Sastra Budaya › Cerpen


Neraka di Semi Permanen

Jumat, 03/06/2016 WIB | Oleh : Silvia Wulandari

 Piak …. Piak… oi Piak, Ndak ka kau tolongan den doh, suara amak Upiak sambil melempar batu ke arah Upiak. Badan kecil kusam tak terurus selalu dipertahankannya setiap hari dengan pakaian seadanya.


 Dentuman batu beradu batu setiap hari terdengar di rumah yang baru separuh jadi dengan dua petak ruangan semi permanen, rumah kumuh yang diisi tujuh anak manusia. Idar kian Ia dipanggil para tetangga, orang yang menghidupi lima anaknya dengan upah tokok jariang sesekali bertanam padi di sawah orang dengan upah yang dapat sore habis sore, yang berarti hanya singgah sebentar di uncang Idar.


 Pagi bertemu pagi Ia lewati tanpa mengadu batu bila tiba musimnya. Upiak hanya terdiam menanti batu yang melayang kearahnya sambil menahan sentuhan batu yang baru saja mendarat dibahu kiri Upiak. Iyo mak, dengan tangis yang jatuh kedalam. Tangis Upiak yang hanya mengeluarkan isak sesekali dilihat ayahnya yang duduk di atas lapiak buruak  di pintu ruang tidur sekaligus ruang makan keluarga sambil mengurut-ngurut kaki dengan minyak tanah dicampur bawang.


 Tak kuasa memang Bujang melihat rumahtangganya seperti itu, tapi apalah dikata nasibnya sudah tertulis demikian.


 Sakit lumpuh yang diderita Bujang sejak sepuluh tahun terakir sangat berat dirasa Idar, Idar harus menghidupi lima anak dengan lengannya sendiri. Tidak pandang jenis pekerjaan apapun dilakukan Idar demi periuk besok hari. Terbiasa hidup susah dan tidak sekolah perangai pun tidak tererah, periuk meloncat ke kepala anak itu soal biasa, lidi menggeluti kaki anak sudah rutinitas harian, hidup keras itu kebiasaan untuk Idar dan keluarga. Adu mulut yang disaksikan orang sepanjang jalan kerap menjadi tontonan tetangga dan bahan santapan pagi untuk pengguna jalan sampai hilang dengung suara Idar.


 Kerap tampil kusam dan mata sayu, Bujang yang tidak berdaya hanya bergantung hidup dengan istrinya juga tidak tahu dengan untung yang mendera, bujang yang sudah didik dengan umur juga kerap berkata kasar dan tidak pantas kepada Idar yang menjadi tali begantungnya, sifat cemburu Bujang yang berlebihan sering menjadi awal perperangan dirumah itu. Idar yang kerap dicemburui Bujang dengan orang lain, walaupun tidak pantas tapi masih saja cemburu.


 Dibalik kemelut masalah ekonomi Idar juga menanggung curiga dari suami yang hanya terdiam menunggunya pulang dengan mejujung panci yang sudah berubah warna karena nasip dan penanggunganya. Kerap dicurigai Idar bosan, capek hati capek pikiran dalam batin Idar dengan wajah malas dan kesal. Tidak kunjung diam Bujang selalu mempertanyakan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Idar sebelumnya. Tidak sekali Bujang membahas kecurigaanya tentang kedekatan Idar dengan orang yang tidak tahu ujud dan keberadaannya dan sebanyak itu pula Idar melawan dan beradu mulut denganya.


 Entah darimana Bujang melihat aroma perselingkuhan yang ditebarkan Idar diluar sana dengan lelaki itu, Bujang hanya duduk dan merenungi yang terjadi pada hidupnya selama yang ia ingat. Sudah sepuluh tahun ia hanya bisa berbaring, duduk dan bergeser sedikit demi sedikit untuk bisa keluar melihat matahari pagi. Dan itupun jarang dilakukanya karena Bujang anti Matahari pagi dan jarang mandi.


 Idar terus mengupat dalam hatinya sambil komat-kamit berjalan menuju tempat bertopangnya pariuak sanduak Idar. hantinya terus resah dan kesal mengingat yang baru terjadi.


 Lado sa ons ni, bawang sibu. sorak Idar sembari menahan diri.


 Petaka tiba, terlalu lama di lapau apapun jadi santapan termasuk aib rumah tangga. Cerita-cerita, akhirnya mulut para ibu rumahtangga terseret ke kehidupan keluarga, semua keluarga di mulut mereka. Juga keluarga Idar.


 Musim bertanam padi tiba, Idar yang pantang absen berada di sawah kini menanami sawah warga dengan beberapa rekan.  Pantang mulut diam saat menanami di sawah, semua kaji dibaca semua hapalan dikeluarkan. termasuk Buya, kisah-kisah masa lalu, masa sekarang, masa depan Buya seakan berada dimulut mereka. Lelaki paruh baya yang ditelantarkan anak istrinya kini jadi santapan lahap para mulut petarung tua.


 Banyak mulut-mulut jahil yang mengadu masa depan Idar dengan Buya, semakin hari kisah Idar dengan Buya semakin terkuak sampai ketelinga Bujang. Rumahtangga bujang dengan Idar semakin berapi-api. Anak lima yang dulu stres kini semakin menjadi gila, galau, dilema, takut, tapi sudah kebal dengan keadaan yang sudah tesurat ditangan mereka.


 Pagi menyambut matahari dengan sejuta harapan. Tas sudah di tangan, baju sudah berganti, bedak sudah menyapu pipi, tinggal ojek yang akan menjemput mereka ke persimpangan dua sijoli, Buya dan Idar.


 Bujang merajuk, termenung ditinggal pergi Idar dengan Buya tapi mulut terpaku oleh keadaan yang merantainya untuk diam. Kini Bujang tinggal di rumah semi permanen bersama ke tiga anaknya yang dititip oleh Idar dengan kelumpuhannya.





• Cerpen Terkait