Sastra Budaya › Essay


2018, UKT Melonjak Mahasiswa Terhantui

Rabu, 25/07/2018 WIB | Oleh : Tari Pradillia Cindy (Mg)

Seiring dengan pengumuman penerimaan mahasiswa baru jalur SPAN-PTKIN dan UM-PTKIN,  Mahasiswa Baru (MABA) mulai mempertanyakan kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mereka rasa sangat tidak signifikan. Mereka merasa UKT di Universitas Negeri sama besarnya dengan Universitas Swasta, keadaan ini tentu sangat memberatkan bagi mereka yang akan berkuliah pasalnya kenaikan ini baru terjadi pada angkatan 2018, tidak dengan angkatan sebelumnya yang mana UKT masih dikategorikan murah.

Kebijakan tentang UKT telah diterapkan berdasarkan Permendikbud Nomor 55 tahun 2013 kemudian terjadi perubahan pada Permen nomor 73 tahun 2013, tujuan diterapkannya sistem UKT adalah untuk meringankan beban mahasiswa terhadap pembiayaan pendidikan yang menggunakan sistem subsidi silang dengan menetapkan jumlah UKT berdasarkan golongan penghasilan orang tua.

Pada tahun 2016, resmi dikeluarkan kebijakan oleh kementrian riset teknologi dan pendidikan tinggi, Mohammad Nasir mengatakan, ada empat jenis UKT  yang akan diterapkan di perguruan tinggi seluruh Indonesia yaitu:

  1. UKT untuk mahasiswa yang tidak mampu membayar uang biaya kuliah dimana mahasiswa akan dibebaskan 100 persen dari biaya perkuliahan yang akan ditanggung oleh pemerintahan melalui pengikutsertaan program BIDIKMISI.
  2. UKT untuk kelompok mahasiswa kurang mampu.
  3. UKT untuk mahasiswa yang kemampuan pembiayaan kuliahnya sedang.
  4. UKT untuk mahasiswa yang mampu membayar biaya perkuliahan.

Menanggapi persoalan kenaikan UKT disalah satu Universitas Islam Negeri, Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan (AUPK), Khairunnas menyebutkan, kenaikan UKT ini dilatar belakangi dengan adanya lampiran keputusan Rektor UIN IB Padang nomor 901 tahun 2018, mengenai ketetapan UKT  untuk Universitas islam  yang telah ditetapkan oleh kementerian agama yang tidak bisa di ganggu gugat.

Dengan adanya keputusan tersebut banyak mahasiswa baru yang mengeluh dan meminta solusi agar mereka tetaap bisa kuliah walaupun UKT melonjak, “saya ingin sekali kuliah tapi orang tua saya tidak mampu membayar UKT yang begitu besar karena orang tua saya hanya seorang buruh tani yang penghasilannya tak menentu,” ungkap Nova selaku mahasiswa baru di UIN Imam Bonjol Padang.

Jadi pada dasarnya penerapan UKT memang harus disesuaikan dengan kemampuan finansial masing-masing mahasiswa, tidak bisa dipukul rata dan pembebasan biaya UKT tetap harus diterapkan bagi yang berhak, karena jika diterapkan pada semua mahasiswa maka biaya operasional kampus tidak akan tercukupi untuk memfasilitasi seluruh mahasiswa.

Dengan adanya kenaikan UKT ini, sebaiknya memberikan keuntungan positif dan kemajuan bagi universitas, seperti memperbaharui infrastruktur bangunan yang pada dasarnya akan memberikan kenyamanan bagi mahasiswa dalam melaksanakan proses perkuliahan.

Dengan demikian pihak kampus sebaiknya mengkondisikan kenaikan UKT agar Mahasiswa tidak merasa terbebankan dan memberikan kejelasan akan rincian kenaikan UKT kepada mahasiswa agar mahasiswa tidak lagi pro dan kontra mengenai kenaikan tersebut. Sehingga mahasiswa tidak lagi menjadikan kenaikan UKT sebagai alasan untuk tidak melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri.




• Essay Terkait