Sastra Budaya › Cerpen


Semua Esok Terasa Lama

Sabtu, 02/04/2016 WIB | Oleh : Risya Wardani

Kalender biru yang berdiri tegak di atas meja buku sisi kanan ranjangku berjalan begitu lambat belakangan ini. Hujan November pun belum berlalu. Membuatku terasa semakin sepi sembilu bila sendiri diserang dingin dan angin kencang. Berselimut dan menyimpan bayangnya saja di sini. Iya, di dalam hatiku yang tak terukur. Entah sampai kapan rindu ini menjadi nyata?

 

Bukan aku tak ingin menyegerakan kekasihku berjabat tangan dengan waliku sedini mungkin. Namun begitu banyak pertimbangan yang masih menuntunku untuk sabar dilamarnya, kekasihku yang sudah memenuhi ruang hati ini. Bahkan nyaris memenuhi rongga apapun yang ada di dalam tubuhku. Kau benar-benar pencuri, Majid.

 

Aku tidak pernah ingat kapan ketika Majid meninggalkanku begitu jauh. Bandara International Minangkabau pun serasanya tidak pernah menjadi saksinya kepadaku tentang kepergiannya untuk kembali. Yang baru ku sadari, aku benar-benar berharap menjadi rumah untuk Majid pulang ketika dia sudah pergi.

 

Bahkan hari yang baik menjadi pertarunganku dengan diriku sendiri. Tentu saja tanpa menumpahkan darah. Hanya dengan segunung keyakinan dan tak cukup dengan segenggam kepercayaan.

 

Bagaimana jika nanti aku bukanlah alasan untuk Majid pulang? Itu pertanyaan yang selalu membuat percaya dan raguku salah paham.

 

***

 

“Tidurlah, di sana sudah malam,” pesannya dalam chatting messenger.

 

“Iya, jangan nakal kalau aku sudah tidur,” balasku.

 

“Iya, Raudha,” balasnya lagi.

 

Ketika dialog kami berakhir, sebenarnya aku tidak pernah langsung memejamkan mata. Bukan keinginanku, tapi hatiku begitu berat setiap kali harus mengakhiri obrolan kami yang rasanya begitu singkat.

 

Waktu Indonesia yang terpaut lima jam lebih cepat dari Libya membuat kami sedikit sulit menyesuaikan keadaan. Bagaimana tidak, ketika aku bangun pagi, dia baru saja terlelap. Ketika aku mungkin sudah pulang kuliah, dia baru hendak mengayunkan kaki menuntut ilmu. Saat kami baru membuka malam dengan senda gurau, larut begitu segera menyapa.

 

Pagi pun terasa begitu lama, pun siang sama saja. Mereka seperti sekongkol menjahitku melalui waktu. Matahari yang sudah meneduh rasanya seperti air yang melegakan keringnya tenggorokku. Kekasihku akan tiba jika matahari sudah tenggelam. Bahkan jika dibungkus hujan pun, senja tetap berjingga bagiku.

 

“Raudha...,” pesan Majid melalui Line.

 

“Iya, Majid,” balasku segera.

 

“Akhir tahun aku berencana pulang untukmu, Raudha,”

 

Aku hanya membacanya saja. Tidak tahu ingin membalas apa.

 

Dan 40 menit setelahnya, ponsel sudah digenggamanku lagi, aku mulai memainkan jari-jari kecilku di keyboard layar sentuh 3,5 inch. Aku begitu tahu dia sedang menunggu jawabku.

 

“Aku masih bergumul dengan tugas, Majid. Percayalah, seberapa lama Kau pulang, sebegitu lama pula nyamannya aku menunggu,” pada akhirnya tidak butuh berlama-lama balasanku terkirim dan kilat dibacanya.

 

Sudah setengah jam tidak ada balasan lagi darinya. Aku tahu di a tidak akan marah, dia tidak akan kecewa, Dia tidak akan ragu. Hatiku seolah-olah paling paham tentangnya. Iyakah begitu? Aku menelan ludah dan pergi meracik teh hangat untuk tubuhku yang tidak sedang dingin.

 

***

 

Musim hujan membuat dedaunan mahoni yang gugur pun semakin banyak dari biasanya. Awan kelam di bukit barisan hampir setiap saat menjadi kudapan mataku. Ku hitung bulan dengan jari di balik tirai krim kamarku. Terhitung masih 15 bulan lagi titik akhir jabatanku sebagai mahasiswa. Aku melemparkan pandanganku keluar lagi. Gerimis.

 

Gerimis membuatku bermalas-malasan meski matahari sudah mulai meninggi. Aku masih membaringkan tubuhku di atas ranjang merah maroon. Aku kembali memejamkan mata. Tidak! Aku terbelalak dan enggan terpejam lagi. Aku lupa bahwa aku sudah benar-benar tidak bisa memejamkan mataku dengan sengaja. Karena yang aku lihat bukanlah kegelapan, tapi Majid.

 

Pada akhirnya matahari mulai berjalan ke ufuk barat. Menenggelamkan sebagian kegagahannya di laut yang memerah. Waktu berlalu dalam kebisuan. Hanya suara mobil dan motor berlalu-lalang saja yang tiada henti membisingkan telinga. Selulerku akhirnya berdering. “Raudha, benar-banar aku sudah tidak ingin menunda, kapan kau siap?” pertanyaan itu lagi.

 

“Bersabarlah,” singkat kujawab.

 

Meski pada kenyataannya aku juga membuncah. Aku juga sama. Bahkan aku merasa halal jika dikatakan munafik akut jika berkata tentang “Sabar.” Akhir kelelahanku berdialog dengan diriku sendiri adalah dengan melemparkan pandanganku ke tumpukan buku-buku yang sudah menunggu untuk kujamah.

 

***

 

Suatu waktu kita akan bertemu dengan debaran-debaran yang akan menyesakkan. Disaat aku sudah merdeka dari kampus ini. Lalu Kau datang memintaku, Majid. Ah, ini bukan impian yang berlebihan. Rasanya begitu. Sebab sekarang, aku masih meracik labil menjadi kedewasaan.

 

Malam ini aku kembali sulit tertidur. Bayangnya di sini. Rasanya Dia begitu dekat meski pada kenyataannya kami terpisah jarak ribuan kilo mil. Aku menajamkan mataku seakan-akan benar-benar melihat matanya, hidungnya, bibirnya, dagunya, alisnya, rambutnya, telinganya. Dia, aku kembali memejamkan mataku, Dia lagi yang tampak, Majid, Kau begitu mengganggu. Mengganggu sekali!

 

Bahkan ketika aku terbangun dipagi hari, aku tak pernah menyadari, kapan aku tertidur?

 

***

 

Aku mencoba untuk kembali berdamai dengan waktu. Biar masa sulit yang sebentar ini tidak terasa panjang. Biar musim hujan ini terasa cepat berlalu. Aku benar-benar percaya diri kali ini.

 

Aku sudah mandi pagi-pagi sekali. Sebelum jam 7 tepat aku keluar menunggu angkutan kota untuk mengantarku menuju kampus. Burung-burung gereja yang berlarian di halaman kampus kusapa semua tanpa terkecuali. “Selamat pagi, duhai kau yang bersayap,” dengan senyum melebar, semangatku begitu berapi. “Biar cepat tamat,” begitu gumamku. Sambil tertawa sendiri dan memasuki ruangan.

 

Kaca ruangan yang berembun membuat jari-jariku gatal ingin melukis namanya. Sebab masih terlalu pagi, ruangan 5x6 bercat kuning muda ini seperti milikku sendiri. Jariku mulai menjamah kaca. Satu nama kutulis. Iya. Hanya satu nama. Majid.

 

Setengah jam sendiri. Ruangan mulai terisi penuh. Aku mencoret kembali nama kekasihku yang tergores jelas di tengah jendela kaca ke empat. Bukan. Bukan karena aku ingin benar-benar menghilangkannya. Aku terlalu segan dengan penghuni ruangan yang lain jika mereka melihat kelakuanku.

 

Kau pun nyatanya sudah hidup disini, bukan? Di hatiku.

 

Sebelum perkuliahan benar-benar dimulai, aku terbiasa mengecek seluler untuk kemudian kunonaktifkan. Ternyata ada empat belas pesan via Line yang belum kubaca:

 

“Tahukah engkau rindu?”

 

“Disetiap detak langkah dan aliran napasku,”

 

“Selalu kujejak namamu,”

 

“Tentang pentingnya jawaban,”

 

“Yang kekal di kediaman,”

 

“Entahlah,”

 

“Serasa tak sanggup ini kujalani,”

 

“Aku ingin segera pulih,”

 

“Aku ingin Kau segera di sini,”

 

“Ya, di sini,”

 

“Dalam dekap,”

 

“Nyatanya Kau terlalu jauh dari ragaku,”

 

“Aku rindu,”

 

“Rindu sekali.”

 

Apa-apaan ini? Mataku terbelalak tak berkedip. Jantungku kemana? Aku bertanya sendiri. Aku menatap kaca ruangan dan menutup mataku sejenak. Berharap ketika aku membuka mata kembali, langit sudah menjelajahi hari yang kami impikan. Pernikahan.

*(Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam)




• Cerpen Terkait