Sastra Budaya › Cerbung


Menjadi Pelayan Rumah Tuhan

Jumat, 23/01/2015 WIB | Episode : 2 | Oleh : Desi Soneta

Episode 2: Sendal Jepit Abang Zen


Anak-anak Awang baru bersemi!


Begitulah kesepakatan kami dalam menamakan diri, setelah berhasil mengecap pendidikan di Ranah Minang. Kami bingung menyatakan asal-usul diri. Tidak berdarah Sumbar tidak pula berdarah Sumut, namun ada di antara keduanya. Dan kami diabaikan. Entah oleh siapa,,


Dari Pulau perawan ini, kami memang orang pertama yang berhasil membaurkan diri dengan kancah asam garam kehidupan negeri rantau, setelah pertama kali Nenek Moyang kami membawa keturunan di Pulau yang tak berpenghuni ini. Asalnya, dulu mereka dari keluarga bangsawan, dan mereka tidak suka dijajah oleh colonial Belanda. Mengasingkan diri lebih baik dari pada harus dijajah. Begitulah  keputusan dan cerita yang sampai pada kami, hingga saat ini Pulau ini masih seperti sedia kala. Masih alami, dan kekayaannya masih perawan.


Kami yang menobatkan diri menjadi anak-anak Awang, merasa sedikit disisihkan oleh kehormatan asal-usul. Kami menarik kesimpulan, ini ulah nenek moyang kami! Bukan salah siapa-siapa. Dan akibatnya tentu rata-rata generasi di kampung ini yang akan terkungkung, jika tak hendak menyelamatkan nasib ke depan. Untung Tuhan memilih kami. Aku dan Abang Zen. Ayah dan Ibu adalah sang bidadari perantara tangan Tuhan.


Pulau terpencil ini awal kaki melangkah. Abang Zen putra tertua dan aku putri tunggal yang teraniaya oleh bisu. Kami berpapasan dengan cita-cita senja, lalu berkerudung dengan bintik-bintik samar pada kelam malam. Ah, aku terlelap pada alam luar sadar, lalu merangkul cita-citaku dengan sisa serpihan luka.


“Kedokteran! Kau hampir membuatku brutal,”


***


“Dik, bangku ke Pasaman sudah Abang pesan. Tadi, iya, tadi,” tutur Abang Zen dari ponsel genggamannya. Ia terburu-buru. Suaranya terdengar serak, terpenggal-penggal. Lebaran Idul Fitri tinggal hitung jari. Cemas sama-sama menguap di jantung kami, jika-jika tidak bisa pulang kampung lebaran ini. Kota Padang terlalu jauh.


“Kapan kita bisa berangkat ke Pasaman, Bang?” tanggapku cepat. Jantungku semakin berdegup kencang.


“Nanti Malam. Sore kita sudah bertolak ke Lubay ya, Dik!” Begitulah proses Pulang kampung yang harus ditempuh. Padang-Pasaman selama 8 jam. Mendapatkan tiket ke Pasaman tentu Abang tidak semudah itu pada detik-detik lebaran ini. Orang-orang ramai pula mudik.


“Syukurlah,” aku menarik nafas lega. Setidaknya satu jalur pulang kampung sudah ada peluang.


***


Aku masih mematuk diri di depan kaca. Aku malu harus meminta lagi pada Abang. Kasihan dia, harus memenuhi kebutuhanku setiap saat. Sementara kebutuhannya menjadi mahasiswa kedokteran tentu lebih besar dariku, namun ia tidak pernah mengeluh.


“Dik, nanti biar Abang yang belikan oleh-oleh,” pesan ini masih lengket di ingatanku. Tidak mungkin untuk ongkos pun aku harus meminta padanya.


“Duh Gusti, apa yang harus kulakukan?”  Mataku kembali basah.


***


“Abang tunggu di Pasar Raya ya, Dik!” kembali pesan Abang meluncur di ponselku. Aku tidak bisa bergeming. Ongkos bus belum disinggung olehnya. Kulirik dompet hanya sekedar untuk ongkos angkot Pasar Raya dan Lubay. Aku kawatir keuangan Abang pun menipis.


“Ok!” aku membalasnya pendek. Dan  berlalu menyusul langkah Abang ke Pasar Raya. Hanya 25 menit dari kosku.


“Apa yang terjadi, ya terjadilah,” aku tak lagi peduli. Kuserahkan utuh nasib ini pada pemilik raga.


“Masih lama, Dik?” Pesan Abang kembali membuat ponselku bergetar. “10 menit lagi,”


“Ok, Abang tunggu di depan Mesjid Muhammadiyah.” Selang beberapa menit aku pun berhasil menyusul Abang. Ia sudah berdiri tegap pada jalur penantian angkot. Pasar Raya sumpak. Orang-orang ramai di sepanjang jalan. Namun dari jauh Abang sudah menebar senyum. Lelahku lepas.


“Syukurlah kau cepat sampai, Dik!” Ia menyambutku dengan hangat. Tangannya menyentuh bagian kepalaku. Tidak sedikit pun mengumpat keterlambatanku. Padahal sudah dipastikan hampir satu jam ia menunggu.


“Abang kok pakai sandal jepit?” Tiba-tiba pandanganku terfokus pada kedua kakinya. Air  mataku serasa  jatuh ke dalam. Kuperhatikan penampilannya, tak sedikit pun menggambarkan ia seorang mahasiswa kedokteran. Kaus yang dilekatkan di badan pun terlihat kusam. Putih kekuningan. Ransel seadanya.


“Lah, sandal jepit tak haramkan?” Ia bercanda ketus. Senyumnya semakin lebar. Aku memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah. Hatiku semakin menjerit.


Atau kau dilaknat oleh Tuhan?” Iba dan benci masih membuat aku terkungkung.


“Ah tidak! Tuhan menyangimu, Bang!” Air mataku menetes. Perjuangannya kembali merias hatiku.  Selama menjadi garin, ia tidak pernah lupa menyisihkan gajinya untuk membelikan kerudung dan buku-buku islami untukku, namun ia melupakan dirinya sendiri. Cinta dan kasihnya melebihi Ayah dan Ibuku. Namun, entahlah….


“Tapi,” aku ingin membantah ketidak-adilan pada dirinya.


“Sudahlah, Dik! Yang penting kita bisa kuliah. Itu lebih dari cukup,” Ia pun bergegas  mengambil angkot. Bus sudah menunggu di terminal Lubay. Sepanjang jalan aku hanya termenung menupang dagu, tak mampu bercakap banyak. Sesekali kulirik Abang. Matanya liar memperhatikan bangunan di sepenjang jalan. Perasaanku kembali bercampur aduk. 


“Betulkah kau bahagia, telah merampas mimpiku?”


***


“Dik, bangun-bangun. Kita sudah sampai pelabuhan.” Abang mengguncang lembut bahuku. Matanya teduh.


“Pelabuhan?” Aku masih menyeka kantuk. Delapan jam perjalanan Padang-Pasaman cukup membuatku tertidur pulas.


“Iya, ayuk cuci muka. Setengah jam lagi kapal berangkat ke kampung.” Abang mengajak berdiri cepat. Ia memang seperti itu, Semua dilakukan dengan cepat.


“Au,” aku menukik tiba-tiba. Ada perih di bagian kakiku. Tanganku reflek meraba bagian ujung kaki. Talinya tersangkut di besi dinding Bus.


“Kenapa?” Abang mengernyitkan dahi.


“Aduh,” ku angkat sendalku ke atas.


“Auf, tali sendalku putus, Bang,” mataku menyipit.


“Putus?” Abang mengambil sendalku. Lalu memperhatikan bagian talinya.


“Ya sudah, pakai ini,” ia membuka sendalnya cepat, lalu mengulurkannya padaku. Aku terdiam. Kutatap sendalnya lalu kutatap kakinya. Aku tak habis pikir ia bertindak secepat itu.


“Trus, Abang pakai apa?”


“Abang lelaki, Dik.” Ia pun bergegas turun dari bus menuju Pelabuhan tanpa mengenakan sandal. Telapak kakinya menyatu dengan kerikil-kerikil di  pelabuhan itu. Tangan kanannya menjinjing tas kecilku. Sementara aku masih belum bisa bergerak. Ini untuk kesekian kalinya ia membuatku tersentuh. 


“Duh Gusti, pantaskah rasa benci ini masih mengakar”.


“Betulkah dia telah merampas mimpiku?” Air mataku tak henti turun. Dadaku kembali sesak. Entah apa sebab….


Bersambung




• Cerbung Terkait