Sastra Budaya › Cerpen


Batu Cincin

Rabu, 24/06/2015 WIB | Oleh : Elza Novria

Sungai tempat aku berdiam masih saja berbau kotoran manusia. Airnya kecokelatan dan muram. Seperti kopi susu yang sering diminum pegawai lurah di warung Mpok Nah. Sampah-sampah plastik bergelayutan di akar-akar kayu yang menyentuh bibir sungai. Sampah-sampah yang dibuang manusia dengan sengaja ke sungai ini. Tak hanya itu, kerbau-kerbau petani seenaknya saja membasuh bekas kubangannya di sini. Dedaunan begitu juga. Hampir tak pernah jera berlabuh dan melayang di permukaannya. Tak hanya satu, tapi puluhan daun menerima nasib yang sama setiap harinya. Terlepas dari dahan dan mengarungi sungai untuk mengarungi nasib menuju muara.

 

Sebenarnya sungai ini telah dicap sebagai sungai yang paling tercemar. Namun entah mengapa, beberapa warga masih saja tak menghiraukan akibatnya. Kudengar kabar, mereka adalah pencari batu cincin, dan aku yakin bahwa aku adalah salah satu incaran mereka.

 

  Aku menyadari betapa berharganya aku yang berasal dari keturunan bebatuan dengan tubuh yang begitu indah dipandang mata. Berwarna hijau lumut dengan kulit yang mulus. Berbeda dengan saudara-saudaraku yang lain. Mereka berwarna hijau pudar lagi kasar. Sebelum ayah meninggalkan kami, ayah berpesan agar ibu menjagaku sebaik mungkin. Pesan khusus yang ayah tinggalkan untuk terakhir kali. Dan pesan itulah yang membuat saudara-saudaraku menjadi iri hati. Mereka bahkan memisahkan diri dariku. Menganggap aku bukanlah bagian dari mereka. Bukan sedarah, juga serumah. Jika aku berkeliaran di halaman rumah, hanya bermain sambil menangkap pasir-pasir sungai yang menari-nari disapu air sungai. Mereka akan memilih mendekam di kamar. Sampai aku terlelap di pangkuan ibu. Setelah aku terbuai mimpi, barulah mereka keluar. Dari kamar dan mengomel tentang sebongkah mahkluk yang mereka benci. Terang saja makhluk itu aku. Kadang aku sengaja berpura-pura tidur untuk mendengarkan omelan mereka. Jika tidak tahan, maka aku akan menutup telinga.

 

***

 

Senja  telah membayang di permukaan sungai. Namun tidak seperti biasanya. Kali ini senja begitu muram dan kelam. Sama seperti air sungai ini. Angin senja mengaduk-aduk permukaan sungai sehingga airnya beriak dan berkelana ke mana-mana. Kadang terhempas ke bibir sungai, kadang muncrat dan terlempar sampai ke tanah di tepiannya. Aku mengira ada topan di luar sana. Tiba-tiba petir menggelegar memekakkan telinga disertai hujaman air yang tumpah dari langit. Aku bergegas mencari ibu. Aku ingin memeluk ibu dan menyandarkan ketakutanku. Hujan makin deras dan petir sambar-menyambar. Aku semakin kalut dalam gelombang air yang tak lagi menentu. Dengan langkah tertatih aku memaksakan diri menuju rumah dan segera menemui ibu.

 

  Namun tiba-tiba aku merasakan sebuah serangan dahsyat berasal dari sebatang kayu yang hanyut terbawa sungai. Begitu besar dan kekar. Oh, bukan batang kayu rupanya. Tapi kaki seorang manusia dengan bulu lebat yang bergelayutan di pori-porinya. Aku serasa melayang menuju permukaan ketika tangan legamnya mencengkeramku. Aku tak dapat bernafas. Tiba-tiba aku mendengar ibu memanggilku berkali-kali. Aku terkesiap dan tersadar bahwa nasibku sepertinya akan segera berubah. Bukan lagi batuan mungil yang menjadi primadona sungai ini. Namun sebongkah batu yang kelak dijual dan ditempa. Ya, itu kata ibu suatu hari padaku. Jika telah tertangkap tangan-tangan para pencari batu cincin, maka tak lain nasibnya akan sama; dijual dan ditempa.

 

Aku melihat ibu yang perlahan-lahan jauh dan menghilang tertutup plastik-plastik bekas makanan. Lalu aku dilempar begitu saja ke dalam ember hasil pancingan. Lelaki itu. Lelaki yang memisahkan aku dengan ibu. Berjalan riang sambil menenteng ember tempat aku disekap dan di pundaknya berayun-ayun tali pancingan yang juga meliuk-liuk kegirangan. Ternyata aku tak sendiri di dalam ember yang tentu saja berbau anyir. Ada beberapa jenis ikan yang melompat-lompat berusaha menaiki dinding ember yang begitu curam. Namun usaha mereka tak pernah berhasil. Hanya menghabiskan tenaga saja, pikirku. Paling beberapa saat lagi kalian akan jadi bangkai dan entah akan dilemparkan kemana lagi. Mungkin saja dikubur. Ah, lalu aku? Dijual dan ditempa? Aku merasakan ngeri yang amat sangat. Bayangan mesin-mesin untuk menempa yang terbuat dari besi dan baja membuatku takut luar biasa.

 

Beberapa menit telah berlalu dan kini aku berada di sebuah toples kaca. Aroma kacang menyeruak dari dinding toples. Mungkin saja toples ini bekas kacang yang juga dipenjara lalu dikubur bersama kulit-kulitnya.

 

Senja telah berganti malam. Kepulan asap dari berbagai masakan telah terhidang di meja persegi yang terbuat dari kayu itu. Dan aku, sedikit pun tak diizinkan untuk sekadar mencium baunya. Toples ini tertutup rapat dan dipajang di atas lemari es. Berseberangan dengan meja makan yang penuh dengan hidangan. Tiba-tiba aku melihat lelaki legam yang telah mencuriku itu berjalan menuju meja makan yang kemudian dibuntuti putri kecilnya dari belakang. Sesekali lelaki itu menunggu putri kecilnya mengayunkan langkah, kemudian ia berbalik dan mencium wajah mungil itu.

 

Terlepas dari romantisme ayah dan anak, si ibu juga tergopoh-gopoh dari belakang tak mau ketinggalan. Ia mengambil posisi di samping suaminya. Kemudian tersenyum pada si kecil yang kesusahan menjangkau hidangan. Membuatnya seperti seekor kucing yang hendak mencuri ikan. Si lelaki beserta istrinya tertawa saja melihat tingkah anaknya. Melihat anaknya yang tidak juga berhasil menjangkau apa pun, akhirnya si ibu membantunya. Oh, Ibu, aku yakin kau tak akan sebahagia mereka setelah aku tiada di pelukanmu. Aku ingin pulang. Aku ingin melepas tawa bersama ibuku yang renta. Tuhan, tolonglah aku, jeritku sendiri di kurungan toples yang tertutup rapat. Dan apapun yang kuteriakkan, pasti orang-orang di luar sana tak akan mendengar. Sungguh nasib malang yang tiada duanya. Terpisah dari ayah, dan kini dengan bunda.

 

Aku menangis sejadi-jadinya di dalam kurungan ini. Entah nasib apa lagi yang akan aku terima. Meskipun malam enggan menampakkan rembulan, namun aku masih bisa merasakan kepingan-kepingan cahaya yang berasal dari lampu hias di halaman rumah. Senyap. Lelaki legam dan istrinya telah terlelap, barangkali. Kukira begitu juga dengan putri kecilnya. Mungkin lelaki itu tengah khusyuk dengan dengkurannya. Memimpikan aku yang menguntungkan baginya. Menghasilkan banyak uang dari hasil penjualan batu cincin yang cantik sepertiku. Atau mungkin ia tengah bermimpi menjadi pejabat atau orang kaya. Ah, entahlah.

 

Namun malam ini, aku tak mampu terlelap barang sedikit pun. Bayangan nasib buruk yang selalu diwariskan kepada kami sebagai tahanan begitu jelas terpampang di mataku. Esok, barangkali aku akan menjadi penghias jemari pembeli yang berasal dari kota. Itu berarti aku akan benar-benar menghilang dari kampungku. Membayangkan hal itu, aku menjadi takut jika tak lagi bertemu ibu.

 

***

 

Pagi tak begitu cerah bagiku. Cahaya temaram lampu hias halaman kini berganti dengan sinar mentari yang menyusup dari ventilasi dan jendela yang telah dibuka sejak subuh tadi. Dalam tatapan mata yang sempoyongan aku menangkap tubuh lelaki legam itu mendekat ke arahku dan... glek! Aku tercekat. Tangannya mulai menggenggamku dengan kasar dan memasukkanku ke dalam sebuah plastik. Kemudian ia membuka tas ransel dan melemparku ke dalamnya. Aku hampir saja tak sadarkan diri. Namun dengan kepayahan aku berusaha mencari posisi aman di penjara yang lebih menyeramkan ini. Gelap dan pekat.

 

Tiba-tiba aku mendengar puluhan suara bangsa yang malang sepertiku tengah meratap-ratap di dalam kegelapan penjara ini. Aku semakin penasaran. Siapakah gerangan pemilik suara-suara itu? Aku perlahan menggelinding menuju sisi penjara lainnya. Dan ternyata, dugaanku memang benar adanya. Kami, batuan lumut yang akan menerima nasib yang sama: dijual dan ditempa. Aku memanggil ibu. Ya, mungkin saja ibu juga tertangkap setelah aku dipenjarakan lelaki legam itu. Berkali-kali aku memanggilnya. Namun tak ada sahutan yang membalas panggilanku. Aku nestapa. Sepertinya aku hanya menghabiskan suara di tengah hiruk-pikuk ratapan tahanan yang bernasib sama. Aku menunduk menyandarkan lelahku pada rajutan benang ransel yang bau tanah. Menangis sejadi-jadinya.

 

Aku mendengar bunyi mobil yang berjalan. Juga deru mesin yang terseok-seok di bebatuan jalan. Sesekali klakson pun berteriak bangga dengan suara yang lantang. Mungkin saja tengah menyapa kendaraan lain, pikirku. Perjalanan ini kurasakan begitu lama. Entah berapa kelokan yang telah dilewati. Mungkinkah perkiraanku benar? Kota adalah salah satu pemasok lembaran-lembaran berharga di desa kami. Namun paling tidak perjalanan kami menyatakan hal itu.

 

Perlahan deru mesin berhenti bersuara. Kudengar jelas lelaki legam itu turun dari mobil dan tubuh kami tumpang tindih mengikuti ayunan ranselnya. Ia berhenti dan menyapa seorang lelaki. Mereka mulai membicarakan tentang kami. Sesekali mereka tertawa dan kudengar lelaki legam itu menyebut namaku. Ya, ia menawarkan diriku pada lelaki pembeli itu dengan harga tinggi.

 

Tiba-tiba tangan legamnya menyembul dari mulut ransel dan merogohku. Aku pasrah. Kegelapan yang menemani perjalanan kami dari tadi akhirnya berganti rupa menjelma cahaya siang yang memanaskan ubun-ubun. Aku memandang lelaki legam dan pelanggannya itu dengan penuh dendam. Namun lelaki legam itu justru memuji-muji keindahan rupaku. Mengelus-elusku dengan tangan kasarnya. Aku berusaha memasang wajah garang. Namun sedikit pun tak berpengaruh bagi keduanya. Malah sekarang lelaki pembeli itu mengangguk-angguk mengiyakan ucapan si lelaki legam. Aku geram. Tiba-tiba beberapa uang lembaran menggantikanku kepada tangan yang lain. Tentu saja, tangan lelaki pembeli yang merasa puas memilikiku. Aku meronta, namun percuma.

 

Si lelaki legam meninggalkanku yang terkulai lemah di genggaman pelanggannya. Aku kemudian dibawa menuju jajaran bebatuan yang berbaris rapi dalam etalase kaca. Tiba-tiba aku melihat seperangkat mesin tempa yang siap memolesku menjadi batu cincin yang lebih indah. Aku takut. Kalut di tengah-tengah penjara baru. Beberapa menit lagi mungkin aku akan menjelma sesosok makhluk dengan rupa yang berbeda sehabis dikunyah oleh mesin baja ini. Benar-benar nasib yang kelam.

 

***

 

Aku merasakan sakit yang luar biasa ketika mesin itu mengoyak-ngoyak tubuhku. Mengiris-iris kulitku menjadi lelehan-lelehan darah. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Namun di sini nasib kami masih sama: dijual dan ditempa. Aku menikmati cucuran darah yang ikut menangisi penderitaanku. Aku membayangkan wajah ibu yang –bahkan- tak pernah menyakiti kulitku. Wajah renta miliknya selalu ketakutan ketika aku terjatuh sedikit saja. Tapi sekarang, wajah itu tak kutemukan lagi di mana-mana. Hanya harapan untuk melarikan dirilah yang mungkin bisa membantuku kembali ke pangkuan ibu.

 

Aku keluar dari mesin tempa dengan wajah berbeda. Lebih mulus dan lebih berwarna. Sebentar lagi. Ya, sebentar lagi aku akan dijual kembali kepada pemakai cincin. Entah siapa yang akan memilikiku selanjutnya. Tentu saja tangan-tangan halus dan jemari-jemari yang kekurangan pernak-pernik umpama rambut kepala. Dipasang di jari manis, atau jari tengah.

 

Semakin siang, kami-bebatuan cincin- semakin ramai ditatap dan disentuh tangan-tangan yang berbeda. Kadang juga dielus dan dipatut-patut di tengah cahaya. Aku tak terlalu susah payah untuk terus menjadi pajangan mata. Ya, seorang lelaki bertubuh bongsor separuh baya membeliku dengan harga tinggi. Ia begitu bangga dan menikmati keindahan rupaku. Aku menelan kepahitan ludahnya yang muncrat ketika ia tertawa memamerkan diriku pada istrinya yang juga bertubuh gembul. Setelah serah terima, pasangan itu membawaku keluar dari penjara ketiga.

 

Kurasa ia terlalu bahagia memilikiku sehingga tanpa sadar ia menjatuhkanku pada selokan kumuh di depan penjaraku itu. Ia mencoba menggapaiku namun ada jaring-jaring selokan dari besi yang menahan jangkauan tangannya. Seketika aku berpikir bahwa ini adalah saatnya aku harus melarikan diri. Secepatnya.

 

Tanpa pikir panjang lagi aku menggulingkan tubuhku mengikuti aliran air yang baunya sangat menyengat. Lelaki raksasa itu semakin mempercepat langkahnya mengikutiku. Aku tak ingat lagi entah berapa kali aku terjerembab dan masuk ke lorong-lorong kecil yang menyambungkan antara satu selokan dengan selokan yang lain. Lelaki raksasa itu terus saja mengejarku dengan langkah beratnya. Aku ketakutan akan ditangkap lagi dan kupercepat lariku menuju tempat paling aman untuk bersembunyi. Namun tiba-tiba tanpa kuduga lelaki itu telah berada beberapa meter di hadapanku dan tangannya telah terkembang melawan arus selokan untuk kembali menggenggamku.

 

Aku berteriak kencang dan berusaha menahan kecepatanku. Namun ternyata arus selokan ini memiliki tenaga yang begitu besar dan terus mendorongku untuk mendarat di telapak tangan lelaki raksasa itu. Aku tak mampu berkutik lagi dan pasrah atas nasibku pada tangan lelaki yang beberapa langkah lagi akan menggenggamku. Aku memejamkan mataku. Dadaku bergemuruh dan tiba-tiba petir menggelegar dan bersahut-sahutan di kelamnya langit yang berubah menyeramkan. Lelaki itu kaget bukan kepalang mendengar seruan petir yang begitu kencang. Ia menutup kedua telinganya sehingga ia lupa padaku. Pada sebongkah batu cincin yang ia tuju. Akhirnya aku berlalu di tengah kepanikan raksasa itu. Aku melayang riang bersama tetesan hujan yang perlahan berubah deras dan membuat lelaki itu kalang-kabut mencari jejakku. Kulihat raksasa itu semakin mengecil dan mengecil. Ia semakin jauh dari pandanganku.

 

Kini aku hanya tinggal menunggu hujan membersihkan selokan ini dan membawaku kepada sungaiku. Pada airnya yang kecokelatan seperti kopi susu yang sering diminum pegawai lurah di warung Mpok Nah. Pada sampah-sampah plastik dan dedaunan yang berjejeran menanti curahan hujan dan membawanya menuju nasib baik di muara sana. Pada pepasiran yang selalu menari-nari disapu air sungai. Pada ibu, perempuan pertama yang merasakan gundah ketika aku tengah terluka, meski sedikit saja. Padanya lelah ini pasti akan mengadu.

 

Namun apakah ibu masih berada di sungai tempat kami dahulu beradu nasib? Ataukah ibuku yang menjadi tawanan baru sebagai penggantiku? Tiba-tiba hatiku harap-harap cemas atas keberadaan ibu.

 

Tunggu, aku tiba-tiba merasakan sebongkah batu menabrakku dari belakang. Sebongkah batu yang kehilangan nyawa. Beku dan kurus kering. Sepertinya juga mengalami nasib sepertiku. Namun di balik wajah layunya yang terpoles sempurna, aku merasakan ia adalah perempuan yang kucari dan kudambakan untuk menyandarkan lelah ini padanya. Kini, telah kutemukan dalam jasad yang tak akan mampu lagi mendengarku berkeluh kesah. Aku mendekapnya. Erat. Ia tak membalas pelukanku. Aku memanggilnya dengan suara parau dan tangis yang lebih pedih dibandingkan tangisku yang mengalir deras ketika kebejatan lelaki-lelaki asing itu memenjarakanku. Namun perempuan itu tetap beku. Aku merasakan sebentar lagi ia terkubur senja. Senja berganti malam di sungaiku yang muram.

(Penulis adalah mahasiswa IAIN IB Padang yang bergiat di Rumah Kayu)




• Cerpen Terkait