan buruk yang ada dalam hati bahwa juara lokal akan lepas. Namun air hanya membuat Titi berpikir bisa mempertahan juara kelasnya. Titi baru saja selesai mandi dan mengeringkan rambut, dan memakai baju pramuka sekaligus Sabtu ini menerima lapor. Merapikan baju dengan memasukan kedalam dan berkaca.

 

Titi menikmati sarapan pagi, yang telah disediakan oleh ibunya di meja makan. Titi sarapan dengan ayahnya yang akan mengantar Titi ke sekolah untuk mengambil lapor. Biasanya emang ayah Titi mengantar dan menjemput ketika istirahat siang, sebab Titi pulang sekolah pukul 12.30 Wib.

 

“Cemas Ti yah, hari ini kan segera menerima lapor, bagaimana kira-kira bisa dipertahan juara Ti, yah !!! ” kata Titi kepada ayahnya di meja makan.

 

“Bisalah, Titi selama ini kan sudah belajar dengan penuh semangat dan ayah perhatikan nilai-nilai Titi tidak ada yang dibawah angka enam, ujian Titi hampir dapat semua jawabannya,” kata ayahnya sambil tersenyum untuk mengemangati Titi.

 

Kecemasan Titi juga karena seandainya tidak juara kelas maka tidak jadi mendapatkan sepeda, sebagaimana yang telah dijanjikan ayahnya tempo dulu. Sebab Titi amat berat berharap mendapatkan sepeda maka Titi lebih semangat belajar. Teramat rajin belajar.

 

Lalu, Titi menyiapkan tas dengan sepatu yang diletakknan dimuka pintu, dan ayahnya memanaskan mesin motor, sembari meneguk teh. Ibu Titi datang dari dapur, mendekati Titi “Nak ini kotak minumannya, tekurkan kelapa Ti,  ibu letakan dileher Titi,” kata ibunya.

 

Titi anak tunggal, sedang menempuh kelas tiga sekolah dasar. Titi selalu juara kelas semenjak masuk taman kanak-kanank (TK) yang silam. Kecerdasaan Titi hasil berkat dorongan, kegigihan ibunya yang selalu mengawasi dan menanyakan maupun evaluasi hasil belajar Titi di sekolah hampir setiap harinya.

 

“Titi pergi dulu ya bu,”  sambil menyelami tangan ibunya, lalu menciuminya. Sedangkan ibu Titi memperhatikan Titi yang sedang menaiki sepeda motor, segera meluncur pergi ke sekolah.

 

Titi tidak mau terlambat sampai tiba di sekolah, karena acara pembagian lapor dimulai pada pukul 08.00 Wib, jarak rumah Titi dengan sekolah ada tujuh kilo. Sekolah Titi di desa tetangga, karena rumah nenek Titi di depan sekolahnya. Emang sih ada sekolah dasar dikampung Titi di Durian Jantung, Kabupaten Padang Pariaman, tetapi proses belajar dan mengajar masih dilakukan di Teras Masjid.

 

Titi tiba di sekolah yang masih sunyi karena datang terlalu cepat masih dingin menciut, sembari menunggu kedatangan siswa lainnya, Titi pergi ke rumah neneknya yang di huni oleh Uwo (kakak perempuan ayah Titi).

Uwo, sapa Titi,

Masuk Ti, jawab uwonya “Kenapa pagi sekali hari ini Ti ? Tanya uwo

“Iya wo, Ti cemas rasanya hari ini, doakan Ti ya wo agar bisa mempertahankan juara Ti”

“Wo selalu berdoa untuk Titi. sekarang disini saja dulu sambil menunggu kedatangan teman-teman Ti” ujar uwo.

 

Teman-teman Titi berdatangan ke sekolah bersama orang tua mereka masing-masing, Titi keluar bermain bersama temannya seperti main tali. Titi terlirik hebat dengan lincahnya mengangkat kaki, melenggokan badannya, bahkan sesekali meloncat.

 

Pengumuman juara masing kelas dilakukan dilapangan, memakai pengeras suara. Setelah semua murid berkumpul dan merapikan barisan, orang tua murid memperhatikan di teras sekolah. Tibalah saatnya kelas Titi, juara ketiga dan kedua telah disebutkan, belum lagi terdengar nama Titi dibilang, hampir menyebut siapa nama juara satunya. Lampu mati, jadi terdengar samar, membuat Titi pucat.

 

Selang beberapa menit lampu hidup lagi maka dipanggil nama Titi untuk pergi kedepan barisan, membuat Titi terkejut. Segera berlari ke depan barisan dengan semangatnya, ia tidak menyangka bisa mempertahankan juara satu. Asyik kegirangan dan berlari kencang, kaki Titi tersandung batu, brukkk!!! Titi terjatuh. Murid lainnya tidak tertawa, mereka sangat menjujung tinggi “raso jo pareso (saling menghargai)” teman, dan melanjutkan tepuk tangan untuk Titi atas prestasi bisa mempertahankan juara kelasnya maupun hasil kerja kerasnya selama ini. Terjatuh Titi itu ekspresi kegembiraan.

 

Kemudian ada salah seorang murid segera menuju Titi membantu untuk bangun, mujur jatuh Titi tidak membuatnya meriang sakit, hanya kotor sedikit saja dibaju.Titi mendapatkan selamat dari murid lainnya. Titi emang anak yang ramah, santun, riang, menghargai orang lain, membuat murid lain menyukainya untuk berteman.

 




• Cerpen Terkait