Sastra Budaya › Cerbung


Suara Hutan Rimba (IV)

Kamis, 13/02/2014 WIB | Episode : 4 | Oleh : Bustin

“Ohhhh! Astaga !” elang bergumam dalam hati.

“Apa yang terjadi pada anak kambing itu!?” hewan-hewan yang berkumpul di dekat batu besar itu bertanya-tanya dalam hati. Si Singa dan rombongannya pun kian dekat.


“Ooo, kalian sudah berkumpul semua ya? Hahhaa,” singa tertawa lepas.


Bangau kesal melihat tingkah Si Singa. “Apakah dia tidak tahu malu? Sudahlah telat, masih saja tertawa,” gerutunya. Batinnya bergemuruh tak menerima tingkah Si Singa. Berbeda dengan Si Kancil. Ia justru terlihat santai saja dengan tingkah singa itu, bahkan Si Kancil turut menyambung tawa Si Singa.


“Ha ha ha ha!” Si Kancil gelak, “Benar Tuan Singa, sedari tadi kami telah menunggu tuan disini. Ada apa gerangan Tuan Singa bisa terlambat?”


Pertanyaan si Kancil membuat muka Si Singa yang tadinya tegap, kini terlihat lesu. Bak sayur segar yang disiram air panas. Lambat-lambat terdengar juga jawaban si Singa.


“Hmm, aku baru saja menyelamatkan anak kambing itu,” Si Singa melempar pandangannya kepada seekor anak kambing yang terkulai dan sedang dipikul oleh keledai, “Entah siapa yang menerkamnya. Ia sudah terbaring lemas dan tak bernyawa ketika aku menemukannya,” jelas Si Singa seakan menyesali dirinya karena ketidaktahuannya siapa yang telah melukai anak kambing itu.


Si Bangau yang sedari tadi kurang menyukai sikap Si Singa, mencoba menyelidiki kebenaran perkataan Si Singa. ”Benarkah yang kau katakan itu wahai singa?” tanyanya.


Si Singa geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Si Bangau seraya mendecak, “Ck ck ck ck. ”Tentu saja perkataanku itu benar. Tanya saja pada si Kambing ini!” Si Singa menyikut seekor kambing di sampingnya.


Bagaikan tersentrum aliran listrik, kambing yang disikut langsung tersentak. Singa senyum menyeringai padanya. Membuat kambing itu  gemetaran. Namun, Si Kambing tahu betul apa maksud dari sikap Si Singa itu.


“Be benar. Apa yang di sampaikan Tuan Singa itu benar. Saya sendiri yang melihatnya tadi,” ujar Si Kambing. Entah karena panas, entah karena apa, serta merta keringat Si Kambing bercucuran di sekujur tubuhnya. Beberapa menit kemudian, seekor kambing, adik dari Si Kambing mendekatkan mulutnya pada kakaknya itu.


“Bukankah kita berdua melihat Tuan Singa menerkam anak kambing itu, Kak?,” Adik Si Kambing itu berbisik di telinga kakaknya.


“Sudahlah! kau tenang saja!,” balas Si Kambing kepada adiknya.


Sementara itu lebah, kerbau, kalibri dan kupu-kupu mulai curiga dengan tingkah Si Kambing. Sepertinya ada yang tidak beres. Baru saja lebah akan bertanya kembali, Si Singa keburu tertawa keras.


“Ha ha ha ha!”, mengapa suasana jadi seperti ini? Apakah karena anak kambing yang mati itu!?” tanya Si Singa kepada seluruh hewan, “Jangan terlalu kalian pikirkan anak kambing itu. Toh dia suda mati. Kita tak bisa berbuat apa-apa. Bukankah kita berkumpul disini untuk menyepakati siapa yang akan memimpin kegiatan kita dalam menjaga kelestarikan hutan kita yang mulai gersang ini!?” Si Singa memperhatikan wajah hewan lainnya secara bergantian. Beberapa hewan menghela nafas panjang. Satu persatu dari mereka merubah posisi duduk mereka dengan melingkari batu besar. Itu pertanda mereka sepakat untuk memulai rapat.


“Hai Kancil!” panggil Si Singa.


“Ya Tuan Singa. Ada apa gerangan tuan memanggil saya?”


“Aku tau kau hewan paling cerdik. Karena itu aku minta kau yang memimpin rapat ini,”


“Baik tuan,” Si Kancil tersenyum mendengar pujian Si Singa.


“Tunggu sebentar” ujar Si Singa, kemudian memandang muka Si Kancil lekat-lekat. Si Kancil jadi terheran-heran. Akhirnya ia beranikan diri untuk bertanya.


 “Ada apa gerangan tuan memandang saya seperti itu?” tanya kancil.


“Oh! Tak ada apa-apa. Aku hanya sedang memastikan kalau kau memang cocok jadi wakilku. Tentunya kalau aku terpilih jadi pemimpin di hutan ini,” jawab Si Singa sedikit berbisik. Mendengar perkataan singa itu Si Kancil pun semakin girang.

Bersambung…




• Cerbung Terkait
Suarakampus