Sastra Budaya › Essay


Karena Manusia Perlu Bergaul

Sabtu, 02/04/2016 WIB | Oleh : Maria Ulfa

Manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang tidak akan bisa hidup tanpa orang lain. Sebut saja satu orang paling hebat di dunia, paling terkenal di dunia, paling berprestasi di dunia, paling disegani di dunia, paling kaya di dunia, atau orang yang memiliki predikat “paling-paling” yang lainnya di dunia ini. Adakah dia bisa hidup tanpa adanya orang lain? Hal ini menunjukkan seberapa pun hebatnya seseorang, tetap saja dia tidak akan bisa hidup sendiri.

 

Contohnya, untuk membuat sebuah baju, kita memerlukan bantuan banyak orang. Mulai dari petani kapas, orang yang memintal kapas menjadi benang, orang yang menenun benang menjadi kain, orang yang menjahit kain menjadi baju, dan orang yang membuat aksesoris baju. Coba hitung, sudah berapa orang yang kita butuhkan untuk membuat satu buah baju. Belum lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang lainnya. Begitulah betapa pentingnya pergaulan dalam hidup ini.

 

Dalam hidup, kita membutuhkan orang lain untuk mengawal hidup kita, untuk saling menutupi kekurangan dan berbagi kelebihan satu sama lain. Sebab sudah jelaslah bahwa tidak ada manusia di dunia ini yang diciptakan Allah dengan segala kesempurnaan tanpa kekurangan barang sedikitpun. Bahkan orang yang dikatakan berakhlak dalam pandangan agama Islam adalah orang yang menjaga dua hal, yaitu hablum minallah dan hablum minannas. Hablum minallah adalah bagaimana hubungan orang tersebut dengan Allah, dan hablum minan-nas adalah bagaimana hubungan orang tersebut dengan sesama manusia.

 

Pergaulan yang baik dengan sesama manusia adalah sesuatu yang sangat ditekankan dalam agama Islam, meskipun sebaiknya keduanya harus berjalan seimbang. Manusia harus bisa mengatur dan menyeimbangkan keduanya sebaik-baiknya, sebab tak bisa dipungkiri kemana pun manusia itu melangkah, ia masih memerlukan orang lain dalam setiap langkahnya. Bahkan orang yang terdampar sendirian di pulau tak berpenghuni pun masih mengharapkan bantuan orang lain untuk menolongnya. Terlalu mementingkan hubungan dengan Allah sehingga membuat manusia menjadi merasa dirinya tidak lagi memerlukan orang lain adalah keangkuhan, sebab jika ia meninggal dunia, siapa yang akan mengurus jenazahnya? begitu pula sebaliknya terlalu mementingkan hubungan dengan manusia sehingga lupa akan kewajibannya kepada Allah juga merupakan hal yang tidak baik. Sebab siapa yang telah menciptakan dirinya? siapa yang memberinya pertolongan? padahal segala sesuatu terjadi semata-mata karena kuasa Allah.

 

Ada beberapa hal yang menyebabkan manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Pertama, karena manusia butuh makan. Memang benar makanan bisa lagsung didapat dari alam, tetapi sayangnya tidak semua dapat dimakan mentah-mentah oleh manusia. Buktinya, ketika kita ingin memakan nasi, kita membutuhkan adanya petani yang menanam beras, kita membutuhkan mesin yang dapat memisahkan padi dari kulitnya, kita membutuhkan alat untuk memasaknya sampai menjadi nasi, lalu kita juga membutuhkan piring dan sendok untuk tempat nasi yang siap dimakan. Seandainya manusia melakukan semuanya sendiri, mungkin beras tidak akan menjadi makanan pokok bagi manusia.

 

Kedua, karena manusia perlu mempertahankan diri. Sama seperti mahluk Allah yang lainnya, manusia juga ingin tetap bertahan hidup. Terbukti ketika kita sakit, yang paling kita butuhkan saat itu adalah adanya orang yang melayani kita, seperti keluarga, dokter, atau siapapun yang dapat membantunya agar penyakitnya tidak semakin parah. Manusia memiliki rasa takut mati.

 

Ketiga, karena manusia harus meneruskan keturunannya dan melangsungkan jenisnya. Terbayangkan seandainya manusia tidak berinteraksi satu sama lain? manusia hanya akan hidup dalam satu periode, dan setelah semua manusia pada periode itu mati maka sudah tidak ada lagi manusia. Terbayang dalam pikiran saya, mungkin yang akan ada hanyalah Adam seorang diri.

 

Pentingnya pergaulan sesama manusia juga disebabkan karena manusia membutuhkan tanggapan emosional berupa dukungan, kasih sayang, pengakuan, pujian, juga kritikan dari orang lain yang akan membantu dirinya dalam pembentukan watak.

 

Pergaulan seseorang berbeda seiring dengan perkembangan usia, mulai dari anak-anak, remaja, dewasa dan usia lanjut. Perbedaan itu diakibatkan oleh adanya faktor cara berpikir dan pengalaman-pengalaman pergaulan yang telah dialami seseorang dalam hidupnya. Anak-anak cenderung lebih nyaman bergaul dengan sesama usianya daripada dengan orang dewasa, karena cara berpikir anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Anak-anak lebih banyak bermain sedangkan orang dewasa lebih banyak serius.

 

Anak-anak lebih mudah bergaul dibandingkan dengan orang dewasa. Anak-anak tidak pernah berpikir dengan siapa dia berteman, bagaimana status, darimana asal-usul, bagaimana keadaan ekonomi orangtua, atau bagaimana keadaan fisik temannya. Anak-anak lebih mudah menerima temannya apa adanya. Sebab itulah maka ada yang mengatakan bahwa, pergaulan yang suci itu adalah pergaulan anak-anak. Lihatlah bagaimana anak-anak yang bertengkar dengan temannya, dengan mudah bisa memaafkan dan melupakan kesalahan temannya dalam waktu singkat, kemudian terlihat seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Seperti kartun Tom and Jarry, yang kadang-kadang bertengkar, kadang-kadang berteman, namun tidak saling menaruh dendam.

 

Berbeda lagi dengan pergaulan remaja. Remaja cenderung suka berkumpul dengan teman-temannya. Remaja juga cenderung mengikuti gaya orang lain yang mereka anggap keren. Perkumpulan-perkumpulan remaja disebut geng. Biasanya setiap anggota geng memiliki latar belakang yang sama.

 

Seiring bertambahnya usia, pergaulan seseorang semakin menyempit. Orang dewasa biasanya hanya bergaul dengan orang-orang yang sejalan dengan pikiran dan tujuan hidupnya, misalnya sama-sama  bekerja di suatu perusahaan, sama-sama dalam suatu organisasi, atau sama-sama tinggal di suatu tempat. Orang dewasa perlahan-lahan akan semakin sedikit bergaul. Alasannya, orang dewasa lebih disibukkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan atau keluarga mereka, sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk berkumpul dengan teman-temannya, seperti di masa remaja. Begitu juga orang tua, semakin tua umur seseorang, semakin sedikit bergaul, meskipun orang tersebut mempunyai banyak kenalan sebelumnya.

 

Saat ini sudah banyak teknologi yang membantu memperluas pergaulan. seseorang bergaul dengan orang lain tanpa perlu bertatap muka langsung. Hanya perlu menggunakan sebuah alat canggih, dengan mudah kita dapat ngobrol, SMS, atau chating di dunia maya. Mereka seakan-akan memiliki banyak teman meskipun berada di tempat yang paling sepi sekalipun.

 

Sayangnya, teknologi yang semakin canggih juga memiliki dampak buruk terhadap pergaulan. Dunia maya akan membuat seseorang merasa memiliki banyak teman, padahal di dunia nyata justru orang tersebut susah bergaul dengan orang-orang di sekelilingnya.

 

Sepuluh tahun yang akan datang, kita akan dengan mudah bergaul dengan siapa pun. Kita akan mudah mencari teman hanya dengan sekali menyentuh benda ajaib yang entah apa lagi namanya nanti. Tapi saya sendiri ragu apakah orang-orang masih peka terhadap lingkungan sekitar?

(Penulis Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di IAIN Imam Bonjol Padang)




• Essay Terkait