Sastra Budaya › Cerpen


Pos Barzah

Kamis, 09/03/2017 WIB | Oleh : Firman Nofeki

 Hujan baru saja reda.Tinggal sisa gerimis kecil dan bau lembab udara yang menempel berbentuk bulatan kristal di kaca jendela asrama. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Ternyata aku sudah tertidur dua jam lebih. Samar-samar ku lihat Mila masih asyik menulis di meja belajarnya.   

 

"Belum tidur Mil ?,” sapaku, disertai uapan panjang pertanda kantuk masih menjalari seluruh tubuhku. Mila agak kaget dengan sapaan ku yang datang tiba-tiba. "Belum Din, aku belum ngantuk’’. Tanpa menghiraukan aku lagi dia melanjutkan kembali kegitan menulisnya. ‘’Mungkin dia sedang menyelesaikan tugasnya,’’ fikirku dalam hati. Seraya kuhenyakkan kembali tubuhku ke kasur. Perlahan aku kembali lelap dalam pangkuan malam.

*

Seminggu semenjak kematian ayah nya Mila tampak jauh berubah. Mila yang dulu penuh canda dan tawa kini tampak sering muram dengan wajah yang kadang menggambarkan kesedihan begitu mendalam. Bukan hanya aku yang merasakan, seluruh santri, para kiai dan guru-guru pun merasakan hal yang sama.

 

"Aku nggak kuat din, kenapa ini terjadi begitu cepat? kenapa ayah mesti pergi disaat kami masih membutuhkan kasih sayangnya. Adik-adikku masih kecil,siapa yang akan membiayai sekolah mereka ? belum lagi aku yang sebentar lagi akan menempuh ujian akhir. Begitu banyak biaya  yang harus dikeluarkan. Kalau begini aku lebih baik berhenti sekolah saja din,”  ucap mila sehari setelah kematian ayah nya.Itu begitu membuatnya putus asa dan terpukul. "Istighfar mil, istighfar, laayukallifullahu nafsan illawus’aha. Ingat Mil !, Allah tidak akan membebani hamba nya diluar batas kempuan hamba nya. Allah sudah mengatur jalan hidup manusia, kalau dia berkehendak tidak ada yang tidak mungkin,” tegasku sambil mengusap pundak Mila. Kurasakan nafasnya naik turun, bersamaan dengan isakan dan air mata yang tidak berhenti mengalir membasahi pipinya.

*

 

Sejak saat itu, aku merasa ada yang aneh dengan dirinya. Tengah malam dia sering menulis. Entah apa yang ditulisnya. Ku hanya berfikiran kalau dia sedang menyelesaikan pekerjaan rumah untuk esok pagi.

 

Pernah suatu kali, ketika asrama sudah begitu sepi, semua santri sudah lelap tertidur. Aku bangun hendak melaksanakan shalat tahajud. Tanpa sengaja aku melewati meja belajar Mila. Selembar  kertas tampak terhimpit pada siku kanannya. Seraya fikiran dan perasaan ku dilanda rasa penasaran. Apa gerangan yang ditulis sahabat ku ini. Dengan hati-hati, kusingkirkan siku yang menghimpit kertas kecil itu. Dengan jantung berdebar kubaca kata demi katanya:

 

"Kepada penghuni barzah yang tercinta: Syamsul Huda

Assalamu’alaikum pak, bagaimana kabar bapak disana? Mila harap bapak sehat wal ’afiat selalu dan berada dalam naungan nikmat dan rahmat-Nya. Pak, kenapa bapak pergi tanpa memberitahu Mila terlebih dahulu? Apa bapak tidak sayang lagi sama Mila, ibu dan adik-adik?  Kami merasa tak punya arah dan tujuan sejak bapak pergi. Kalau berkenaan, izinkan Mila ikut dengan bapak. Mila sudah tidak tahan dilanda rasa hampa dan putus asa’’…..

 

MasyaAllah….belum sempat kuselesaikan membaca, hatiku bergetar hebat. "Begitu putus asanya engkau wahai sahabatku,’’ tak terasa air mataku mengalir. Tetes demi tetes membasahi kertas kecil yang sedari tadi kupegangi. Kuletakkan kertas itu lagi dibawah siku kanan Mila. Usai tahajud kulanjutkan tidurku dengan air mata masih berlinang.

 

"Din, seandainya di dunia ini ada pos barzah, aku pasti setiap hari bisa surat menyurat dengan bapak dialam sana," ucap Mila sewaktu jam pelajaran ilmu hadist berlansung. Aku hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Mila. Aku tau dia sekarang hanya berhalusinasi. Sebentar kupandangi wajahnya tanpak begitu pucat. Tatapan matanya menerawang entah kemana.

 

"Mil, mukamu kok pucat? Kamu sakit ya?, tanyaku sambil kurasakan tangannya begitu dingin. Dia hanya membalas dengan gelengan kepala. Hingga akhirnya dia meminta izin kepada ustadz yang mengajar siang itu dengan alasan sakit perut.

 

Detik demi detik berlalu. Menit pun sudah tak terhitung yang terlewatkan. Beberapa menit lagi jam pelajaran siang itu usai. Tapi Mila belum juga kembali. Hatiku dilanda gelisah tak menentu. Ada apa dengan dirinya. ‘’Apa perutnya benar-benar sakit dan sekarang sedang di UKS?,“ ujar batinku.

 

Rasa gelisah berkecamuk bersamaan dengan suara ribut diluar kelas. Suara itu sepertinya berasal dari WC santri perempuan. "Tolong..ada yang bunuh diri disini," kudengar suara teriakan. Hatiku tersentak kaget. Segala kecemasan serasa memenuhi seluruh persendian tubuhku. “Mila“, tiba-tiba nama itu terngiang difikiranku. Aku pun takut untuk memastikannya. Tanpa menunda waktu lagi kuberlari menuju sumber suara. Seketika, ‘’innalillahiwainnailaihi raaji’uun’’.. jantungku seakan berhenti berdetak. Kusaksikan mila terkulai lemah dalam pangkuan seorang santriwati. Bibirnya membiru. Pergelangan tangannya tanpak sobek. Cairan merah segar tak berhenti mengalir. Air mataku tumpah, kepalaku pusing, ribuan belati tajam menancap ulu hatiku.

 

Mila pun dibawa ke RSUD setempat. Namun sayang, dia kehabisan darah dan tak bisa lagi diselamatkan.

 

Ternyata pos barzah telah membawa mila menembus dimensi waktu. Pos barzah telah mengabulkan doa sahabatku. Meski dengan jalan seperti ini. Aku hanya berharap semoga Allah menerimamu dengan tenang disisi-Nya .




• Cerpen Terkait