Sastra Budaya › Essay


Buktikan Sisi Positif Masyarakat Arab Jahiliyah Melalui Karya Sastra

Kamis, 16/01/2015 WIB | Oleh : Silvianti

Dewasa ini, pandangan buruk mengenai masyarakat Arab yang hidup sebelum datangnya Islam atau yang biasa kita kenal dengan jahiliyah. Jahiliyah  masih melekat dalam benak kita. Hal tersebut karena orientasi kita telah terbentuk sejak awal, bahwa kaum tersebut adalah pusatnya keburukan umat. Hal ini berujung pada tersingkirnya unsur objektifitas dalam penilaian terhadap mereka.

 

Jahiliyah  hidup dengan menyembah berhala dan bergelimang kebodohan akan hal ihwal ketuhanan itu sangatlah benar. Hal ini ditegaskan dalam berbagai buku sejarah, di antaranya dalam Fakhuri (1987:51). Akan tetapi, untuk mengeluarkan sebuah statement bahwa bangsa jahiliyah adalah bangsa yang “bodoh” dalam arti kata sebuah kesimpulan yang penuh nada subjektif. Penilaian tersebut bisa terbantahkan melalui salah satu bukti peninggalan yang mencerminkan kehidupan mereka, yaitu karya sastra.

 

Asumsi mengenai karya sastra sebagai bahan kajian terhadap pola kehidupan masyarakat jahiliyah bukanlah tidak beralasan. Hal ini dikarenakan sastra sebagai sebuah hasil ciptaan manusia, tidak lahir dari ruang hampa. Namun ia merupakan cerminan kehidupan. Dasar filosofis mengenai relasi sastra dan realitas sosial adalah adanya refleksi pengarang tentang kehidupan yang dipadu dengan daya imajinasi dan kreasi yang didukung oleh pengalaman dan pengamatan atas realitas sosial-kemasyarakatan di sekitarnya. Jadi, karya sastra yang lahir pada masa dan lingkungan Arab jahiliyah merupakan gambaran utuh oleh pengarang mengenai fakta sosial di kala itu.

 

Dalam beberapa syi’ir (puisi) yang lahir pada zaman jahiliyah tercermin nilai-nilai loyalitas masyarakat terhadap kabilah. Individu-individu yang tergabung dalam sebuah kesatuan tersebut bahkan sanggup mengorbankan nyawa mereka untuk mempertahankan nama baik kabilah mereka. Hal ini tercermin melalui syi’ir yang mereka ciptakan untuk membanggakan kabilah dan untuk membakar semangat anggota kabilah yang lain dalam rangka mempertahankan kabilah mereka dari serangan musuh. Salah satu yang paling terkenal adalah syi’ir itu ialah Amr Bin Kaltsum (Fakhuri, 1987: 121). Dari karya ini juga tergambar adanya sifat keberanian dalam membela persatuan, serta memperjuangkan sesuatu yang mereka anggap benar pada pribadi masyarakat jahiliyah.

 

Dalam bait-bait syi’ir Gubahan Umru Al-Qais (Bunyamin, 2005: 155) dan Zuhair Bin Abi Sulma (Dhaif, 2001: 303) tergambar adanya budaya saling menasehati di kalangan masyarakat Arab Jahiliyah. Zuhair mengingatkan agar manusia senantiasa menjaga lisannya dari perkataan yang tak membawa manfaat, sedangkan Umru Al-Qais menasehati kabilahnya untuk senantiasa berbuat kebajikan. Hal ini jelas merupakan kebalikan dari citra kejam yang ada pada masyarakat jahiliyah. Apabila syi’ir ini kita teliti lebih lanjut, ternyata di dalam kabilah masyarakat Arab jahiliyah terjalin hubungan kekeluargaan yang sangat erat. Hubungan inilah yang membuat mereka senantiasa saling menasehati satu sama lain.

 

Eratnya hubungan antara masing-masing anggota kabilah lebih jauh lagi  terwujud melalui rasa saling memiliki. Hal ini tampak dengan adanya kerelaan anggota kabilah mengorbankan nyawanya untuk menolong saudaranya. Perilaku tersebut merupakan sebuah tindakan yang sangat sulit kita temui pada masa sekarang.

 

Sifat lain yang patut diacungi jempol pada masyarakat Arab jahiliyah adalah kedermawanan yang sangat tinggi. Dalam sebuah teks khutbah yang disampaikan oleh Hasyim Bin Abdu Manaf (Busyrawi, 2009: 3) tergambar bahwa masyarakat Arab jahiliyah sanggup mendermakan seluruh hartanya demi membantu kabilah lain yang sedang kesulitan. Salah satu contohnya adalah di saat musim haji tiba. Kabilah Quraisy yang berperan sebagai tuan rumah memberi makan, minum, dan tempat tinggal bagi jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru Arab selama mereka melaksanakan ibadah haji. Semua itu dilaksanakan dengan penuh keikhlasan untuk memuliakan tamu yang mengunjungi Makkah.

 

Selain itu, dalam sebuah syi’ir madah (pujian), Al-A’sya melukiskan kedermawanan sebuah keluarga yang hidup dalam kondisi serba kekurangan (Wargadinata & Fitriani, 2008: 204). Dalam keadaan tak berpunya seperti itu, mereka masih sempat untuk bersedekah pada musafir yang kehabisan bekal atau tersesat di tengah padang pasir. Keluarga tersebut memberi makan dan minum serta tempat beristirahat untuk mereka. Nilai yang dapat kita ambil dari tindakan seperti ini adalah kuatnya niat dan keikhlasan untuk berbagi kebaikan. Sehingga tanpa mempedulikan kondisi yang tidak berpunya, mereka masih memiliki rasa toleransi yang tinggi antar sesama.

 

Selain isi karya sastra yang mencerminkan nilai positif di atas, budaya bersastra di kalangan masyarakat Arab jahiliyah merupakan bukti bahwa mereka adalah masyarakat yang unggul dalam bidang bahasa dan sudah memiliki tradisi keilmuan yang tinggi. Masyarakat pada kala itu melaksanakan festival sastra tahunan yang berpusat di pasar Ukadz, Majannah, dan Dzul Majaz (Karim, 2002: 290). Festival ini merupakan momen yang dibuat sebagai ajang aktualisasi dan untuk menarik kegemaran masyarakat terhadap sastra. Karya sastra terbaik dalam festival ini mendapatkan hadiah kehormatan, yaitu dipajang di dinding Ka’bah. Bukti keunggulan karya sastra pada masa ini adalah imajinasi yang tinggi dan gaya bahasa yang sederhana, namun tetap sarat akan kedalaman makna. Penyair-penyair terbaik yang lahir dari masyarakat Arab jahiliyah memiliki reputasi dan pengaruh yang tinggi dalam sejarah kesusastraan dan peradaban bangsa Arab. Kualitas karya sastra-terutama syi’ir-yang diciptakan oleh masyarakat Arab jahiliyah belum tertandingi sampai sekarang.

 

Paparan di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa di balik penilaian buruk terhadap masyarakat Arab jahiliyah yang kita ketahui selama ini, tersimpan nilai-nilai positif yang patut untuk ditiru dan dikembangkan. Di balik kegemaran mereka berperang, watak yang keras, dan perilaku yang kejam terselip akhlak dan perilaku yang lembut serta mulia. Setidaknya, ini memberikan pelajaran bagi kita untuk tidak menilai sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja, namun harus mengkajinya secara kompleks dari berbagai sisi.




• Essay Terkait