Sastra Budaya › Cerpen


Lonely

Jumat, 03/05/2013 WIB | Oleh : Nesia Agustina

Udara basah masih menyisakan butir-butir embun, menyentuh wajahku. Kuteruskan langkah meskipun kepalaku masih berat. Tadi malam aku menangis, hampir satu jam. Akhir-akhir ini aku juga terserang insomnia dan nafsu makanku menurun drastis. Ketika ku tatap wajahku di cermin, wajah itu layu dan kehilangan sinarnya.

Sehelai daun Ginko gugur melayang di depanku, jatuh persis di dekat kakiku. Kupungut dan kutatap. Daun yang hijau…. alangkah bahagianya engkau, beruntung tak merasakan cinta selain cinta dari tuhanmu.  Aku tersenyum getir.

Sesungguhnya aku masih terluka. Meskipun satu tahun telah berlalu, luka itu tetap perih menganga. Kebahagiaan terbesar dalam hidupku yang membuatku kuat menjalani hidup yang teramat sulit-telah pergi. Masih kuingat, sangat jelas dan nyata. Senyumnya padaku, sangat polos. Aku suka sekali melihatnya tersenyum. Kubawakan ia bekal ketika kami punya kesempatan untuk bermain-main di pantai pada musim panas. Usai membuat duyung pasir, kami makan. Makanan kesukaannya: Omelet Rice. Ia tersenyum lebar sambil berseru, “Enak…besok bikini lagi ya?”. Aku mengangguk senang.

Saat ia demam, aku mengompres dan menemaninya. Ia terlelap dengan nafas berat. Kutekankan tangan dinginku di pipinya. Ia terbangun dan menoleh padaku. Aku tersenyum gundah. Cepat sembuh sayangku….

Ia membawaku berkeliling, memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi. Ketika belokan, sepeda meleng. Reflek kupeluk pinggangnya. Ia tertawa. Di lain kesempatan, kami pergi menangguk ikan-ikan kecil di pulau mini yang sedang pasang surut. Ataupun hanya sekedar mengejar kepiting dan mengumpulkan kerang berwarna-warni.

Di hari ulang tahunnya, aku menyerahkan kado yang dirancang sedemikian indah beraksen pita transparan biru, warna kesukaannya.

Ketika aku sakit, ia beralih profesi menjadi dokter dadakan sekaligus penasehat pribadi. Mengingatkanku tuk minum obat, cepat tidur, jangan telat sarapan, dan banyak lagi.

Aku suka sekali mendengarnya berceloteh panjang lebar. Terkadang siap setia menyimaknya menyanyi sambil memainkan gitar yang cempreng alunannya.

Aku begitu mencintainya karena tuhanku. Mencintai kekurangannya dan mencintai kelebihannya. Namun sekarang ia telah pergi, tidak di sisiku lagi. Ia menghindariku dengan sepotong alasan “mengejar kesuksesan”. Ia bohong padaku, aku sangat tahu.

Kami telah bersahabat berhiaskan rasa cinta dan saling mendukung sejak tingkat SMP. Saling berjanji untuk tetap menjaga dan merancang masa depan bersama. Ia tak bisa menyembunyikan apapun dariku. Aku wanita dan perasaanku sungguh sangat peka untuk itu.  Kenyataan pahit yang tidak dapat kuhindari, ia jatuh cinta lagi. Lalu meninggalkanku begitu saja. Hatiku ngilu….

        “Eve-chan, kamu baik-baik saja?” Hiki membantuku berdiri. Lututku lemas.

        “Mari kuantar ke klinik”

        “Terima kasih, aku hanya kurang istirahat,” jawabku cepat.

        Lelaki tampan itu menatapku, “wajahmu pucat…ada masalah apa?”

        Aku menggeleng, mencoba tersenyum “Nothing”.

        Sejenak Hiki mengerutkan kening, “Oke, mari ku bantu”.

        Kami berjalan menuju lokal di lantai atas. Sepuluh menit lagi perkuliahan dimulai.

 

        Aku baru saja selesai melaksanakan sholat Zuhur. Di koridor aku berpapasan dengan Hiki. Ia tersenyum, ”Sudah baikan?,” aku mengangguk, balas tersenyum.

        “Boleh minta waktunya? Ada yang ingin kubicarakan padamu,” Hiki berbisik pelan.

        “Ya,” jawabku.

        Bunga Sakura berjatuhan, melayang indah bagaikan kapas-kapas berhamburan ditiup angin. Gakuen Osaka University memiliki taman-taman yang asri dan apik. Di ujung taman terlihat empat orang mahasiswa yang tengah berdiskusi. Sepertinya serius sekali.

        “Minggu ini, kamu sepertinya kurang sehat. Ada masalah apa? Ayo cerita….,” Hiki berkata pelan.

Ia meneliti perubahan ekspresiku. Hiki satu-satunya teman dekatku saat ini. Ia sosok yang tenang dan pintar, juga sangat bijak dalam menyikapi sesuatu. Aku tidak bisa menghindari kepeduliannya.

        “Aku teringat sahabatku, aku sangat  rindu padanya,”

        “Kenapa tidak mencoba tuk menghubunginya?,” Hiki tersenyum.

        “Aku takut mengganggu…. Aku tak ingin ia makin menghindariku,”

        “Maaf,… apa kamu mencintainya?,”

        “Ya,” aku mengangguk pelan, air mataku jatuh.

        Hiki terdiam, ia mengalihkan pandangan ke arah pohon Sakura, yang berbunga mekar merah jambu pucat. Hiki mengubah posisi duduknya, tak lagi menghadapku. Lurus ke depan sana. Samar kulihat Hiki tersenyum.

        “Ia tak akan pernah melupakanmu, seperti dirimu yang selalu mengingatnya. Tidak mudah untuk melupakan berbagai hal yang telah kalian lalui bersama. Ia akan kembali padamu,suatu saat nanti. Meski bukan sebagai kekasihmu, tapi sebagai sahabat terbaikmu. Ia pasti sangat menyayangimu…aku yakin. Butuh waktu baginya untuk menyadari hal itu”

        “Hiki?... aku tidak yakin,” suaraku nyaris tak terdengar.

        “Tetaplah menjadi sahabat yang baik untuknya. Itu merupakan modal utamamu. Jangan pernah menyakitinya dalam bentuk apapun.”

        “Aku tak pernah menyakitinya! Aku selalu memikirkan tiap detail tindakanku. Aku tidak pernah meninggalkannya atas alasan apapun, Hiki,” teriakku.

        Makhluk tampan disampingku menoleh. Aku  tersadar, ucapanku terlalu emosional.

        “Itu tindakan yang benar. Tetaplah begitu,” Hiki tersenyum lagi.

        Air mataku tumpah, jatuh membasahi punggung tanganku yang dingin. Angin bertiup menyibakkan ribuan kelopak sakura yang memenuhi permukaan taman.

                                                                                ***

        Jalananan dipenuhi dedaunan gugur beraroma khas. Tiap langkahku menimbulkan bunyi “Kresek…kresek…” Udara musim gugur sangat unik bagiku. Aku menghentukan langkah, menghirup udara bebas di sekelilingku.

        Ponselku berdering. Nomor yang amat kukenal tertera disana. Aku gemetar. Kuangkat dan kutempelkan ke telinga, perlahan.

        “Assalamu’alaikum…Apa kabar? Eve-chan sehat?” terdengar suara dari seberang. Suara yang tidak asing bagi bagiku. Kukenal dan kurindukan.

        Sei Kiriyu….?

        “Wa’alaikum salam…” Aku tak sanggup. Sesuatu yang hangat dan basah mulai mengaliri pipiku.

Hiki benar, sahabatku telah kembali. Meskipun tak seperti dulu….

“Eve? Apa kabar?,” ulang suara itu.

Aku menarik nafas, menenangkan diri.

“Baik….Aku baik- baik saja. Sei apa kabar juga?,”

***

Awal musim dingin.

Kurapatkan jaketku. Butir-butir salju mulai jatuh, berkilauan berlatarkan langit biru. Aku kembali menjalani rutinitas harian, kuliah. Semuanya tetap sama, tak ada yang berbeda. Meskipun ia telah kembali, hari-hariku tetap sepi. Sungguh  tidak mudah bagiku untuk terus melangkah. Kerap kali aku terjatuh.

Hanya satu yang kuyakini selalu bersamaku dan takkan pernah meninggalkanku selamanya: Tuhanku.

Thanks to Allah for love in my life…….




• Cerpen Terkait