Sastra Budaya › Cerpen


Orang gila

Sabtu, 28/09/2013 WIB | Oleh : Febta Salati Sari

Semua orang Kampung Kumbo tahu bahwa Tiur itu orang gila. Pakaian compang- camping. Rambut keritingnya yang tidak beraturan. Ekspresi wajahnya yang bingung memang menggambarkan bahwa Tiur itu memang gila. Berkelana dengan kaki telanjang. Hidup di jalanan, bahkan tidak jarang tidur di kuburan. Semua itu biasa dilihat oleh masyarakat kampung Kumbo pada Tiur.

 

Menurut cerita dari mulut ke mulut, Tiur gila karena tertekan perasaan. Dulu Tiur adalah gadis cantik yang baik. Ia pernah menikah dan memiliki dua orang anak. Sang suami sering selingkuh dan suka keras padanya. Tiur sering dipukulinya. Perceraian terjadi. Anak-anak Tiur dibawa oleh suaminya pergi dan tidak boleh bertemu dengannya lagi. Tiur sering mencari-cari anaknya. Beberapa bulan berlalu tersiar kabar di Kampung Kumbo bahwa anak Tiur sudah dijual oleh suaminya. Mantan suaminya itu lalu pergi ke malaysia. Tiur sangat sedih. Ia tidak bisa terima semua itu. Ia pun mulai sering mencari anaknya dari rumah ke rumah warga. Akhirnya Tiur pun menjadi gila. Itulah menurut cerita Ibu padaku.

 

Tiur tinggal sendiri di rumah Sako setelah ia gila. Sedangkan saudara-saudaranya yang lain tinggal di rumah mereka masing-masing. Keluarga Tiur bisa dikatakan cukup berada bahkan ada yang punya mobil mewah. Mereka bukan tidak mau memperhatikan Tiur. Tiurlah yang memilih hidup sendiri di jalanan. Tiur dulu pernah di rawat di Rumah Sakit Jiwa namun setelah sembuh dan pulang Tiur kembali kepada kebiasaannya. Melakukan kebiasaan orang gila.

 

Tidak ada yang istimewa dari Tiur. Selain tidak terurus, tubuh kurus dan dekil membuat Tiur sering diolok-olok anak kecil sambil mengatakan “Orang gila, orang gila, orang gila,” lalu Tiur marah dan memaki anak-anak itu sambil berteriak. Dikejarnya anak-anak itu dan mereka pun lari terbirit-birit. Begitulah yang sering terjadi antara tiur dan anak-anak di kampungnya. Kehidupan Tiur berjalan seperti orang gila yang lainnya. Namun kini kabar tentang Tiur menjadi gempar dan menciptakan cerita luar biasa.

 

“Perut Tiur buncit,” ujar Ibu Inok di saat mereka sedang bercengkrama di kedai sayur Etek Nur.

“Tiur mungkin hamil ya Bu Yoyo,” ujar Mardiah menimpali sambil mengusap-usap perutnya yang juga sedang hamil tujuh bulan itu.

“Tidak mungkin ia hamil. Siapa juga yang mau menghamili orang gila,” balas Bu Yoyo.

“Tiur tidak punya suami lo,” ujar Ibu Imah menanggapi pula

 “Siapa juga yang mau menghamili oran gila seperti Tiur itu. tidak terurus dan bau. Paling-paling juga setan kuburan,” celoteh pemilik kedai yang tidak mau kalah berpendapat.. Lalu disambut tawa oleh ibu-ibu yang lain.

 

Pada kenyataannya perut Tiut memang membesar dari hari ke hari. Walaupun demikian tidak menghambatnya untuk berkeliling dengan kaki telanjangnya. Kebiasaannya masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah pada kebiasaanya. Yang berubah hanya kini perutnya yang semakin besar dan sedikit kurus. Tidak ada yang tahu siapa yang telah menghamili Tiur. Untuk bertanya langsung pada Tiur tentu sangat sulit jika ingin mendapat jawaban yang diinginkan. Biasanya kalau ditanya Tiur hanya diam dan kadang tertawa terbahak-bahak.

 

Hari itu aku dan Ibu tiba-tiba mendengar suara tangis dari rumah sebelah. Rumah itu rumah Tiur. Aku dan Ibu lalu berlari menuju ke rumah Tiur  dan benar saja dugaan kami. Tiur melahirkan. Darah berceceran di lantai. Kondisi Tiur sendiri begitu pucat namun ia langsung bisa berjalan. Hujan cukup lebat dan Tiur sedang memandikan bayi yang baru lahir di tengah-tengah hujan di depan pintu belakang rumahnya. Tangis bayi itu tentu saja begitu keras.

 

“Astaga! Tiur apa yang kamu lakukan!” Teriakan  Ibu sangat keras karena terkejutnya. Seketika diambilnya bayi itu yang kini membiru kedinginan. Lalu dibungkusnya dengan kain yang ada. Tiur diam saja tampak dari wajahnya bahwa ia sangat lelah dan aku diam terpaku.

“Ara jangan diam di situ saja!”  teriakan Ibu tiba-tiba membuyarkan keherananku “Cepat pulang ambil kain bersih di lemari Ibu untuk membungkus bayi ini.”

 

Aku berlari. Galau, ragu, cemas dan haru semuanya menjadi satu. Aku lari, lari sekuat tenaga. Tiur melahirkan bayi anak setan kuburan. Aku bingung dan cemas. “Ya Tuhan, tolonglah,” bisiku dalam hati. Aku membuka lemari ibu. Aku ambil kain putih bersih di sana. Kata orang setan takut dengan yang putih. Semoga saja anak yang baru lahir tadi tidak diganggu oleh bapaknya si setan kuburna, begitu pikirku. Kupegang kuat dan dengan langkah seribu aku kembali ke rumah Tiur.

 

Ibu lalu membungkus bayi perempuan kecil itu dengan kain yang kubawa itu. ia masih menangis. Ibu lalu memintaku untuk mencari susu di kedai terdekat dari rumah kami. Sekilas kulihat Tiur. Ia sudah dibersihkan oleh Ibu. Kini ia berbaring lemah dan diam di sofanya yang berantakan. Ibu juga memintaku memberi tahu keluarga yang lain supaya bisa ikut membantu.

 

Aku berlari ke kedai Pak Jon. Kuceritaan pada penghuni kedai bahwa Tiur melahirkan sendiri. Kampung Kumbo heboh. Benar-benar gempar. Seorang bidan dipanggil untuk memeriksa kondisi Tiur. Syukurkah Tiur tidak apa-apa. Anaknya pun dalam keadaan sehat. Setelah diberikan susu sang bayi  tertidur dan bedannya yang membiru sudah berkurang.

“Ajaib. Hebat sekali Tiur bisa melahirkan sendiri” ujar Nono Bapak ketua  RT

“Siapa Bapak anak ini ya?” Tanya Bapak yang berkumis tebal disampingnya.

“Mungkin anak setan kuburan tempat Tiur sering tidur,” ucap Pak Didi sambil berbisik.

“Stt, kualat nanti,” Pak Dono menimpali

 

Walaupun sambil berbisik. Rasa ingin tahu warga tentang siapa Ayah dari anak Tiur cukup terdengar olehku. Kulihat Tiur, ia diam saja. Entah apa yang difikirkannya. Ingin rasanya aku mendekat dan bertanya tentang apa yang ia rasakan sekarang, namun rasanya itu percuma saja. Toh Tiur tidak bisa diajak untuk berbicara dengan mencari sebuah kenyataan seperti orang  waras.

 

Kudekati bayi yang sudah tertidur itu. Beberapa helai rambut yang tumbuh keriting seperti Tiur. Kupandangi wajah bayi itu, perlahan dan dalam. Bayi yang kuat. Ia pasti menjadi wanita kuat nantinya karena hidup menuntutnya menjadi kuat. Lalu siapa ayahnya?  Kupandang hidungnya, matanya, pipinya. Wajah bayi itu mengingatkanku pada seseorang. Aku terpaku. Ia begitu mirip dengan seseorang. Teman sekamar Ibuku. Sejenak aku tertegun, begitu dalam. Keluarga kami memang sering menjenguk Tiur. Selain kami bertetangga, Ayah dan Ibuku adalah orang yang paling perhatian pada Tiur. Paling tidak untuk memberikan nasi untuk Tiur. Supaya Tiur tidak kelaparan. Ayahku juga sering menjenguk Tiur jika Tiur sedang di rumahnya. katanya kasihan pada Tiur karena tidak ada yang member nasi. Kuakui bahwa kamilah yang paling dekat dengan Tiur.




• Cerpen Terkait