Sastra Budaya › Cerbung


Menjadi Pelayan Rumah Tuhan

Jumat, 16/01/2015 WIB | Episode : 1 | Oleh : Desi Soneta

Episode 1: Abang Lelaki, Dik! 

 

Rintik tak lagi hanya menjadi hujan. Ia persis membawa serombongan angin kencang. Seakan mengerti suasana hatiku malam ini. Tercabik-cabik.  Isakku tertahan  hebat di balik kepulan asap dapur. Satu persatu  jatuh mengenai pipi. Lalu turun deras. Kepalan jemariku semakin kuat menggenggam hulu centong sambal di kuali. Tanganku gemetaran menahan rasa sakit. Sambal teraduk sembarangan, tanpa perasaan iba sedikit pun.

 

“Ma, aku…aku…lulus kedokteran,” ucap Abang Zen gemetaran di ruangan dapur. Ibu, Ayah, dan Abang duduk berhadapan. 

 

“Jadi, benar?” Hatiku semakin terbakar. Pipiku memerah. Berita ini telah sampai dua hari yang lalu padaku. Dan pengakuan Abang Zen malam ini membuatnya nyata. Sakit. Sekilas kulirik Abang dengan perasaan benci, ia tertunduk. Jemari kadang ia kepal, kadang ia remas.

 

“Kedokteran?” Ibu kaget bukan kepalang. Abang Zen memang tidak pernah memberi tahu. Bahkan selama ini pun beliau tidak pernah mengusik tentang hal demikian. Sementara Ayah hanya menanggapi dingin. Ia tertekur menatap lantai. Entah apa sebab…

 

“Kalau Ibu dan Ayah keberatan, Zen bisa tinggalkan,” Zen cepat-cepat memotong. Ia kembali tertunduk. Kecemasan semakin tergambar diguratnya.

 

“Kenapa tak  kau berikan untuk adikmu Hilwa saja, Zen? Dia satu-satunya perempuan,” tutur Ibu pasrah. Aku memang satu-satunya anak perempuan di antara lima bersaudara. Ibu menghela nafas panjang. Ia tidak bermaksud membedakan kasih sayang. Namun keadaan ekonomi membuat ia harus memberikan pilihan pada anak-anaknya. Ia hanya seorang guru biasa, kadang menambah penghasilan dengan menyuruh adik-adikku menjajakan gorengan di luar rumah dan Ayah kesehariannya hanya melaut. Sedari aku kecil Ibu sudah menabung dan bertekad aku harus jadi dokter, dan salahku hanya meng-iyakannya dalam hati.

 

“Tidak, Bu! Itu bukan impianku,” bantahku dari corong tungku. Aku berusaha setegar mungkin. Mataku bulat menatap Ibu. Ibu menangkap pula pandanganku. Pandangan kami beradu cukup lama. Tentu ia lebih bisa membaca perasaaanku. Tapi kata-kataku membuat ia tak bisa bicara, jika bukan aku  yang bersikukuh, tentu akan lebih melukai perasaan Abang Zen. Mataku masih berkaca, tak kuat menatap Ibu, lalu kualihkan pada sambal yang terjerang di tungku. Di sana ia mengalir deras.

 

Tidak ada yang bisa kusalahkan sebenarnya. Toh, aku hanya menginginkannya dalam diam. Prestasi Abang pun tak kalah hebatnya dengan prestasiku. Kami hanya berjarak setahun pula. Tapi… Entahlah! Sakit. Tidak sebentar aku memimpikan dan bertahan deminya.

 

Dari balik jendela dapur  nampak kelam semakin mencekat. Badai mulai berkecamuk. Suara guntur menggelegar, menghantam kolong langit, sekejap menjadi halilintar, kilatnya menjalar pada pasak dan lekuk bumi, lalu menukik deras memecah gendang telinga, tepatnya mengenai hulu jantung. Ibu dan Abang bergegas ke ruangan rumah. Sementara aku lebih menikmati. Dua adikku sibuk belajar di rumah. Suasana luar rumah seperti tidak mengganggu fokus belajar mereka. Sibungsu sudah tertidur.

 

Dan hebatnya semakin ia menukik deras, tangisku semakin pecah. Aku semakin bebas meluapkan rasa sakit. Kelam suasana dapur tak menyentuh naluri keperempuananku. Ia tak membuatku kecut. Bahkan hujan deras dan angin kencang menarik hatiku,  ingin rasanya aku berlari ke luar  rumah lalu berteriak sekencang-kencangnya bersama pekikan keras mereka.

 

“Kau merampas mimpiku, Abang!”

 

***

 

“Dik Hilwa, Dik…” Suara ini memanggil namaku cukup halus, namun   tidak asing. Ia mengetuk pintu pelan. Kelopak mata masih kukatubkan.

 

“Dik Hilwa, Dik….” Semakin terdengar tidak asing.

 

“Abang?” Aku tersentak lengang. Kulirik jam dinding, menunjukkan pukul 00.00 tepat. Sudah terlalu larut. Aku bergegas membukakkan pintu.  Sekitaran kos benar-benar telah sepi.

 

“Ada apa malam-malam kesini, Bang?”

 

“Afwan, Dik! Baru bisa antar sekarang,” Cepat-cepat ia mengulurkan amplop putih ke tanganku. Abang Zen nampak ngos-ngosan. Tangannya sibuk  menyeka keringat di dahi. Seragam putih masih ia kenakan di badan. Bulu romaku bergidik.  Ia begitu peduli. Antara takut, haru, benci melihat menatap seragamnya,   dan rasa iba membaur pula. Abang Zen lelaki terbaik yang pernah aku miliki dalam hidupku. Dan dia pula lelaki terkejam yang pernah ada. Entahlah….

 

“Tadi adik makan pakei apa? Abang dinas sampai malam tadi, Dik. Hp tinggal pula di Mesjid. Pesan Adik baru terbaca, usai Abang membersihkan mesjid.” Abang menatapku penuh iba. Aku mengiriminya pesan memang sejak dari tadi siang.

 

“Tapi, kan bisa besok, Bang. Bahaya jam segini,” Aku menanggapinya penuh kawatir. Rasa ibaku lebih menyelinap di hati.

 

“Kerak lahar bahkan lebih bahaya, Dik. Tidak apa, Abang lelaki.” Ia menyentuh kepalaku penuh cinta. Kalimat ini sudah puluhan kali ia ucapkan, setiap kali memenuhi kebutuhanku di negeri rantau. Ia seperti tidak pernah lelah dengan tuntutan hidup yang ia jalani.

 

“Bang, tidak ada satu pun anak kedokteran yang tinggal di mesjid, menjadi garin! Ngekoslah, Bang! Nanti kuliah Abang terabaikan,” Sudah acap kali pula aku memintanya untuk ngekos bersama  temannya. Ia sudah terlalu kurus di mataku. Entah kenapa aku tidak bisa membencinya setiap kali melihat matanya.  Aku kalah dengan kelembutan jiwanya.

 

“Allah maha kuat, Dik. Dan Abang lelaki.” Selalu saja ia menjawabnya sama. Berbagai alasan ia lontarkan dan semuanya masuk akal. Beberapa semester ia pun membuktikannya dengan indek prestasi terbaik yang diperolehnya. IPK-nya selalu saja bulat, 4.

 

“Jika Ayah luput dari pandangan mata, maka kau tanggung  jawab Abang!” Abang semakin membuka senyum lebar. Hatiku semakin terharu. Ia sosok berhati mulia. Bahkan sedari kecil ia menjaga dan menjadi guru terbaikku.

 

“Tapi tidak baik menzolimi diri sendiri,” Ia hanya tersenyum lalu bergegas pergi. Air mataku menetes. Aku menyayanginya, tapi, entahlah…

 

Bersambung




• Cerbung Terkait