Sastra Budaya › Essay


UIN : Resolusi Global

Sabtu, 28/09/2013 WIB | Oleh : Nofel Nofiadri

Belakangan ini kepala kita dipenuhi oleh berita-berita tentang konflik di Timur Tengah, ancaman senjata biokimia, ancaman nuklir, perubahan iklim, pemanasan global, dan bencana alam. Untuk skala nasional, kebobrokan moral pelaksana Negara ini merupakan masalah serius yang berakibat langsung terhadap kenyamanan hidup kita sehari-hari. Menurunnya volume air sungai yang dipergunakan sebagai pembangkit listrik ternyata ada kaitannya dengan berkurangnya wilayah hutan. Hutan ditebang atau dibakar untuk membuka perkebunan sawit misalnya. Lalu, mati lampu bergilir adalah akibatnya. Konflik global dan peperangan mempengaruhi harga minyak internasional, dan untuk satu liter minyak kitamembayar lebih mahal dari biasanya.  Mengapa dunia ini semakin  tidak nyaman?

 

Terjadinya permasalahan global seperti misfungsi ilmu, perang, kemiskinan, dan kerakusan serta bencana alam yang berdampak buruk terhadap manusia tidak terlepas dari peran manusia itu sendiri. Orang yang berilmu seperti Einstein telah merumuskan formula dari kemajuan ilmu fisika, namun kemudian formula itu membunuh rakyat jepang. Sekitar 2000an orang mati karena bom atom  tersebut baik yang disebabkan oleh ledakan, radiasi, dan atau penyakit yang disebabkannya (kangker dan leukemia). Ahli kimia menghubungkan satu zat dengan zat lain kemudian terwujudlah bahan peledak yang dapat membongkar  palung minyak, bahkan membunuh manusia seperti peristiwa 11 September di WTC. 3000an orang terbakar TNT dan C4.  Biokimia dipelajari, kemudian terciptalah narkoba. Banyak saudara kita mati sia-sia. Sungguh banyak hal yang sama terjadi baik di sudut kota London, Mexico City, Havana, atau Kota Padang tercinta, bahkan di pedalam 50 Kota. Banjir, tsunami, topan dan gempa bumi juga mengurangi jumlah penduduk dunia. Tentu hal ini ada kaitannya dengan apa yang sedang dilakukan manusia. Manusia secara global dengan latar belakang ilmu dan agama yang beragam.

 

Globalisasi memang menjadikan jarak semakin dekat dan waktu semakin singkat. Begitu juga pengaruh kebaikan dan pengaruh keburukan, bisa datang dengan cepat. Manusia adalah aktornya dan teknologi adalah wadahnya.

 

Teknologi diciptakan dan berinovasi dengan cepat. Sarat dari setiap kemajuan teknologi adalah ketergantungan yang sangat besar terhadap sumber energi. Setiap teknologi yang maju saat ini adalah yang berbasis listrik/elektro. Handphone,  komputer pribadi, lap top, tab, note book, magic com, dispenser, setrika, mobil, motor, televisi, radio, kalkulator, kompor, dan lain sebagainya, sangat tergantung kepada sumber energi. Sumber energi itu dapat berupa listrik PLN, batrai, minyak bumi, gas alam, dan matahari. Teknologi adalah dagangan yang sangat laku baik produksi finlandia, Amerika, jepang, german, china, korea, atau produk Indonesia. Sumber energy, kemudian,  adalah dagangan yang lebih laku lagi, apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak. Dan konflik merupakan bathin dari sumber energi. Api di Timur Tengah, api di Afrika, api di Riau, api di Venezuela, semakin panas sampai ke rumah kita. Perebutan sumber energi adalah penyebab perang dan pembodohan. Untuk beberapa bangsa, sumber energy adalah anugerah, untuk bangsa lain sumber energi adalah pembodohan, kelaparan, dan kematian. Perang terbesar hari ini adalah perebutan sumber energi. Rakus.

 

Begitu luas bumi ini untuk dikelola yang sejatinya demi kemudahan hidup manusia, tapi apakah pengelolaan itu berakibat semakin dekat dengan Tuhan atau semakin jauh dari Tuhan. Atau di satu pihak itu anugerah, tapi di pihak lain itu musibah. Memang di zaman IT (ai-ti) tidak ada lagi nabi.

 

Kita sepertinya telah melewati era agraris, telah melewati zaman industry, dan sedang berada pada era Informasi dan Teknologi. Kemajuan teknologi dan system informasi merobah pola kehidupan manusia di dunia. Diharapkan memperbaiki kehidupan manusia, meski ada ancaman dibalik itu. Kehadiran ustadz Google sangat membantu banyak orang.  Banyak jenis pekerjaan baru yang ditimbulkan dari kemajuan internet dengan system yang lebih gampang dan terkendali. Sistem perbankan, marketing produk, pertahanan, dan pendidikan dapat berjalan lebih efisien dan effektif. Kita dapat berbelanja dari  dalam bilik sendiri. Memilih produk yang diinginkan, kemudian memesannya melalui website yang tersedia berkat kemajuan IT. Membayar produk dengan kartu kredit secara online. Jasa kurir akan mengantarkan langsung ke rumah, ke pintu masuk. Pustaka juga berbasis IT. Jika ingin mengetahui  dan mencari informasi, tinggal buka search engine (mesin pencari pada layanan internet). Penguasaan dan kepemilikan informasi menjadi faktor yang sangat berarti hari ini. Facebook mampu menghubungkan kita dengan siapa saja di mana saja, dan dapat berkomunikasi dengan banyak orang pada waktu yang sama. Inilah semangat IT. Jarak semakin dekat, waktu semakin singkat. Sungguh menabjubkan. Orangorang bisa memiliki kehidupan kedua dalam dimensi IT. Farmville, HoldEm Pocker, Facebook, Tweeter, Point Blank, dan beberapa dunia virtual lainnya adalah dimensi yang menyenangkan.

 

Namun ada hal lain dibalik kemajuan kebudayaan manusia hari ini. Perang semakin hebat karena kemajuan teknologi dan system informasi. Dengan system keuangan elektronik, maka pasar semakin luas dan beresiko tinggi. Jika pemilik modal besar sedang murung dan menarik sahamnya dari pasar global, maka beberapa saat saja Negara-negara tempat saham itu ditanam dapat mengalami krisis ekonomi. Jika seorang jendral sedang kehilangan kegiatan, dari komputernya dapat diluncurkan rudal.  Jika gps-nya tertera 0°57’0”LU 100°21’11”BT / 0,95°LS 100,35306°BT, maka Kota Padang akan hangus. Media massa dengan mudah mengontrol opini dan persepsi masyarakat dengan pemberitaan yang simultan dan menjadi alat produksi nilai yang mumpuni. Benar dan salah bukan dalam ukuran Tuhan tapi dalam ukuran pasar. Siapa yang dapat menolak? Kemajuan peradaban sudah sampai ke bilik kita masing-masing.

 

Kemajuan pemikiran manusia dengan produk-produknya ternyata tidak saja menjadikan manusia lebih baik dalam kehidupannya tapi juga sebaliknya. Ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini lebih banyak memberikan kerugian kepada manusia pada satu kondisi. Senjata Kimia, Narkoba, dan Peledak adalah bentuk kemunduran dari kemajuan pemikiran manusia. Zat pengawet makanan dan Pupuk kimia adalah pembunuh yang sopan. Kerusakan alam lebih cepat terjadi didukung oleh peralatan yang canggih dan besarnya nafsu manusia. Kebencian antar suku dan bangsa lebih banyak disebabkan oleh keinginan menguasai sumber energi. Globalisasi ekonomi sangat mendukung kapitalisasi yang berorientasi keuntungan materil sebesar-besarnya tanpa mempertimbangkan kemanusiaan dan kelestarian alam.

 

Pelakunya tetap manusia. Manusia yang memiliki pendidikan tinggi, tapi tidak mengenal Tuhan, bahkan membelakangi Tuhan. Manusia yang berkemajuan dalam bidang ilmu tapi tidak beragama sehingga menciptakan kehancuran di muka bumi. Untuk itulah agaknya UIN Imam Bonjol dibutuhkan oleh mereka yang sejak lahir dibesarkan dalam beragama. Kita butuh ahli fisika, ahli kimia, ahli kedokteran, ahli IT, ahli ekonomi, sosiolog, antropolog dan ahli lingkungan serta ahli bahasa yang memiliki aqidah Islam nan kuat.

 

Penulis Adalah Dosen Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol Padang

 




• Essay Terkait