Sastra Budaya › Cerpen


Mata Air Air Mata

Minggu, 16/10/2016 WIB | Oleh : Firman Nofeki

Aku air mata. Setiap kali bani Adam nuzul dari sulbinya, Tuhan menyadukku untuk diberi tahta diatas cawan-cawan hati manusia. Disanalah aku berbaur dengan segala penghuni abstrak lain yang tak terlihat. Kesenangan hidup, luka atas nasib buruk, dan penderitaan yang kejam yang memiliki tahta mereka sendiri-sendiri di kota asing ini. Kota yang pernah purba oleh kesendirian, dan terbakar oleh amarah yang membara.

 

Aku tak pernah menyangka ada sebuah kota yang hancur seperti ini. Akibat dilanda kebakaran dan bencanakah? Atau ini sebuah kota yang pernah ada ratusan abad yang lalu, dan Ia membawaku mengunjunginya kembali. Tuhan bilang aku memiliki seorang teman disini. Tapi siapa dan dimana ia? Andai Ia tahu, yang ingin aku lakukan adalah segera keluar dari kota ini. Dan kuceritakan pada temanku itu, prihal waktu yang pernah membakar sendiri dikotaku.

 

Entah sudah berapa lama aku sampai ditempat ini. Tiba-tiba aku merasa tengah berdiri dibibir jurang yang curam. Dan bila sepatah saja terlintas, sa’at itu pula tubuhku meluncur dalam dekapan sang bayu. Menimpal batu-batu runcing, tersungkur dihamparan pasir-pasir.

 

*

Tel  aviv, 16 maret 

 

Raungan rem yang diinjak kuat membuat kepala lelaki yang masih tertidur itu tertubruk kekursi depan. Truk berhenti disamping Hadanah. Didepannya menjulang gedung berlantai tiga. Berdiri sebuah plang yang bertuliskan ‘’GEDUNG KEDUTAAN’’. Dev mulai sibuk mengemasi ransel hitamnya yang terbuka. Menyetel kamera digital yang telah dilengkapi ‘’Voice Audio Respons’’ VAR 623 buatan Amerika. Diprogram untuk merekam suara ketika menjepret gambar. Salah satu taktik menjadi agen mata-mata rahasia sewaktu ia latihan militer di Pakistan. Sebuah taktik rahasia yang biasa dipakai CIA ataupun FBI.

 

‘’kum ya akhi’’, Dev menepuk pundak yasser,membangunkannya. Pemuda itu mengeliat sambil membenarkan arah kacamata yang mulai menyikut hidungnya. Didalam tidur ia bermimpi bergulat dengan anjing-anjing pelacak tentara yang kejam. Ia mencium anyir darah bersimbah didedaunan zaitun. Yasser tersenyum. Devid pun tersenyum. Senyum yang hanya mampu dibaca oleh semilir angin dikotaku.

 

*

 

Halaman gedung kedutaan serupa dipenuhi semut-semut hitam berdasi. Pakaian-pakaian mereka, obrolan mereka, tawa mereka, sangat berbeda dengan orang-orang dikotaku, yang hanya bercerita tentang kelaparan, jiwa-jiwa yang mati, dan mata air yang mengering di telaga Al-gharrabi.

 

Ribuan tentara yang bertugas semakin mempersempit ruas jalan. Lidah-lidah berdecakan mencipta kebisingan. Yasser dan Devid memasuki sebuah ruang oval berlabel ‘’RUANG PERTEMUAN’.  Terlihat beberapa anggota bagian tinggi senat meneliti arsip laporan dari intelligen. Komisi tinggi senat tidak akan memberi ampun bagi mata-mata yang berkeliaran digedung kedutaan. Kepala mereka tentu saja bisa menjadi sasaran empuk senapan.

 

‘’tenang kawan ! jangan cemas ! ‘’ Dev menepuk pundak Yasser  sewaktu membaca keraguan di kedua matanya.

‘’apa kau yakin misi ini akan berhasil Dev ?’’
Ia hanya tersenyum sembari berdiri kearah jendela. Menyapu pandangan pada asap-asap hitam yang mengepul.

‘’Allah akan selalu bersama hamba-hamba yang berbuat baik dijalan-Nya. Innallaha ma’ana, Allah bersama kita, InsyaAllah.’’

*

Ramallah, 21 maret

Pemuda itu terus mengeliat dibalik gang-gang pasar kota Ramallah. Dari jauh kudengar mulutnya terus mengerang kesakitan. Sesekali erangan itu berubah kalimat tahlil yang menebarkan semangat jihad para mujahidan yang sedang diincar mulut-mulut bazoka tentara jahanam itu. Pegangan tangan dilutut kirinya semakin kuat menahan aliran darah yang membuat betis putihnya menjadi merah. Algojo jahanam itu sempat melayangkan dua butir peluru kelutut kirinya, ketika ia berlari mencari bantuan keperbatasan al-gharrafa.
                Sementara diudara helikopter-helikopter apache terus memburu. Ledakan demi ledakan menggugurkan dedaunan pohon disampingnya.  Membangunkanku yang telah lama lama terlelap. Baru saja aku berdiri dan hendak keluar, sang bayu mendorongku kembali.
                Asap dan debu mengepul kelangit. Mengakhiri ledakan bercampur teriakan dan jeritan. Meski tidak berada disana, namun aku mampu melihat tubuh-tubuh hancur itu berhamburan dijalanan,  gedung-gedung terbakar yang tinggal sejengkal dengan tanah, pasir-pasir yang mengepul kelangit , batu-batu, jalanan yang menyatu dengan kabut, bahkan ketika ku mendogak keluar langit kotaku demikian kelam.
                para lelaki akan memeluk istri dan anak-anaknya yang tidak lagi bernyawa. Tengkorak-tengkorak pejuang kan menggelinding dijalanan. Sungai al-qasam mengeruh merah, membawa kalimat jihad itu kelaut mediterania.
Pandangannya makin berat menatap senja yang menutupi kota. Dalam hati ia bertanya ‘’kapan senyum itu akan mengembang disini? ‘’ bukan lagi senyum dalam lontaran batu, mesiu dan peluru. Memang selama ini ia tersenyum. Tersenyum ketika anjing-anjing pelacak itu mengoyak tubuh wanita dan anak-anak. Tersenyum ketika roh-roh pendahulu kami terbang ke jannah Azzawajala. Kapan kota ini akan tersenyum melihat anak-anak mereka tidur terlelap. Melihat para pemuda tenang merapatkan shaf di Al-Aqsha. Melihat ibu-ibu menyucikan baju dan membuatkan susu untuk bayi-bayi mereka. Melihat anak-anak bernyanyi Biladi biladi di hadanah. Bermain, tertawa, belajar merangkai kata merdeka untuk palestina.
*

Terowongan, 21 maret

               Seorang laki-laki tengah terengah-engah memopong temannya menuju terowongan. Disibaknya semak-semak yang menutupi jalan. Beberapa orang laki-laki membantu menurunkan Yasser yang terkulai lemah.

‘’hati-hati !’’, ucap Devid sambil menutup pintu terowongan. Udara segar berganti padat dan pengap. Hanya laring-laring kecil tempat silih bergantinya udara. Bau sampah, keringat dan mayat membaur. Devid menutup hidung.

‘’hidup mengendap serupa ulat, mati, dan menjadi bangkai ulat yang kelaparan. Ini rumah sekaligus kuburan. Hidup berdampingan dengan orang-orang yang telah mati. Melihat wajah-wajah mereka tersenyum menyaksikan keindahan syurga. Semua orang pasti akan kembali menjadi tanah bukan?’’ ujar syeikh Ahmad sambil menepuk bahu devid.
Kemanapun kami pergi, keseluruh penjuru sudut kota ini, sindrom kematian itu terus menyusupi dada-dada kami. Kami lebih senang mati seperti ini. Mati dalam keadaan utuh, tenang dan damai. Dari pada mati serupa binatang. Mati dihujami rudal dan peluru. Dan melihat tubuh-tubuh hancur berhamburan. Tidak adakah yang tahu betapa berat arti sebuah kehilangan. Memporak porandakan keharmonisan yang susah payah kami bangun. Melenyapkan nyawa bayi-bayi yang tidak mengerti arti sebuah pertempuran.
Maka ditempat inilah kami membesarkan bayi-bayi kami. Mengajarkan mereka merangkak dalam gelap. Mengajari mereka arti sebuah perdamaian, cara memuji tuhan dan membaca al-qur’an.

 Ya, membaca al-qur’an. Bahkan setiap waktu selalu ada anak-anak kami yang hafal al-qur’an. Rukuk dan sujud bersama, menangis bersama dan berdo’a bersama. Dari pada diluar sana, kami melihat setiap hari kitab-kitab kami dibakar, dan masjid kami merata dengan tanah.
Disini waktu bagi kami hanyalah kegelapan. Tak ada pagi dan siang. Tak ada panas dan hujan. Kami bukan lagi manusia yang terikat dengan matahari. Tentu kami juga merindukan langit, awan-awan dan rerumputan. Merindukan matahari terbit dan tenggelam. Merindukan berdiri diatas kaki kami sendiri.
Disini penglihatan dan pendengaran kami menjadi luar biasa. Setiap sa’at terdengar suara dentingan sendok beradu dengan piring mereka. Suara kran air mereka ketika mandi, suara radio yang mereka setel dan acara televisi yang menyajikan siaran kekejaman mereka. Kami melihat anak-anak mereka berseragam  bersih dan rapi berangkat ke sekolah, sedangkan pakaian anak-anak kami kumuh Karena harus merunduk didalam tanah. Kami melihat lampu-lampu mereka terang menyala, sedangkan kami harus mencuri minyak dari tank-tank baja mereka.''
*

Ramallah, 22 maret

                Sebagian dari orang-orang itu sudah kembali untuk menyelamatkan diri. Sedang aku masih terbaring kaku disini. Sesekali keluar menjenguk angin yang berdesir dihamparan pasir-pasir. Menyaksikan gemintal kabut mengangkat roh-roh mereka. Entah sudah berapa lama aku berjalan sampai kemudian sampai ditempat ini. Sebuah kota yang tinggal puing. Tak ada tanda-tanda bahwa kebahagiaan pernah singgah ke kota ini.
*
                Dua orang laki-laki itu terus menembus belukar. Rumput-rumput liar telah berubah kehitaman akibat debu dari bom-bom asap. Tujuan mereka adalah ujung jalan al-Gharrafa. Untuk mencapainya dibutuhkan jalan kerikil yang menanjak. Sungguh sulit bagi Yasser yang harus berjalan terpincang. Belum lagi ancaman dari tentara biadab yang siap membredel tembakan kearah mereka.
                Sesampainya di perbatasan Raffah, mereka akan menumpang truk bantuan kemanusiaan dari mesir. Kemudian menemui dewan keamanan PBB dan menyerahkan rekaman dokumen penting yang tersimpan di ransel mereka. Membongkar kebohongan mereka dimata media dan dunia.
‘’Apakah kau yakin ini akan aman, Dev ?’’ Yasser yang terpincang-pincang mulai tanpak kelelahan.
‘’Berdo’alah ! mudah-mudahan jiwa kemanusiaan mereka timbul untuk para jurnalis seperti kita’’.
Devid dan Yasser tersenyum bersamaan. Senyum yang hanya mampu dibaca oleh angina dingin di kotaku.
*
                Teriakan jihad menembus kabut, menelusup pemandangan. Bau mesiu dan asap menyatu dengan lemparan batu dan hujaman peluru.
‘’khaibar khaibar ya yahuudd’’.  Yel-yel kebencian mulai terdengar diteriakkan. Helikopter-helikopter Apache mengoperasi udara. Ledakan demi ledakan menyinari kegelapan.
‘’Allahu akbar, jasyu Muhammad saufa yauud’’. Teriakan-teriakan itu beradu dengan suara peluru yang menembus dada mereka. Akupun berlari keluar mendekati tubuh-tubuh lemah yang tersungkur. Namun sayang, aku keburu jatuh menimpal gundukan pasir-pasir. Kemudian aku menemukan sebuah mata air. Warna merah dan pekat seketika membanjiri tubuhku.
*
                Devid dan Yasser memotong jalan kosong al-Gharrafa. Dari arah timur dan selatan dua buah helikopter Apache mengikuti. Bom-bom berjatuhan. Dev dan Yasser memacu langkah sekuat tenaga. Yasser yang terpaksa berlari sambil memegangi lutut kirinya kehilangan keseimbangan. Sekonyong-konyong tubuhnya terjerembab ketengah hamparan pasir-pasir. Dari arah utara dan barat dua buah tank baja mendekat. Namun sayang, Devid yang sudah terpisah jauh tak sempat menarik tangan Yasser. Jantungnya berdegup kencang. Nafasnya diburu rasa cemas dan takut yang saling beradu. Terlihat dua orang berseragam berbadan tegap keluar , memukul jidat Yasser dengan ekor senapan.  Yasser terjerembab. Akupun berlari dan mengejarnya. Tiba-tiba, ‘’Dor…Dor..Dor..’’ letupan-letupan itu kembali membuatku terjerembab dihamparan pasir-pasir. Dengan lembut kuusap kedua pipi Yasser. Seketika mata air itu kembali memuncrat menggenangi tubuhku. Sebuah mata air yang lain. Bewarna merah, bermuara disekitar tubuhnya.
Dari kejauhan Yasser sempat melambaikan tangan dan tersenyum kepada devid. Sebelum kepala dan dadanya dibredel dengan rentetan peluru.
*
                Jalan lebar dan terbuka mulai terbentang dihadapannya. Sedih, senang dan takut menelan bulat-bulat hati Devid. Dari kejauhan sebuah truk melaju kearah dimana ia berdiri. Dalam hati ia yakin itu sebuah truk kemanusiaan. Devid mencoba melambaikan tangan. Seorang laki-laki mengulurkan tangan keluar, ‘’Dorr’’… sebuah benda bulat tumpul meledak menerkam dadanya. Devid terjerembab. Sebagian tubuhnya menyentuh bidang jalan. Aku pun berlari menuju Devid. Namun terlambat, tubuhku kembali jatuh menyentuh pasir-pasir.
Dua orang berpakaian militer turun. Salah seorang merenggut ransel dari punggung Devid, sebelum dua butir peluru lagi dilesatkan kearah leher dan dadanya. Bus itu kemudian melaju kencang meninggalkan Devid yang sedang diambang syurga.
Seketika mata air itu juga memuncrat disekitar tubuh Devid. Membasahi tubuhku yang masih terjerembab dihamparan pasir-pasir.

 

Ternyata, inilah mata air lain yang dijanjikan oleh Allah sebagai teman untukku. Mata air yang memuncrat dari tubuh mujahid-mujahid kota tua, Palestina. Teman abadi yang akan menjadi saksi untuk mereka para mujahid ini, kelak di syurga.

*

Note
Kum ya akhi : bangun ya saudaraku
Hadanah : taman kanak-kanak
Biladi-biladi : lagu kebangsaan palestina




• Cerpen Terkait