Sastra Budaya › Cerpen


Bulir Kristal Kehidupan

Sabtu, 07/09/2013 WIB | Oleh : Annisa Efendi

Ah hujan, mengapa kau begitu menyejukkan? Pernahkah kalian perhatikan bulir beningnya? Begitu jernih sekaligus rapuh. Lihatlah, saat ia menjatuhkan diri ke tanah, bulir kristalnya tak lagi utuh, lenyap, menyeruak ke dalam rahim bumi. Pada akhirnya kalian akan lihat, kehidupan menghiasi dunia, pepohonan dan bunga merekah indah.

 

Altruisme, prinsip yang indah sekaligus kejam. Membiarkan dirimu binasa demi menumbuhkan seribu kehidupan lainnya. Laiknya lilin, kau membiarkan dirimu terbakar, berharap sekelilingmu terang benderang.

 

“Jatuh cinta pada hujan”. Itulah kata yang terucap saat pertanyaan itu berkali-kali menghampiriku. Pertanyaan yang sama dari orang yang juga tidak berbeda.  "Kenapa kau begitu mencintai hujan?"

 

"Karena aku mencintainya", ujarku tersenyum simpul. Sementara tanganku sibuk memainkan air-air hujan yang mengalir di sela-sela jariku. Bening, terasa sangat lembut saat butirannya berjatuhan satu persatu. Bagai permata yang diturunkan dari surga. Ah, Tuhan memang Maha Kuasa. Bahkan air laut yang menguap pun seketika menjadi tawar saat ia menjatuhkan diri kebumi sebagai hujan.

 

"Aku tahu, tapi kenapa? Bukankah ada sebab saat kita mencintai sesuatu?" dia kembali bertanya.

 

"Kau ingin tahu kenapa? Baiklah, aku akan memberitahumu, tapi sebelumnya aku akan bertanya tentang satu hal,” aku tersenyum kembali. Butiran itu selalu mengalihkan  perhatianku. "Bagaimana hakikat hujan dalam pengetahuanmu?"

 

"Tidak dipungkiri, hujan selalu berfungsi mengairi lahan yang kering,” jawabnya.

 

"Tepat! Itulah kenapa aku begitu mencintai hujan. Karena ia selalu mengairi lahan yang kering. Bukan hanya mengairi, hujan bahkan menyuburkan, memberikan kembali harapan makhluk yang sekarat”. Butiran itu kini membasahi wajahku, sengaja, aku menengadahkan wajah ke langit, membiarkan hujan membelai lembut wajahku. 

 

"Aku tidak mengerti. Oh Tuhan, tidak bisakah kau menggunakan bahasa yang lebih gamblang? Jika hanya karena hujan mengembalikan harapan makhluk yang sekarat, itu bukan alasan yang cukup untuk terlalu mencintai hujan, seperti kau mencintainya. Kau bahkan menganggapnya bagian dari jiwamu. Seolah-olah kau tidak bisa hidup tanpa hujan,” lelaki itu menggerutu sendiri, kesal dengan jawabanku atas pertanyaannya.

 

Aku tersenyum. "Sabar, aku akan memberitahumu kenapa aku begitu mencintai hujan. Anugerah terindah dari Tuhan bagi orang-orang sepertiku."

 

"Apa maksud semua perkataanmu?” Alamak, kau memenuhi otakku dengan kalimat-kalimatmu yang menjulang. Kini lelaki itu sibuk mengibas-ngibaskan jaket yang dipakainya, mencoba untuk tidak peduli denganku, dengan pernyataan-pernyataan konyolku tentang hujan. Aku mengamati, wajah teduh itu, wajah teduh yang juga kucintai karena hujan. Membiarkannya sibuk menerka-nerka sendiri, aku kembali bermain dengan hujan. Kali ini tidak hanya membasahi wajahku, hujan telah membasahi seluruh tubuhku.

 

"Ya Tuhan, apa kau sudah gila? Bagaimana jika nanti kau terserang flu?,” Dia menarik lenganku, mencoba melindungiku dari hujan. Tetap saja gagal, karena hujan menyambar ke arah kami dengan deras, dan aku menyukainya.

 

"Karena hujan menghapus semua kebencianku," aku berucap, pelan. Kepalaku tertunduk, aku tidak berani menatapnya. Lelaki itu menoleh. Aku tahu, jawabanku akan membuatnya terkejut. Aku yang dia kenal adalah aku yang tidak pernah membiarkan kosa kata benci menetap dalam kamusku, bahkan aku tidak membiarkan diriku ingat sedetikpun bagaimana untuk membenci sesuatu.

 

"Masa laluku, aku membencinya. Jika saja Tuhan tidak mengirimkan hujan ke bumi, aku tidak akan bertemu denganmu, aku tidak akan menjadi aku seperti yang sekarang ini. Tapi Tuhan Maha Adil, Dia mengirimkan hujan untuk memperbaiki semua."

 

Hening. Lewat sudut mata aku bisa melihat ada bias bening di matanya. Aku tahu jawabanku ini akan mengejutkannya, tapi ini saat yang tepat untuk jujur, menceritakan masa laluku yang kututup rapat di salah satu sudut hati ini. Kelak itu semua akan terbuka, dan inilah waktunya.

"Aku terbiasa menghadapi semua sendiri. Bahkan untuk keputusan terbesar yang tidak seharusnya aku pikul saat itu. Kau tahu, setiap Ayah pasti mengajarkan kasih sayang dan kearifan terhadap anaknya. Tapi lain halnya dengan kasusku. Beliau memang mengajari kami, bukan untuk mencintai tapi untuk membenci. Kekerasan dikenalkan sebagai solusi untuk memecahkan masalah, mengucapkan kata-kata kotor adalah cara yang paling tepat untuk melampiaskan kemarahanmu. Jiwa kecilku belum mengerti tentang semuanya, sehingga aku hanya bisa menilai bahwa itu adalah hal yang lumrah ketika seorang pria menjadi pemimpin dalam keluarganya."

 

Lelaki itu membenarkan letak kacamatanya. Tak sepatah pun kata terucap saat itu.

 

"Ibu adalah satu-satunya orang yang bisa menetralkan semua keadaan itu. Meski sangat sering beliau mendapatkan gilirannya sendiri dari pukulan dan makian ayah. Pernah suatu ketika, ada tetangga kami yang meninggal, ibu berencana untuk pergi melayat, tapi ayah yang saat itu sedang sakit keras malah memulai makiannya lagi. Ibu difitnah telah melacur, melayani siapa saja laki-laki yang pergi dengannya."

 

Aku sudah tak mampu membendungnya lagi. Bersamaan dengan langit yang menangis, airmata pun menciptakan alirannya sendiri di wajahku. Aku tergugu. Berusaha untuk kembali tenang, aku pun melanjutkan kisahku.

 

"Itulah saat dimana pertama kalinya ayah dan ibu bertengkar hebat. Ibu yang selama ini sangat sabar menghadapi sikap ayah, malam itu menjadi orang yang sama sekali tidak ku kenal. Tanpa menghiraukan kami yang masih kecil, ayah memaki ibu dengan kata-kata yang mungkin tidak akan pernah ku lupakan. 'Pelacur'. Wanita suci itu difitnah! Ibu pun tidak mau kalah, beliau malah balik menyerang ayah dengan kata-kata yang mungkin beliau kira sebagai bentuk perlawanan dirinya.

 

Kau tahulah, wanita mana yang bisa bersabar ketika difitnah melakukan sesuatu yang keji seperti itu. Entah, jika dia malaikat?! Aku merasa saat itu keluarga kami akan berantakan. Bahkan ibu meminta haknya untuk bercerai dari ayah. Tidak hanya itu, ibu juga menyebutkan semua kegagalan ayah sebagai pemimpin keluarga, ayah yang tidak pernah lagi menafkahi kami selama 6 bulan, ayah pengangguran yang bersikap bak Raja dengan kami budaknya.

 

Kau tak akan percaya, ayah bahkan pernah melempar mangkuk berisi masakan yang sudah susah payah dimasak ibu, hanya karena aku terlambat menyendokkan nasi ayah dari periuk. Imbasnya, ibu mendapatkan bekas lima jari di pipi kirinya. Aku tidak tahu, apa aku berhak merasa malu saat itu? Para tetangga mencoba melerai pertengkaran orangtua kami. Aku, abang, dan adik-adik hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa untuk ibu."

 

Diam. Yang terdengar hanya suara nafas kami yang tertahan diselingi suara detak jarum jam tangan. Dia masih tertunduk.

 

Meski sudah dilerai tetangga, hari-hari selanjutnya pertengkaran antara ayah dan ibu tetap tidak bisa dihindari, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele. Perlahan, ada sesuatu yang terpatri dalam hatiku. Seolah ada pemahat yang mengukirnya dengan jelas, 'Lelaki mana pun yang kau jumpai, tak satu pun dari mereka yang baik. Semuanya kejam bak penjajah. Aku bahkan mengikrarkan tidak akan menikah hingga ibu meninggal. Karena aku tidak pernah rela jika surga untukku yang berada di telapak kaki ibu harus berpindah ke tangan orang yang sama sekali tidak pernah kukenal sebelumnya'.

 

Aku tidak akan pernah rela jika surga itu harus berpindah. Ibu lebih berhak untuk semuanya dibanding laki-laki yang akan menyiksaku sesaat setelah Ijab-Qabul terucap. Aku trauma akan pernikahan. Tahun-tahun selanjutnya ku jalani dengan kebencian akan makhluk bernama laki-laki. Dengan ayah pun, kami hanya berbicara ketika ada hal yang sangat mendesak. Ibu mengambil alih posisi ayah dihatiku, bagiku saat itu hanya ada satu orang tua dengan fungsi ganda. Ibu, sebagai ibuku dan juga ayahku.

 

Air mata itu kini mengalir deras. Tak terbendung. Betapa dulu aku menjadi durhaka karena hal yang tidak aku mengerti.

 

"Kau tahu, bahkan aku pernah berucap, akan lebih baik jika kami betul-betul tidak memiliki ayah. Akan lebih baik jika kami hanya hidup bersama ibu. Meski ada ayah, aku tak merasakan bahwa aku memilikinya. Dialah keluarga yang menjadi orang asing bagiku. Watakku yang awalnya penurut, berubah menjadi pembangkang. Seiring bertambahnya usia, aku pun mulai bisa memahami semuanya, aku mulai berani membantah kata-kata ayah, aku mulai berani menentang ayah, bahkan aku berani meninggikan suaraku terhadap ayah jika ada sikapnya yang tidak aku suka. Semuanya berubah, kecuali satu hal."

 

"Apa itu?" suara itu akhirnya mengeluarkan aksaranya.

 

"Abangku. Sejahat apa pun tingkah ayah terhadap kami, abang tetaplah orang yang sama. Abang yang penurut, yang tidak pernah membantah, abang yang hanya akan diam atau menangis ketika dimaki ayah. Abang yang berusaha menempatkan posisinya sebagai pengganti sosok ayah yang kami rindukan. Abang yang selalu membanggakan orangtua, entah itu prestasinya dalam akademik ataupun tingkah-lakunya keseharian."

 

"Jadi apa hubungannya sikap abangmu dengan kecintaanmu terhadap hujan?" dia bertanya, mendesakku untuk memberikan jawaban terakhirnya.

 

"Lima tahun berlalu sejak kejadian hebat dirumah, saat aku berumur 17 tahun, selepas Sekolah Menengah Umum, aku pun mulai menyiapkan diri untuk memasuki universitas. Abanglah yang membimbingku, membantu semua persiapanku untuk menapak awal baru dalam hidupku sebagai mahasiswi. Malam itu, sebelum keberangkatanku esok pagi, abang mengajakku bicara. Beliau memintaku untuk bersikap lunak pada ayah, merendahkan diri sebagai anak, memohon maaf atas semua perlakuanku yang tidak pantas terhadap ayah. Awalnya aku menolak, tapi abang memang orang yang bijaksana, kehidupan menempanya untuk itu."

 

"Kenapa dengan abangmu?" lelaki itu mendesak lagi.

 

"Beliau tahu ada rasa benci dalam diriku yang tidak mungkin bisa dihapus dalam sesaat. Rasa benci itu teramat dalam, teramat tebal untuk bisa dibersihkan. Malam itu beliau mengajakku bermain hujan. Aku tidak mengerti dengan tingkahnya, tapi aku manut karena bagiku beliau bukan hanya abang tapi sosok ayah impianku. Saat itulah abang mengucapkan hal yang tak pernah terpikirkan oleh otak tumpulku. Aku ingat, malam itu semuanya berakhir. Bahkan aku bertekad akan berubah lebih baik, tidak akan pernah membiarkan rasa benci menghinggapi diriku, hanya akan ada kasih sayang dan cinta, untuk siapa pun itu."

 

"Apa yang diucapkan abangmu?". Ah lelaki, kau memang tidak bisa bersabar barang sedetikpun.

 

"Saat hujan turun, tengadahkan wajahmu ke langit. Biarkan butiran lembut itu membasuh wajahmu, membasuh seluruh tubuhmu. Biarkan ia menyentuh bagian terdalam dari dirimu, biarkan ia meresap melalui pori-pori kulit mu, menyentuh hatimu. Percayalah, semua kebencianmu akan terkikis dengan sendirinya. Hati yang telah lama kau biarkan mati itu akan hidup kembali, karena ia menemukan hakikatnya. Untuk mencintai dengan kelembutan."

 




• Cerpen Terkait