Sastra Budaya › Puisi


Batu Kerikil yang Dilindas Kereta

Senin, 21/06/2010 WIB | Oleh : Khahlil Habibul 'Ali

Batu Kerikil yang Dilindas Kereta

 

Batu yang berkerikil dilindas kereta,

pantaslah tempat akar tak pernah tumbuh,

bising bersembunyi sendirian,

lorong lebih maklum tentang kepergian.

Kencing di kakus kereta menyiramnya.

 

Batu kerikil yang menyimpan cerita;

perempuan yang terlindas hidupnya,

perempuan yang tinggal di pemukimam

kumuh pinggiran rel.

 

Ia yang menjemur pakaian di panas kerikil,

sebab akar tak bersempat tumbuh,

kayu mati tak pernah bercapang tua,

daun hanya sekedar dikipas angin ke atas pasir,

kereta melintas melindas setiap mimpi.

 

Batu kerikil yang terhampas dan terdampar,

ia menyimpan bau perempuan,

yang meringis tentang mimpi pahit,

dan halaman yang penuh dekak keberangkatan.

 

Ia yang terlempar pada kali keberangkatan.

Selalu ceritacerita batu yang terlindas dan

mimpi perempuan “sepasang mimpi yang ia

angankan ke celup bibir stasiun berikutnya”.

 

(Padang, April 2010)




• Puisi Lainnya
Suarakampus