Sastra Budaya › Cerpen


Liburan Terberat

Rabu, 08/04/2015 WIB | Oleh : Lillah

“Kamu benarkan mary,”

 

“Sedikitpun aku tidak berbohong padamu mae”

 

“Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu ry”

 

“Entahlah mae, baru kali ini aku merasakan seribu rasa ini mae “

 

          Malam ini terasa berat, aku yang baru datang dari kampung asalku yang telah lama libur semester kini kembali ke kota tempat aku belajar, bandung. Suhu disini sangat jauh berbeda sekali, di kampung malamnya tak sedingin disini. Kepalaku terasa sedikit pusing, karena telah lama dalam perjalanan dari kampung kesini, dua hari dua malam, diatas bus.

 

          Setelah semua rasa penatku hilang, aku langsung membersihkan kamarku yang telah lama ditinggal, debu, serangga-serangga kecil, bahkan, ya sudahlah, tak perlu diceritakan satu ini, hehe. Bunyi getar dari dalam tasku berbunyi tiga kali dan lampu ,layar nya yang berkedap-kedip, itu telpone genggamku yang masih sangat kuno, bahkan tidak ada pengeluaran merek itu lagi. Aku kurang tertarik dengan mere-merek tercanggih masa kini, bahkan saking canggihnya teknologi, semakin kurangnya moral bangsa, seperti saja dalam angkot, anak-anak muda sibuk dengan blackberry atau smartphone nya, yang tidak lagi menghiraukan orang sekelilingnya, baik itu anak-anak bahkan orang tua. Eh maaf, aku bukan bermaksud menghujat tuh teknologi canggih. Aku membuka kunci pengaman telpon genggam ku, itu dua buah pesan , maemunah.

 

“Mary, kamu sudah sampai ?”                                                   

 

“Mary, knp ngga di balas “

 

Oh, aku lupa memberi tahu maemunah, kalau aku sudah sampai di bandung. Maemunah sahabatku dari awal mulai kuliah sampai sekrang, kami saling berkenalan di sebuah organisasi di kampus. Saat itu maemuna duduk di samping ku saat ada acara yang diadakan oleh organisasi kami. Sejak saat itulah aku dan maemunah mulai dekat, nama lengkapnya maimunah humairah, panggilan akrabku dengannya mae. Tanganku yg mungil ini mulai mengotak-otik telpon genggam ku untuk mengirim pesan pada mae.

 

“Maaf ya mae, aku lupa mengabarimu, aku sudah sampai mae, pagi tadi, “

 

Bahkan belum sempat aku menghapus pesanku, pesan maemunah datang lagi,

 

cepat sekali. “Iya ngga apa-apa, ry, aku senang kalau kamu sdah sampai, dan baik-baik saja, besok kita ketemu di tempat biasa ya.”

 

Pesan maemunah begitu jelas, dia sangat rindu padaku, aku juga juga rindu dengan teman ku yang super manis satu ini.

 

          Shubuh pagi di bandung sangat dingin, airnya mengeluarkan asap karena dinginnya. Karena sudah terbiasa suasana di kampung, aku sedikit menggigil ketika bersentuhan dengan air. Walaupun menggigil , aku akan tetap bermain dengai air dingin itu, karena tidak mungkin aku sholat tanpa berwuduh kecuali ada alsannya, dan tidak etis rasanya , jika aku pergi kuliah tidak mandi.

 

          Figura yang aku letakkan di atas meja belajar, bahagiah hatiku tanpa sepengetahuannku. Itu foto ayah dan ibuku, setiap mau npergi kuliah, aku selalu pamit dengan mereka walaupun Cuma ada gambar mereka.

 

“Ibu, bapak, maryam pergi dulu, doakan anakmu selalu”. Hatiku merasa lega setelah berpamitan dengan orang tuaku, sekarang aku siap pergi untuk menuntut ilmu. Telpon genggamku bergetar, pesan dari maemunah , “ ry, udah dimana”. Tanpa berfikir panjang lagi, langsung aku menutup pintu kamarku dan menuju pintu depan untuk pergi, kerna kasihan lihat maemunah, pasti maemunah sudah menungguku.

 

Kampusku tidak begitu jauh dari rumah kosku, sekitar lima menit untuk nyampai kesana. Dengan menyebut nama allah, aku memasuki kampus yang lumayan besar ini. pohon besar yang menjadi pusat mahasiswa disini , terletak di taman kampus, diantara banyak mahasiswa, aku bisa langsung menangkap wajah yang familiar itu ”Maemunah”. Dari kejauhan maemunah telah mengetahui kedatanganku, dan memberikan senyuman termanisnya,” maryam “, maemunah berseru kepadaku.

 

Aku dan maemunah mencari tempat duduk yang kosong, dan alhamdulillah ada tempat duduk kosong di sudut taman.

 

“Mana oleh-oleh dari kampung tercintamu” maemunah dengan mudah berceloteh kepadaku.

 

“Iya , ada ko, rendangkan ?’’

 

“ wah, betul sekali, mana, mana “? . tanpa permisi, maemunah mengambil tasku, dan mendapatkan kotak plastik yang berisi penuh dengan rendang, makanan khusus daerahku.

 

“Itu bukan buat kamu aja mae, tapi buat ibumu juga ya”

 

“Tenang aja ry, aku ingat ko, nanti kalau lupa, ingetin aku lagi”. Aku tertawa kecil mendengar ucapan maemunah, dia suka sekali dengan rendang, setiap aku pulang, pasti dia, yang pertama dan utama sekali mengingatkanku dengan rendang.

 

          Perkuliahan semester baru ini, berjalan dengan lancar dan aman. Waktu berlalu begitu cepat, baru kemarin aku rasanya liburan, sekarang mau liburan lagi, semester berikutnya. Tidak tersa umurku sudah berkurang tiap hari, sekarang sudah memasuki dua puluh satu tahun, itu artinya perkuliahanku sebentar lagi akan selesai. Aku dan maemunah telah merancang masa depan kami masing-masing, aku dan maemunah ingin melanjutkan studi kami, insya allah.

 

Ujian akhir semesterku tinggal satu hari lagi, itu artinya lusa aku pulang. Apabila semua berjalan lancar, aku akan pulang dengan segera. Kali ini ibu menyuruhku pulang lebih awal.

 

          Jadwal penerbanganku jam dua siang, sekarang baru jam satu, berarti sejam lagi baru aku berangkat, aku memanfaatkan waktu yang singkat ini, dengan sebaik-baiknya, berpamitan dengan sahabatku, dengan teman-teman satu kosku, dan ibu kos yang selalu membantuku.

 

          Satu jam lebih dalm pesawat tidak membuatku jenuh tidak seperti bus tempo hari, dengan garuda ini aku bisa lebih cepat sampai dikampung halamanku. Bandara minang kabau ramai seperti biasanya. Makdang-ku telah menungguku, tanpa harus bertele-tele lagi, aku langsung pulang kerumah.

 

          Disepanjang jalan menuju rumahku begitu ramai, semakin dekat dengan rumahku semakin ramai, aku bertanya-tanya dalam hati, ada acara apa dirumahku, aku malu bertanya sama makdang ku yg tampangnya begitu sangar. Aku simpan pertannyaan dalam hati, dan langsung akan kutanyakan pada ibuku nanti.

 

Ibuku sedang berama-tamah dengan etek-etek-ku yang ada disini, hatiku yang terus merasa penasaran dengan keadaan ini, tanpa fikir panjang lagi, aku mendekat pada ibuku.

 

“Ibu, ada acara apa dirumah kita “

 

“Tidak ada apa-apa , Cuma, dokter iwan ingin bertamu kerumah kita “

 

Dokter iwan ? aku bertanya dalam hati, apakah dokter iwan yang dimaksud ibu adalah dokter anaknya makcik zulbaida.

 

Aku tidak mau bertanya lagi, karena fisikku memberontak ingin istirahat.

 

“Bu, maryam, kekamar dulu, capek bu”

 

“Iya nak, istirahatlah”

 

          Fisikku memang beristirahat, tapi otakku berkeliaran , tersandung dengan iwan yang dokter itu, kenapa hanya dengan bertamu kerumah, ibu mengadakan acara seperti ini. iwan yang umurnya lebih tua sembilan  tahun dari ku tapi tampangnya masih sangat muda, seperti sepantaran denganku apa karena pekerjaannya seorang dokter.

 

          Aku telah beristirahat selama lima jam, dan ketika aku bangun, rumah tidak seramai tadi, apa acaranya sudah selesai. Lansung ku cari ibuku, yang berkebetulan sedang duduk diruang keluarga, bersama bapak, makdang, mak tuo, etek-etekku dan tak lupa adik-adikku. Aneh sekali mereka disini.

“Siti Maryam “ bapak berseru memanggilku, bahkan dengan nama lengkapku, “Iya bapak”

 

“Kemari nak”

 

Aku mengikuti keiginan bapak yang menyuruhku duduk diantara keluaga ini, dan aku duduk disamping ibuku.

 

“Siti maryam binti datuk sutan maliki sholeh, kamu telah dipinang oleh muhammad dirwan bin haji abdul rahman , nak. “

 

Darahku terasa berhenti, jantungku seakan mau tanggal dari tempatnya, ucapan ayah bagai petir ditelingaku. Ibu menggenggam tanganku, mencoba menguatkanku, sebelum orang lain tahu akan persaanku, asma allah langsung kuucapkan agar tubuhku kembali normal, dan itu alhamdulillah berhasil. Ayah melanjutkan pembicarannya.

 

“Maryam anak sulung bapak, kalau tidak halangan kamu akan menikah dengan iwan setelah kamu selesai wisudah, iwan mau menuggu kamu, jadi kamu kuliah saja dengan baik-baik seperti biasanya, bapak tahu, ini untuk kebaikan kamu maryam, ibu sudah banyak cerita pada bapak, kamu tidak mempunyai teman laki-laki, dan itu bagus sekali, bagaimana pendapat kamu maryam ?

 

Bapak memang sangat baik, apapun keputusannya dia tetap menanyakannya padaku, aku tidak tahu harus menjwab apa, apakah menolak atau menerimah, satu yang menjadi pengelakkanku,

 

“Bagaimana studi ku pak, maryamkan mau melanjutkan kuliah”

 

Bapak, diam sejenak, raut wajahnya tetap datar, dan angkat bicara lagi

 

“Kamu tenang saja nak, sebelum kamu menanyakan ini, bapakmu sudah dikalahkan oleh muhammad dirwan itu, dokter itu telah memberitahu bapak, ibu dan etekdan paman-paman mu ini, bahwa dia akan menuruti kemauanmu untuk melanjutkan studi kamu, bahkan dia senang hati mendukung kamu nak, “

 

Aku diam seribu bahasa, dan pembicaraan malam ini cukup dengan ekpresiku yang bagi bapak ekpresiku ini, ekpresi setuju.

 

          Aku kembali ke bandung setelah lama liburan, liburan yang tidak seperti biasanya, liburan kali ini, benar-benar liburan terberat yang aku jalani, dengan acara dirumah satu bulan yang lalu. Kini kembali fokus pada kuliahku yang tingkat akhir, di tingkat akhir ini aku ekstra hati-hati dan bersungguh-sungguh.

 

Maemunah menginap dikosku, karena kami sama-sama mengerjakan skripsi, terkadang kami serius, dan kadang kami bersenda gurau untuk melenturkan kembali otot yng tegang.

 

“Apa aja kegiatan dikampung ry “

 

          aku yang dari tadi tertawa kecil mendengar cerita mae, sekarang tiba-tiba diam, dengan pertanyaan yang satu ini.

 

“Ry, ry, maryam”?

 

Maemunah mengagetkanku, “ ada apa mae” aku bertanya bego,

 

“Kamu kenapa ry, knp diam?

 

Aku harus mulai dari mana, untuk menceritakan pada maemunah, ragu-ragu untuk menceritakannya,

 

“Liburanku yg kemaren, berat mae”

 

“Lo ,kenapa ?

 

Aku diam sejenak, mencoba untuk lebih berhati-hati, untuk menceritakannya

 

“Aku akan menikah mae”

 

“Kapan?” ekpresi maemunah datar saja, padahal aku tahu dia kaget, karena maemunah orangnya yang sangat pandai dalam memainkan ekpresi, maka bisa dikatakan ekpresinya itu bohong.

 

Tapi sepandai apapun mae, dia tidak bisa berbohong padaku, maemunah kini dengan serius bertanya kepadaku tentang ini.

 

“Kamu benarkan kan mary,”

 

“Sedikitpun aku tidak berbohong padamu mae”

 

“Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu ry”

 

“Entahlah mae, baru kali ini aku merasakan seribu rasa ini mae “

 

          Maemunah sahabat terbaikku, dia mendukungku apapun keputusan yang aku ambil nantinya, satu pesan maemunah, agar aku tidak akan menyesali apapun yang akan terjadi dikeluarga kecilku nantinya.

 

Dalam hati kecilku, aku berterimahkasih pada allah, karena telah memberi yang terbaik buatku, yaitu sahabatku dan sesorang yang aku cintai.

 

“Kamu tenang saja mae, insya allah aku tidak akan menyesal, kamu tahu kenapa orang yang akan menjadi suamiku kelak adalah cinta pertamaku dan itu hanya allah yang tahu, dan kini allah telah menyatukan cinta itu.”




• Cerpen Terkait