Sastra Budaya › Puisi


Sebuah Sunyi yang Kunamai Puisi

Sabtu, 02/04/2016 WIB | Oleh : Firman Nofeki

Aku pernah memiliki satu rindu yang utuh dalam diriku, Hawa

Setengahnya telah kusimpan dalam puisi

Setengahnya lagi kusimpan di ruang takdirku yang sunyi

 

Dengan lengking kesedihan apalagi harus ku eja kalimat perpisahan itu

Sedang dalam kata-kata

Kutemu kubah-kubah kehangatan

Dimana azan-azan pengharapan acapkali aku kumandangkan

Menggelayuti ranting-ranting alinea yang gugur ditimpa bongkahan do'a-do'a

 

Jika di dunia yang lebih gila dari pada fiksi ini

Bertatap lewat mata terlalu mustahil kita jadikan cara untuk menyatukan rindu yang terbagi

Maka aku hanya ingin meletakkan jantung pertemuan itu di sebuah sunyi yang kunamai puisi

 

Sebab dalam kata-kata

Telah mampu ku eja warna kota yang buta

Kota dengan tikungan narasi perpisahan  paling tajam

Menghantarku pada kenangan di ujung jalan ;

Sisa pertemuan yang gagal kita tabrakkan pada dinding takdir berlapis kerinduan

 

Aku telah lama terjebak negeri yang tidak memiliki gigil dan hujan ini

Sebab angkasa dan langit-langitnya adalah bayang-bayangmu

Hari-harinya adalah kumpulan bait-bait kesepian yang tak pernah renta dimakan usia

Aku terus hidup sebagai perindu yang suci

Yang tidak terjamah kebahagiaannya sendiri

 

Disebuah sunyi yang kunamai puisi ini

Jarak mengundi waktu di meja ingatanku yang lumpuh

Menghitung sisa-sisa hari yang akan kupertaruhkan pada Sang pemilik teguh permainan semu dunia ini

Melebarkan kaki pertemuan yang masih terbelenggu di jangkar bumi

 

Namun pada lengkingan peluit hari ke berapa pengembaraan itu musti kumulai

Sedang disebuah sunyi yang kunamai puisi ini

Aku masih merinduimu, dari dasar andai-andai dengan terpaan angan paling gila

Aku masih mencintaimu, dari sudut terdalam ego yang entah kapan akan binasa




• Puisi Terkait