Sastra Budaya › Essay


Membengkeli Pendidikan

Selasa, 20/05/2014 WIB | Oleh : Rendi Hakimi Sardi

Saya seorang mahasiswa, yang sedang berjalan menuju lokal untuk mendapatkan sebuah pendidikan. Di tengah berjalan, saya terhenti oleh sebuah kalimat :

“Belajarlah membunuh nak, hidup di mana saja perlu keterampilan!”

 

Persis seperti itu kalimat yang saya baca di sebelah UKM Teater Imam Bonjol Padang. Kiranya kalimat itu merasuki  otak saya, dan saya terpaksa berpikir supaya kalimat itu segera keluar sebelum menjadikan saya seorang psikopat.

 

Persepsi pertama saya mengenai kalimat itu adalah menolak, karena ada kata yang mendidik saya untuk menjadi seorang pembunuh. Persepsi kedua saya adalah menerima, karena ada juga kata yang mendidik saya untuk menjadi seorang yang terampil. Persepsi ketiga saya mengenai kalimat itu adalah campur aduk, karena kalimat itu mendidik dan menyuguhkan sebuah pengetahuan bahwa kenyataannya manusia berada di antara setan dan malaikat. Manusia berada di antara baik dan buruknya sebuah pendidikan.

 

Sebuah pepatah mengatakan, “Jika guru kencing berdiri maka murid kencing berlari”.

 

Begitulah kodratnya sebuah alam. Manusia adalah bagian alam yang berpotensi untuk meniru, belajar dan beradabtasi. Itu bukti sebuah sistem pendidikan yang memberi ruang peniruan dan peningkatan terhadap siapa saja yang dididik, tidak peduli baik atau buruk hasilnya, yang penting berkembang.

 

Berbicara mengenai pendidikan, agar lebih berarti mari kita bicara mengenai aksiologi sebuah pendidikan.

 

Pada hakikatnya, aksiologi berbicara tentang nilai guna sesuatu hal. Maka pertanyaan utama yang tak boleh luput adalah, apa gunanya pendidikan itu selain ijazah, pengetahuan, pendewasan dan pengalaman? Maka terhentilah pertanyaan kita pada empat jawaban tersebut. Pendidikan hanya menjawab sebatas simbol yaitu ijazah, selebihnya yang tiga seperti pengetahuan, pendewasan dan pengalaman. Tidak pun kita pelajari di sistem pendidikan kelas, kita bisa belajar di pasar dan membaca buku. Itu sedikit nilai guna bagi peserta didik, tak lebih spesifik hanya ijazah.

 

Selebihnya kita akan melihat apa guna pendidikan itu bagi si pendidik?.

 

Dalam banyak kasus, si pendidik katakanlah guru atau dosen menjadi sosok yang agung, pahlawan tanpa pamrih, umpama malaikat dengan segala kehebatannya yang tak terjangkau oleh murid yang masih pada tataran manusia. Begitulah agungnya mereka dengan lekat sebuah jargon ilmiah yang terbingkai oleh kerangka pahlawan.

 

Maka, guna pendidikan itu bagi si pendidik adalah, sebagai penyempurna mereka untuk menjadi pahlawan tanpa pamrih yang tak pernah salah dan tak boleh kalah.

 

Sampai pada penjelasan singkat. Kita simpulkan lagi agar lebih terasa denyut nadi pembahasan ini.

 

Negara kita memberi sebuah ungkapan pada para pendidik dengan kata pahlawan tanpa pamrih, pertanyaannya, apa yang telah diperjuangkan oleh para pendidik, dari dia menjadi seorang pendidik hingga dewasa ini.

 

Jawabannya, pasti terhenti pada pengabdian. Maka timbullah pertanyaan yang lebih rinci lagi, pengabdian apa yang diberikan oleh seorang pendidik terhadap peserta didiknya dan negara ini?

 

Jawabannya, pasti ilmu pengetahuan. Maka timbul lagi pertanyaan yang menjadi subtrak dari pembahasan ini yaitu mengukur. Apakah efektif sebuah pendidikan yang telah diberikan oleh pendidik di negara ini? Mari kita menjawab dengan jawaban tanpa apologia.

 

Jawabannya adalah “Ia” jika para pendidiknya up date dalam ilmu pengetahuan, dengan satu landasan bahwa sifat ilmu pengetahuan itu adalah berkembang.

 

Jawabannya adalah “Tidak” jika sebaliknya,  kemudian para pendidik hanya berpaham feodal dan melecut peserta didik dengan sebuah bantahan “Anda belum sarjana”. Ironis dan sangat feodal.

 

Berlari kita untuk mengejar sebuah fakta dari dua ungkapan kemungkinan di atas. Para pendidik berada  di antara keduanya. Si pembaca akan menyimpulkan sesuai dengan lecutan yang didapatkan di bangku sekolah atau bangku kuliah masing-masing.

 

Ada sesuatu yang menarik di negara ini mengenai pendidikan. Kuat kohesinya hubungan antara pengangguran dengan orang yang berpendidikan (sarjana). Terletak pada sebuah sistem dan tata cara negara memandang sesuatu dari sebuah efek sebab-akibat. Negara mengkuantitaskan atau menghitung angka pengangguran itu berpedoman kepada titel yaitu ijazah. Mereka yang mempunyai ijazah dan kemudian tidak bekerja, maka mereka mendapat sebuah gelar lagi yaitu pengangguran. Sebaliknya bagi mereka yang tidak mempunyai ijazah dan juga tidak bekerja, maka mereka tidak dimasukkan kepada golongan yang menambah jumlah pengangguran di negara ini. Di negara ini tolok ukur adalah ijazah dan simbol. Orang yang mengecap pendidikan kemudian berhasil menyandang sebuah gelar dan ijazah, mereka merupakan stok negara untuk menambah angka pengangguran. Ironis dan sangat feodal lagi.

 

Ada lagi yang tak terselesaikan oleh negara ini. Berpuluhan ribu sarjana setiap tahunnya yang telah dicetak oleh berbagai perguruan tinggi, kemudian peliknya negara ini setiap tahun hanya menerima dalam angka ratusan saja pekerja atau pengabdi. Menyedihkan, selebihnya menjadi pasif dan menambah angka pengangguran saja.

 

Ada lagi kepincangan pendidikan di negara ini. Dalam Undang-Undang Dasar Bab XIII Pasal 31 mengenai pendidikan, negara telah memutuskan:

 1. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan.

 2. Setiap warga negara wajib mendapatkan pendidikan dan pemerintah wajib membiayainya.

 

Kenyataannya pilu. Banyak masyarakat yang tidak mendapatkan pendidikan dengan alasan yang klasik, yaitu tidak mampu membiayai pendidikan karena mahalnya. Selain itu pemerintah tidak mengetaskan kemiskinan itu, pemerintah lepas tangan mengenainya.

 

Kemudian kepincangan lainnya bisa kita temukan. Mari kita bertanya tentang pendidikan ini. Apa bedanya pendidikan dengan pabrik?

 

Saya pikir sama saja. Bedanya terdapat pada yang memproduksi dan yang diproduksi. Kalau kita contohkan seperti pabrik roti, jelas dia menghasilkan roti yang diolah dari tepung oleh pekerja atau buruh pabrik tersebut. Kemudian kita lihat perguruan tinggi atau sekolah, mereka juga memproduksi, tetapi yang diproduksi adalah manusia yang diolah oleh guru atau dosen beserta seluruh jajaran institusi beserta pemerintah untuk menghasilkan uang dari pabrik manusia itu, dan manusia itu digantikan dengan satu lembar yang dinamakan dengan ijazah. Maka kesimpulan awamnya, tak ada bedanya manusia dengan roti di pendidikan.

 

Itulah sepenggal subjektivitas mengenai pendidikan, objektivitasnya terdapat pada keyakinan kita masing-masing. Kalau kita rentang-rentang lagi tali pendidikan ini maka makin terlihat juga kusutnya. Yang jelas, tetap pada kesimpulan dan pengamatan, bahwa pendidikan atau perguruan tinggi hanya menghasilkan manusia-manusia yang feodal dan hanya menghasilkan para penghafal-penghafal teori saja baik yang menjadi pendidik atau yang dididik.

 

Belajarlah pada belut nak, pendidikan di mana saja perlu kelicikkan, di lokalku sampah begitu bisa menyembunyikan keberadaannya. 




• Essay Terkait