Sastra Budaya › Essay


Agama Tiang Pendidikan Berkarakter

Sabtu, 29/03/2014 WIB | Oleh : Vivi Gustia

Negara maju tentu tidak lepas dari dunia pendidikan. Semakin tinggi kualitas pendidikan suatu Negara maka semakin tinggi pula kualitas sumber daya manusia yang dapat memajukan dan mengharumkan negaranya. Sebenarnya tidak ada yang membedakan suatu sumber daya manusia dinegara maju degan sumber daya manusia di negara berkembang. Yang menjadi pembeda hanyalah cara mendidik sumber daya itu sendiri.

 

Bila kita melengok kepada sistim pendidikan di negara maju, tentu sangat jauh berbeda, bagai langit dan bumi bila sistim pendidikan di sana dibandingkan dengan di negara yang bernama Indonesia.

 

Memang sangat mengiris hati bila berbicara tentang pendidikan di Indonesia. Bila kita melek kepada sejarah, jauh sebelum dunia melenium datang, Indonesia merupakan negara dengan pendidikan terbaik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa asing yang datang ke Indonesia guna menuntut ilmu pengetahuan di negeri Garuda ini.  Sebut saja itu negara-negara tetangga, Malaysia, Singapura, dan Negara tetangga lainnya.

 

Lalu bagaimanakah kondisi pendidikan Indonesia sekarang? Masihkah Indonesia diminatai oleh negara tetangga untuk menuntut ilmu pengetahuan di negeri seribu pulau ini? Tentu tidak lagi. Keadaaan telah berubah 180 derajat. Seiring dengan berkembangnya zaman dan menurunnya kualitas pendidikan di Indonesia, negeri yang terkenal kaya dengan rempah-rempahnya ini tidak lagi diminati oleh para penuntut ilmu dari negara asing.

 

Justru keadaan berubah. Keadaan sebaliknya pun terjadi. Indonesia sekarang justru mengirim para penuntut ilmu keluar negeri untuk mengkaji berbagai ilmu di negeri orang lain. Sebut saja Malaysia, Singapura, Amerika, Eropa dan masih banyak lagi negara yang diminati oleh pelajar atau mahasiswa asli Indonesia.

 

Mengutip dari berita yang dikabarkan Padang Ekspress 28 febebruari 2014 tentang kegelisahan para tetua di Sumatera Barat.  “dulu kalau ada pegawai yang berkumpul di halaman kantor luar negeri, lalu kita lemparan batu kerikil kecil, pasti kena kepala orang Minang. Karena begitu banyaknya mereka. Sekarang tidak lagi, anak-anak Minang terkendala masuk Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), utamanya karena rendahnya kemampuan bahasa Inggris mereka.” demikian tertera di berita itu.

 

Tentu hal tersebut tidak mengherankan bagi kita. Bila menengok kepada pendidikan Indonesia sekarang, hal seperti itu wajar saja terjadi. Berbagai tawuran antar pelajar, krisisnya moral pelajar, sehinga badan perlindungan anak pernah mengeluarkan hasil penelitian yang sangat mengejutkan, hampir 90 persen pelajar di tingkat SMP-SMA sudah tidak perawan lagi, merupakan salah satu bukti sistim pendidikan Indonesia menurun drastis.

 

Dengan data yang didapat dari penelitian tersebut, sungguh sangat mengiris hati. Negara yang dulu didatangi banyak negara untuk menuntut ilmu, sekarang sirna, berganti dengan negara yang memiliki sistim pendidikan terburuk. Ditambah lagi dengan kabar yang selalu ditayangkan setiap akhir tahun ajaran. Siswa dan orang tua mereka menangis karena anak-anak mereka tidak lulus Ujian Nasional (UN) yang diadakan negara. Bahkan tidak sedikit UN ini menelan korban jiwa. Mulai dari frustasinya pelajar menjelang UN, hingga yang berujung pada kematian.

 

Siapakah yang pantas disalahkan dalam persoalan ini? Apakah pelajar itu sendiri? Orang tua? Atau pemerintah? Menteri pendidikan? Kurikulum?  Atau president sekalipun? Tentu tidak. Semua pihak bertanggung jawab atas pendidikan yang ada di negeri yang dikelilingi laut ini. Lalu apakah salah satu upaya yang dilakukan oleh para pengamat pendidikan untuk megembalikan silau permata pendidikan yang ada di Indonesia? tepat sekali. Pendidikan berkarakter. salah satu sistim pendidikan baru yang dicanangkan oleh pemerintah guna memajukan pendidikan yang ada di negeri zamrud katulistiwa ini.

 

Di dunia pendidikan tidak asing lagi istilah pendidikan berkarakter. Tepat sekali, pemerintah sekarang lagi giat-giatnya untuk menanamkan pendidikan berkarakter kepada peserta didik di sekolah–sekolah, mulai dari jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai ke jenjang pendidikan menengah atas, dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga Negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan.

 

Kenapa pendidikan berkarakter itu penting? “Seorang ibu-ibu yang notabene seorang guru SD pernah mengeluhkan kekecewaannya ketika di atas bus, saat itu beliau berdiri padahal telah tua, sedangkan di atas bus tersebut banyak anak-anak muda, siswa, dan mahasiswa yang tengah duduk santainya, apa yang membuat ibu ini kecewa? Tidak satupun dari anak-anak yang duduk tadi menawarkan tempat duduk kepada ibu yang renta” inilah jawaban kalau pendidikan berkarakter itu sangat penting, agar tercipta peserta didik dengan karakter, dan moral yang baik.

 

Lalu bagaimana dengan sistim pendidikan berkarakter itu sebenarnya?, dan apakah yang membuat sistim pendidikan ini berbeda dengan sistim pendidikan sebelumnya?, sehingga pemerintah sangat bersikukuh untuk menanamkan pendidikan berkarakter kepada para peserta didik dibangku persekolahan.

 

Pendidikan berkarakter atau juga bisa disebut dengan pendidikan moral (character education atau moral education) dapat diartikan sebagai the deliberate us of alldemensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah atau madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal )

 

Pendidikan karakter bukan merupakan hal yang baru, penanaman nilai-nilai sebagai sebuah karakteristik seseorang sudah berlangsung sejak dulu kala. Akan tetapi, seiring dengan perubahan zaman, agaknya menuntut adanya penanaman kembali nilai-nilai tersebut ke dalam sebuah wadah kegiatan pendidikan disetiap pengajaran. Perum­pamaan nilai-nilai tersebut dimasukkan kedalam rencana pelaksanaan pembelajaran dengan maksud agar dapat tercapai sebuah karakter yang selama ini semakin memudar.

 

Lalu pertanyaannya “bagaimanakah cara mewujudkan pendidikan karakter tersebut?”. Pertanyaan itu akan terjawab dengan satu kata saja, yaitu agama. Kembalikan pendidikan kepada nilai-nilai agama. Terlepas meman­dang agama apa saja yang ada di Indonesia, namuan kenyataanya pelajaran agama disekolah-sekolah umum hanya dua jam pelajaran dalam satu minggu. Bila melihat kenyataan ini, tentu akan menimbulkan tanda Tanya, “bagaimana mungkin anak akan paham dengan agamanya bila hanya diajarkan dua jam selama satu minggu?”

 

Kenapa di judul penulis mengatakan bahwa “agama mampu wujudkan pendidikan berkarakter?” Agama adalah tiang kehidupan bagi manusia, termasuk para penuntut ilmu. Agama merupakan pengatur tatanan kehidupan. Buya Hamka sendiri mengatakan bahwa agama merupakan tali kekang. Tali kekang merupakan tali yang diikatkan kepada kuda agar sang kusir mampu mengarahkan kudanya. Dengan demikian agama adalah pengatur jalan kehidupan manusia agar sesuai dengan lintasnya masing-masing.

 

Namun, agama yang dimaksudkan di dalam judul ini bukan memperbanyak jam pelajaran agama, juga bukan memperbanyak mata pelajaran agama, seperti nahu, saraf, fiqih dan kawan-kawannya, hadits, tafsir, juga bukan sampai kitab gundul, juga bukan menyuruh sekolah berganti nama dengan madrasah  atau pesantren. Namun agama yang dimaksud yaitu memasukakan setiap nilai-nilai agama kedalam setiap pelajaran yang diberikan guru. Terutama nilai-nilai moral dan akhlak yang paling penting.

 

Pendidikan berkarakter bukan hanya beban dan tanggung jawab guru-guru, staff pengajar di sekolah. Menciptakan pendidikan berkarakter juga merupakan tanggung jawab orang tua terhadap anakanya. Tanggung jawab orang tua kepada anaknya bukan sekedar melengkapi sandang, pangan, dan papan sang anak. Mendidik anak dengan memiliki moral dan akhlak yang baik adalah tanggungjawab besar orang tua kepada anaknya.

 

Dalam al-Qur’an, Allah berikan contoh Lukman sebagai sosok ayah yang baik dalam memberikan pendidikan kepada anaknya. Di awal pelajarannya Lukman mengenalkan tuhan kepada sang anak. “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesunggguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezhaliman yang besar, (Q.S Luqman:13)”

 

Bila anak telah mengenal tuhannya dengan baik, semua perintah akan dilak­sanakan, sebut saja salah satunya perintah sholat. “Sholat pencegah perbuatan keji dan mungkar” Hadits ini benar adanya. Sholat bagi setiap muslim seakan menjadi bel pengingat disela-sela aktivitas. Dari penelitian penjajakan yang penulis lakukan kepada beberapa siswa sekolah dan mahasiswa, hampir sebagian menjawab jarang sholat, atau sekali-sekali, bahkan ada yang sama sekali tidak sholat. Mempri­hatinkan bukan? 

 

Padahal tiang dari pendidikan berkarakter adalah sholat. Bila anak didik telah mendirikan sholat dengan benar, niscaya secara perlahan sholat itu mampu menjadi alarm atau pengingat dalam diri dan kepribadian anak didik. Selain sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar, sholat merupakan tiang agama dan merupakan jalan penghubung antara makhluk dan khalik.

 

Adapun kesimpulan dari paragraph diatas yaitu pendidikan berkarakter adalah pendidikan yang endingnya menghasilkan peserta didik dengan karakter dan moral yang baik. Pendidikan karakter dapat terwujud dengan penanaman nilai-nilai agama kepada peserta didik. Dan itu dapat terlaksana salah satunya dengan menegakkan sholat, karena sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.




• Essay Terkait