Sastra Budaya › Cerbung


Suara Hutan Rimba (V)

Sabtu, 01/03/2014 WIB | Episode : 5 | Oleh : Bustin

Siang pun berganti sore. Cuaca yang tadinya panas menyala, kini mulai redup. Angin sore bertiup dari arah selatan. Kehadirannya membuat dedaunan kering berguling-guling di tanah kecoklatan ini. Sementara itu, rapat perwakilan hewan-hewan hutan belum juga selesai. Lima jam sudah rapat tersebut berlangsung, tetapi belum ada kata sepakat diantara mereka. Palu pun beberapa kali harus mengurungkan niatnya untuk menyentuh landasan. Tiap kali palu akan diketuk, ada saja yang menghentikannya.

 

Mereka terkesan saling bersitegang dengan pendapat masing-masing. Bak menyemburkan hawa panas, begitulah komentar-komentar mereka dalam rapat. Suasana pun terlihat kian panas dan semakin menggerahkan.

 

“Bagaimana mungkin kegiatan pelestarian hutan ini dipimpin oleh hewan kecil seperti kau! Pastilah manusia yang pintar itu semakin leluasa membabat hutan ini!” bentak Si Singa kepada Si Lebah. Si Singa membelalakkan matanya.  Muka sangarnya merah menyala.

 

“Bukankah aku berperan besar terhadap kesuburan bunga-bunga di hutan ini? Karena akulah bunga bisa bermekaran dan karena aku juga pohon-pohon berbuah! Apa salahnya jika aku yang memimpin kegiatan kita nanti!?” balas Si Lebah membela diri.

 

“Tetap saja keamanan di hutan ini hanya akan terjaga karena ada aku! Kalau aku tak ada, kalian sudah pasti mati!” Si Singa kembali membentak.

 

“Sudah! Sudah!” Si Kancil menengahi, “saya rasa alasan Tuan Singa cukup penting untuk kita pertimbangkan. Jadi…”

 

“Saya izin bicara pimpinan rapat!” belum selesai Si Kancil melanjutkan ucapannya, Si Kerbau Gemuk mulai angkat bicara.

 

“Silahkan!”

 

“Saya rasa yang pantas jadi pemimpin adalah saya sendiri. Selain tubuh saya besar, maaf, termasuk jika dibandingkan dengan Si Singa, saya juga punya pengaruh terhadap kesuburan tanah di hutan ini…,”

 

“Bagaimana mungkin kaupunya pengaruh!?” Si Kancil langsung menyanggah.

 

“Kaulihat saja. Bukankah tumbuhan yang dekat dengan kotoranku lebih cepat tumbuh dibanding yang lain? Kotoranku telah menjadikan tanah di hutan ini menjadi subur,” ujar Si Kerbau Gemuk itu lagi. Mendengar alasan Si Kerbau Gemuk, singa langsung membalasnya tanpa izin dulu pada Si Kancil.

 

“Apakah kauyakin bisa menjaga hutan ini kalau manusia datang membabat pohon!?” ujar Si Singa menantang.

 

“Hei! Apa-apaan engkau ini Singa!? Kita ini sedang rapat, bagaimana boleh kaubicara tanpa mohon izin dulu!” sanggah Si Kupu-Kupu.

 

“Bukankah engkau sama saja!” Si Singa menggertakkan giginya.

 

“Baiklah,” Si Kupu-Kupu lanjut bicara, “saya mohon bicara!”

 

“Silahkan!” balas Si Kancil.

 

“Menurut saya, sayalah yang pantas memimpin kegiatan kita dalam melestarikan hutan ini. Selain saya punya peran seperti  lebah, saya juga punya kelebihan yang lain,” Si Kupu-Kupu mengepakkan kedua sayapnya.

 

“Apa kelebihanmu?” tanya Si Kancil.

 

“Seperti yang kalian lihat, fisik saya lebih indah dari pada kalian, bermacam-macam pula warnanya. Tanpa aku, hutan ini akan terlihat kusam. Karena akulah hutan ini jadi lebih hidup dan berwarna,” ujar Si Kupu-Kupu sembari melenggok-lenggokkan tubuhnya bak miss universe yang tengah bergaya di atas panggung.

 

“Tapi secantik-cantiknya kau, kaumudah sekali dikelabui. Buktinya kausering dikelabui oleh beberapa temanku yang cerdik, ha ha hah!” Si Kancil tertawa disambut gelak peserta rapat yang lain.

 

“Sudahlah ! Pilih aku saja !”

Bersambung…




• Cerbung Terkait