Sastra Budaya › Cerpen


Ready To Come

Selasa, 26/03/2013 WIB | Oleh : Nurhayati Matondang

“Aku tetap bergabung!” kalimat terakhirku sengaja aku ucapkan mantap. Rio yang mendengarkannya seakan menghadapi tembok bata yang keras. Keras kepala. “Kamu mesti pikirkan dua kali, hmm tidak cukup,” Rio terdiam sejenak. “Tiga kali!”

 

Rio yang aku panggil Gebriel itu berjalan mendekati pintu, hendak meninggalkanku. Rasa protektifnya kepadaku kurasa cukup berlebihan, tapi itu wajar untuk meliput berita ke negeri multi konflik memang sangat beresiko. Apalagi aku seorang wanita, alasan gender sering aku abaikan.

 

“Palestina” sekilas negeri itu tersirat dalam benakku. Aku menundukkan kepala menatapi handycam yang aku genggam sejak tadi. “Tapi kalau kamu tetap berikeras, ya sudah, besok kamu bersiap pukul 11.00 Wib jadwal keberangkatan kita, kamu masih punya waktu sampai pukul 10.00 Wib untuk cancel kontrak ini, si Boy siap menggantikanmu,” Rio menatapku tegas dan beranjak pergi meninggalkan ruangan.

 

Aku pulang ke rumah dan menutup pintu kamar pelan, sebelum aku membaringkan tubuhku ke atas kasur, sekilas aku menatap handycamku sambil tersenyum tipis. Aku dan Gebriel adalah dua wartawan yang bersedia ditugaskan meliput berita konflik antara Palestina dan Israel di perbatasan Gaza. Tetapi, Gebriel terus saja menghalangiku, dari awal ia memang sudah menentangku dan besok, dia masih berharap aku membatalkan kontrak ini? bagaimana aku bisa membatalkannya? tugas ini menantang, bukan? ke Gaza Palestina. Emang jika mengingat kengerian disana, pembantaian keji, serangan brutal tentara Zionis biadab terhadap nyawa-nyawa yang tak berdosa memang bisa mematahkan nyali, tapi aku ragu jika itu juga berlaku untukku, mengingat aku lumayan keras hati, setidaknya begitu kata Gebriel.

 

Aku semakin tertantang, aku kesana benar-benar menghadapi sebuah objek maha dangerous, bahkan, untuk anak remaja yang lagi giatnya merangsang adrenalin mereka. Bukan sekedar cara yang terlalu berbahaya mengingat taruhannya adalah nyawa. Aku kesana emang bukan menjadi mujahid pemberantas musuh-musuh terkutuk, tetapi aku yakin melalui berita-berita hasil jerih payahku nanti mampu mengirim jutaan mujahid kesana. Aku kembali tersenyum “Astaga, aku sampai mengepalkan tanganku ?” terlalu bersemangat. “Ooh God,” Aku rilexs dan memejamkan mata.

 

Pesawat mendarat memasuki teluk Akaba, menuju Kairo melalui jalan darat, aku dan Gebriel bersama rombongan tim medis mulai memasuki jalur Gaza, tentu saja semua di lalui dengan susah payah, hingga kami berada di perbatasan Gaza yang dipatroli ketat oleh tentara Zionis Israel.

 

Salah seorang anggota patroli itu mencek surat kontrak tugas ke datangan kami, seperti biasa ia selalu mencemooh setiap relawan yang hendak mengunjungi Palestina.  Tepat dugaanku ia langsung bertanya “Kalian yakin untuk datang kesini?”

 

“Tentu saja” jawab kami singkat dan tegas, ketika itu di atas kepala kami sebuah pesawat tanpa awak milik Israel meraung-raung di angkasa, lantas memuntahkan bomnya beberapa meter di depan kami. Hingga meluluh lantakkan bangunan yang di terjangnya, dahsyatnya hingga meninggalkan bekas lobang dalam menembus ke dasar bumi, kamudian terdengar tawa bernada ejekan memecahkan kekagetan kami. “Welcome, It’s a hello from the Israel welcome,” ujar penjaga perbatasan.

 

Aku tidak terlalu sok dengan tingkah biadab itu, adegan ini sudah kuperkirakan akan terjadi, aku sudah sering mendengar sebelumnya oleh relawan-relawan yang dulu pernah bertugas seperti kami. Hanya saja sekarang aku sudah menanam benci, yang mungkin untuk benciku selanjutnya. “Klik” aku sempatkan mengambil potret serpihan bagunan dan lobang bekas hantaman bom itu, lantas membuat catatan kecil, aku melirik ke arah Gebriel dia juga sibuk melakukan hal yang sama. Bus terus membawa kami hingga sampai ke lokasi tenda darurat pelayanan Medis.

 

Siang hari yang sangat terik, aku berdiri ditengah puing-puing gedung sekolah yang telah roboh oleh tentara Israel, disana aku melihat sebuah sisi ruangan yang setengah utuh sedang terjadi proses belajar-mengajar. Kumpulan anak-anak kecil yang sedang antusias menerima pelajaran dari seorang wanita muda, kondisi belajar yang sangat tidak layak, duduk lesehan di lantai dalam gedung setengah beratap, tanpa fasilitas apapun.

 

Aku tersentuh melihat semangat tinggi dari wajah suci anak-anak Palestina itu, yang sangat bertekad untuk menuntut ilmu walau di saat genting seperti ini. Aku tidak melewatkan potret ini dan segera aku membuat catatan kecil. Panas bumi meyeruak keseluruh tubuhku aku mengibaskan tangank ke wajahku.

“Mungkin kamu butuh ini,” 

 

“Thankyou” aku membuka botol minuman yang diberikan Gebriel, seketika menyegarkan kerongkonganku. “Kamu tau kenapa Tentara Zionis lebih memfokuskan serangan mereka terhadap anak-anak kecil daripada orang dewasa?” Tanya Gebriel sambil mengarahkan kameranya pada kegiatan belajar-mengajar di dalam reruntuhan ruangan sekolah tersebut.

 

“Tentu saja karena anak-anak Palestina tersebut terkenal jenius, bayangkan jika seumuran mereka sudah hafiz Al-Qur’an, bagaimana jika mereka nantinya sudah berumur 20 tahun? Mereka mampu membawa gerakan baru menumpas penjajah Israel,” Gebriel mengangguk menyutujuinya.

 

“Dan kamu tau bahwa anak-anak Israel juga luarbiasa cerdas, intelegensi mereka sudah di bangun sejak dalam kandungan, dalam usia tujuh tahun mereka sudah bisa menguasai tiga bahasa asing, kita menguasai bahasa Ingris saja bertahun hasilnya masih tetap di bawah kewajaran. Usia dini mereka sudah diajari membidik dengan senjata untuk membangun ketangkasan otak mereka, sehingga mereka jago berdebat, bersiasat dan sangat jenius, hebat bukan? mereka melahirkan generasi cerdas yang menyebar ke seluruh dunia, dulu mereka hanyalah pengungsi yang terbuang di Palestina ini, kini merekalah yang merajai Palestina, bukan tidak mungkin kelak mereka mampu menundukkan peradaban islam Dunia,” urai Gebriel.

 

“Hmm” aku manggut-manggut “Dan cara kamu menjelaskan padaku seperti gaya patroli Israel kemarin yang menunjukkan keramahannya, hanya sekarang bedanya kamu sedang membanggakan keturunan Yahudimu. Oh ya, kamu keturunan Yahudi Sephardim atau Akhenazim?” aku nyengir manaikkan sebelah alisku.

 

“Maaf nona bukankah anda salah orang? kebetulan yang anda temui ini pengikut Muhammad yang setia,” Gabriel membalas gurauanku dengan tangkas.

Hahaa” kami berdua tertawa, bercanda cukup melonggarkan jaringan otakku.

 

Di tengah derai tawa kami tiba-tiba datang serbuan rentetan peluru dari atas, belasan pesawat Israel datang menyerbu perkampungan Gaza, aku spontan panik, aku langsung mencari tempat aman di balik gedung yang berhimpitan. Aku melihat pesawat Israel itu tidak melewatkan ruangan tempat aktivitas belajar tadi, mereka menghujani peluru dari atas, anak-anak segera berhamburan dan terdengar jeritan yang menyayat hati. Aku langsung merekam segala kejadian yang ada, berusaha untuk tidak melewatkan sedikitpun.

 

“Aku terus terperangah menyaksikan serbuan Zionis itu yang terus membrutal tanpa ampun, seketika mataku tertuju pada bayi kecil yang terlempar dari pelukan seorang pria, pria itu tertembak dan jatuh sementara bayinya terlempar ke aspal. Naluriku langsung mendorongku untuk menyongsong bayi itu,  aku segera berlari kesana namun langkahku terhenti saat sebuah peluru menembus betisku, aku terjatuh telungkup menahan kesakitan yang luarbiasa. Mataku masih sempat melihat kearah bayi kecil itu diselamatkan oleh seorang bocah berusia tujuh tahun, namun bocah yang berusaha menyelamatkan itupun ikut tertembak. Aku begitu miris melihatnya. Itu adalah anak yang aku lihat belajar dengan semangat di ruangan tanpa atap tadi, oohh aku menitikkan air mata,  kulihat mayat bergelimpangan dimana-mana. Walau dengan keadaan parah seperti ini aku masih mengambil beberapa potret yang aku rasa penting untuk mendokumentasikan dan membeberkannya kebiadapan Israel kepada dunia.

 

Kondisiku sangat parah, baru kali ini aku merasakan perjuangan nyata seorang wartawan. Aku mencoba tetap  bertahan, tetapi aku tidak mampu menggerakkan tubuhku yang sudah lumpuh, aku kehilangan Gebriel, dimana dia? nafasku hampir  sekarat, kulihat serangan sudah mulai reda. Antara sadar dan tidak sadar aku merasa seseorang menyeretku, siapapun itu kuharap mereka membawaku ke tenda posko kami dan aku ingin segera mendapatkan pertolongan. Nafasku terasa berat, mataku berkunang-kunang, setelah itu aku sudah tidak sadar lagi.

 

Aku buka mataku, pandanganku masih berkunang-kunang, seluruh badanku terasa berat, luka tembakan di kakiku semakin nyeri, aku ingin mengatakan sesuatu. Bahkan, mulutku tidak bisa digerakkan, seluruh badanku terasa terkekang. Aku berusaha untuk benar-benar membuka mataku dengan jelas. “Tuhan” aku berada di antara puluhan tawanan yang di kurung dalam ruangan beton yang pengap dan gelap. Bagaimana aku bisa sampai berada disini? aku melihat dua orang tentara Israel berdiri berjaga-jaga di luar sel tahanan. Aku baru sadar aku ditangkap oleh tentara israel. Tetapi aku bingung, kenapa mereka menangkapku? aku tidak mengerti, apakah mereka juga memang menangkapi warga Negara Asing? Tiba-tiba pintu terbuka oleh empat serdadu Israel, salah satunya mungkin adalah sang kapten, aku lihat dari penampilannya memang begitu.

 

Mereka membentak-bentak kami, mereka menggunakan bahasa Ibrani yang tidak kumengerti, tapi mereka juga menggunakan bahasa Arab. Sehingga, aku tahu apa maksud mereka menangkap para tawanan ini. Tawanan ini adalah penduduk sipil Palestina yang diciduk para tentara Israel usai serangan brutal tadi. Salah satu serdadu itu menarik seorang tawanan, pria berusia empat puluhan tahun, ia dipaksa berdiri menghadap mereka.

 

“Pemberontak, dimana kelompokmu bersembunyi?” bentak si kapten itu dengan garang, namun pria tawanan itu tetap terdiam tak bergeming. “hmm, diam ibarat emas” sahut si kapten itu lagi sambil mengarahkan pistolnya tepat ke kening pria itu.  Aku yang melihatnya segera memalingkan wajah, aku menutup rapat kelopak mataku, kudengar isak tangis di belakangku. Aku tak mampu lagi untuk peduli. Pria itu tetap terdiam. “DOORR!!” sejenak terdengar tubuh itu tumbang, diiringi dengan ledakan tawa mereka. Setelah itu, mereka mendekati seorang gadis yang disekap di sampingku. Dua serdadu itu menyaratnya untuk berdiri, gadis itu tidak menangis, bahkan tidak mengeluh sedikitpun. Ia terlihat tegar menatap tajam pada serdadu laknat itu. Aku salut pada keberaniannya. Kulihat pria jahanam itu membuka mulutnya lagi “Kamu sudah tahu, gedung sekolah sudah dihancurkan, peringatan untuk tidak ada lagi sekolah disini, kamu tetap mengadakan sekolah? tidak ada pendidikan untuk makhluk haram di tanah milik israel!!!”

 

“Kalian makhluk haram ditanah milik kami” sahut gadis itu tajam.

“Gadis palestina memang selalu menarik. Hahahaa, bawa dia, permalukan didepan umum”.

Dua anak buah kapten itu segera menarik paksa si gadis untuk dibawa keluar. Ia adalah gadis yang  kulihat mengajar di ruagan tanpa atap tadi, kasihan dia. Pikiranku langsung tersirat pada berita tentara Israel yang sering menganiaya para guru-guru dengan menelanjangi mereka di muka umum. Sebelum mereka ditembak mati, aku langsung bergidik dan menyumpahi dalam hati.

 

Aku semakin heran dengan keberadaanku disini, apakah mereka salah menangkap orang? Kini telunjuk sang kapten menunjuk ke arahku, aku terkejut, dengan paksa seorang serdadu itu mengangkat paksa tubuhku untuk berdiri. Aku benar-benar gemetar, aku mengakui aku memang tidak sekuat gadis Palestina tadi. Sakit di kakiku seakan tak ada apa-apanya dibanding dengan rasa takutku ini.

 

“Gadis Asia, pandai juga cecunguk Palestina ini mencari mata-mata yang dikira mereka mampu mengelabuhi, berapa besar mereka membayarmu?

 

Aku mengkerutkan kening, ‘mata-mata?’ batinku, “aku bukan mata-mata” bantahku cepat.

“Kamu salah menangkap orang, aku wartawan ini tanda pengenalku” astagaa? mana tasku yang ku ikat di pinggangku, mana kameraku, semua surat-surat penting dan tanda pengenal ada di dalam tasku.

 

“Hmm..? Mencoba untuk mengkelabuhi?  kamu membuang-buang waktu kami saja, kaki tangan cecunguk Palestina sekarang memang dididik mulai licik, dan apakah kamu bisa membodohi kami?”

“Aku bukan mata-mata!!!” teriakku keras dengan tanganku yang masih terikat dibelakang.

“Menangislah sepuasmu! peluru ini akan menyumpal kerongkonganmu!”.

 

Apakah aku pasrah menyerahkan nyawaku dengan sia-sia? Kapten Durjana itu menodongkan pistolnya tepat ke arah dadaku. Aku menatap kapten itu tajam, kini rasa takutku berubah dengan rasa benci yang luar biasa. Inilah saat aku merasa benar-benar tidak takut mati.

 

“Doorrr!!” tembakan peluru. Aku merasakan sakit yang luarbiasa di dadaku seketika tubuhku lemas, perlahan semua menjadi gelap. Aku membuka mataku perlahan, samar-samar aku melihat sinar terang yang menyorot mataku dari langit-langit ruangan. Setelah cukup sadar telingaku menangkap suara detak-detak jam. Setelah benar-benar sadar, “Astagaa” aku berada dikamarku?.

 

Mimpiku barusan membuat aku termenung, aku melihat jam sudah menunjukkan angka lima pagi. Aku segera mengambil segelas air dan menegukkanya, petualanganku semalam cukup membuat aku dahaga. Selesai shalat dan mandi aku memasang jaketku, aku mengangkat handpone yang berdering.

 

“Jeni? gimana kamu sudah siap?  kamu masih tetap per…”

“Pergi? Boss aku sudah siap dari tadi” aku memotong kalimatnya sambil tertawa ringan. Apa Gebriel masih tetap berusaha menghentikanku. Bahkan, mimpiku semalam tidak mempengaruhiku sedikitpun, mimpi itu seolah bekerja sama dengan Gebriel untuk menggoyahkan niatku, aku tertawa dalam hati.

 

Kami sekarang tengah berada di dalam pesawat dan sebentar lagi pesawat akan mendarat memasuki teluk Akaba. Aku melangkahkan kaki lebar-lebar seiring dengan langkah Gebriel dan para relawan medis. Aku tersenyum kecil menatap langit bumi Palestina yang sudah di hadapanku. Emang jika aku sudah bertekad dari awal maka langkah kedua aku hanya melakukannya saja. Bagiku, tidak ada hal yang kuanggap sebagai halangan, aku hanya percaya pada tiga filosofi kuno. Yaitu; ‘Tekad, usaha dan takdir’. So I Ready To fight.

 

 




• Cerpen Terkait