Sastra Budaya › Cerbung


Menjadi Pelayan RumahTuhan

Jumat, 30/01/2015 WIB | Episode : 3 | Oleh : Desi Soneta

Episode 3: Menjadi Imam Termuda


Begitulah waktu demi waktu berlalu.


Kini wajah dan Tubuh kami sama-sama tirus. Daging membalut tulang alakadarnya. Aku tirus oleh ulahku sendiri, remuk oleh sisa ruh dalam tubuh sebuah cita. Sisa waktu sering pula kuhabiskan sia-sia. Abang Zen sedemikian rupa pula kiranya, tak sedetik pun waktu dilaluinya tanpa perasaian. Entah apa sebab ia begitu betah menyiksa diri pada masa muda ini.


Bedanya Abang hidup dalam perasaian positif, ia berjuang tanpa mengenal lelah, sementara aku hanya menggulung diri diantara debu kapas kamar, dan terhempas diantara sisa-sisa sajak. Ah, hidupku layak dikatakan telah mati rasa, hanya nyawa saja yang bergelantungan diantara rongga tubuh. Iba dan benci masih mengakar pula di sana.


“Entah sampai kapan, kau terpatri menjadi perampas mimpi,”


***


Minimal dua kali seminggu Abang selalu meluangkan waktu untuk memantau harianku. Dan tidak pernah sekali pun ia datang tanpa membawa sesuatu untukku. Sekecil-kecil pemberiannya buku-buku terkait wanita. Ia begitu rajin pula mengirimku pesan lewat ponsel walau hanya sekedar menanyakan tentang nutrisi harianku. Aku bahkan yang selalu enggan membalas pesan dan perhatiannya.


“Bang, ndak usah sering kesini, Abang kan sibuk, nanti kecapean,” Aku berusaha menatap dan berbicara lembut pada Abang. Ia telah duduk santai di teras kos. Mulutnya sibuk menciduk air putih yang kusediakan. Iya, Abang hanya suka air putih, tidak pernah meminta apa pun dariku.


“Tenang saja, Abang lelaki, Dik! Insyaalah kuat!” Alasannya tak lagi logis menurutku. Ia sudah serupa patung berjalan. Tirusnya melebihi tirus tulangku. Hari demi hari matanya semakin cekung, bawah kelopak mata sedikit hitam.


“Tapi, Bang,” Aku mencoba membantah.


“Kemaren Abang coba masukin syarat beasiswa Imam termuda di Kota Padang. Bantu dengan doa ya, Dik! Besar juga beasiswanya tujuh juataan,” Abang mengalihkan pembicaraan.


“Iya, Bang! Semoga nama Abang ke luar,” Aku terpaksa pula mengikuti aliran ceritanya.


“Amin….”


***


“Dik ini untuk Adik, simpan dan gunakan baik-baik, ya!” Abang Zen mengulurkan amplop krem ke tanganku. Matanya berbinar-binar. Raut wajahnya penuh bahagia. Ia tersenyum lebar.


“Apa ini, Bang?” tanyaku dingin.  Kuamati dan kuraba, terasa lembarannya cukup banyak.


“Alhamdulillah, berkat doa Adik, Abang terpilih menjadi salah seorang imam termuda di kota Padang.


“Syukurlah,” aku terharu mendengarnya. Tak salah lagi, bakat, kemampuan, dan gigih perjuangannya sudah pantas dihargai oleh siapa pun. Bahkan Tuhan sekalipun. Ia benar-benar manusia pilihan menurutku. Aku benar-benar cemburu.


“Dan Abang sudah niatkan separuh uang itu untuk Adik!” Abang menatapku penuh bahagia.


“Apa? Ndak usah, Bang! Abang lebih membutuhkannya,” Aku kembali mengulurkan amplop itu  ke tangan Abang. Hatiku benar-benar menolak untuk menerimanya.


“Terimalah, Dik! Ini juga rezekimu,” Abang bersikukuh mengulurkannya ke tanganku.


“Tidak, Bang! Aku tidak pantas menerimanya.”  Aku kembali menolak.


“Adik tidak suka lagi Abang member, Adik?” Aku hanya diam. Hatiku tiba-tiba saja dirundung lemas. Pandangan cepat-cepatku buang. Aku pun sulit menerka entah rasa apa yang hadir tiba-tiba. Ia begitu sakit. Aku cemburu, tapi entah kepada siapa,,


“Berhentilah memberiku, Bang!” Aku sedikit menghardik.  Mataku sedikit terbelalak padanya. Abang terdiam. Ia tertunduk. Sekejap air mukanya berubah. Seumur hidup aku tak pernah membantahnya apalagi menghardik.


“Aku juga bisa hidup dengan kaki dan tanganku sendiri. Aku malu selalu meminta pada Abang. Berhentilah mengasihaniku,” Aku semakin menghujaminya. Abang masih diam. Mataku mulai berkaca.


“Pergilah Bang dan jangan pernah lagi mengasihaniku,” tuturku hendak menutup cerita. Mataku sudah basah. Entah apa sebab aku begitu berani melawan hari ini.


“Sampai sejauh itu, Adik membenci Abang?” Abang menetapku teduh. Lalu membuang pandangannya ke lorong langit. Matanya pun ikut berkaca. Aku hanya diam, tak bisa mengiyakan tak bisa pula membantahnya.


“Dik, membenci dan mencintailah karena Allah,” Abang mengelus lembut kepalaku. Ia berusaha tersenyum dan tetap tenang.


“Ambillah amplop ini, bisa jadi ini pemberian terakhir Abang. Jaga dirimu baik-baik ya, Dik! Maafkan salah Abang,” Abang tersenyum. Kemudian berlalu cepat. Air mataku semakin turus deras. Langit gerimis mengggiring langkahnya. Agaknya alam pun ikut berduka cita atas tindakan konyolku pada Abang hari ini.


“Ambilllah amplop ini, bisa jadi ini pemberian terakhir Abang!” Kalimat ini membuat bulu romaku bergidik. Banyak betul sesuatu yang beda terjadi hari ini.


Bersambung




• Cerbung Terkait
Suarakampus