Sastra Budaya › Cerpen


Gadgetku, Perusakku

Minggu, 21/10/2018 WIB | Oleh : Fathul Ilham

Lonceng tanda masuk telah berbunyi. Para siswa yang masih berada diluar gerbang sekolah bergegas berlarian supaya tidak terkunci diluar gerbang. Para satpam bersiap untuk menutup gerbang. Namun, ada seorang siswi yang masih saja bersantai dengan gadgetnya tanpa mempedulikan satpam yang telah mengatakan bahwa gerbang akan ditutup.

 

“mending selfie dulu ah,” ungkap Deril.

Cekrek…cekrek…cekrek.

 

Entah berapa kali jepretan yang ia ambil sampai ia benar-benar tak melihat bahwa gerbang sekolahnya akan ditutup.

 

Tak jauh dibelakangnya ada Nafia, teman sekelasnya yang sangat terburu-buru menuju gerbang agar tak terkunci. Sambil berlari ia berteriak kepada Deril untuk segera bergegas menuju gerbang.

 

“Deril! Lo ga tau ya ini tu udah bel. Liat tuh, gerbang dikit lagi mau di tutup. Masih sempat aja lo selfie, dasar!” teriak kesal Nafia pada Deril sambil terengah-engah.

“Yang telat juga gue kenapa lo yang ribut sih?” gumam Deril sambil bergegas mengikuti Nafia.

 

Deril menjadi siswa terakhir yang berhasil lolos dari gerbang sekolah yang ditutup oleh satpam sekolahnya. Ada beberapa siswa yang terkunci diluar sekolah dan tidak boleh masuk. Mereka baru boleh masuk ketika telah selesai mengerjakan hukuman yang didapat dari satpam dan guru piket sekolahnya.

 

Deril tetap berjalan santai menuju kelasnya yang berada di lantai 2 sambil memilih foto mana yang akan diuploadnya di instagramnya hari ini.

 

“Duh, mau pilih yang mana ya buat di upload di instagram? Bingung banget.” Tutur Deril sambil menatap layar smartphonenya.

 

Saat hendak berbelok ke arah tangga, tak sengaja ia menabrak seorang yang guru baru disekolahnya yang sedang mencari ruangan tempat ia mengajar.

 

“Awww.” Ia meringis sambil menatap orang yang baru saja ia tabrak.

 

Deril terjatuh ke lantai dan ia merasa kesal dengan guru baru itu. Dengan sigap guru baru tersebut menolong Deril berdiri dan seraya berkata, “kamu ga kenapa-kenapa kan? Gaada yang sakit kan?” tutur guru itu kepada Deril.

 

“Saya gapapa pak,” ketus Deril.

 

Ia langsung berdiri dan berlari menuju ke kelasnya. Tak lama ia kemudian sampai di depan kelasnya. Namun, hanya enam orang yang ada dikelas itu termasuk Nafia.

 

“Udah telat masih aja bisa santai-santai. Sana gih ke perpus.” Ungkap nafia kepada deril.

 

“Sekarang kan jadwal belajar matematika, ngapain gue ke perpus?” tutur deril penasaran.

 

“Pak Herman gak masuk sekarang, kita disuruh ngerjain tugas, ambil bukunya ke perpus dulu,” balas Nafia.

 

“Males ah, ntar gue nyontek aja punya lo,” lanjut Deril sambil memainkan gadgetnya.

 

“Enak aja lo, ogah gue,” balas Nafia singkat.

 

Deril tak membalas lagi ocehan Nafia kepadanya. Ia mulai lagi memainkan gadgetnya tanpa memikirkan tugas matematika yang diberikan Pak Herman. Nafia yang asik membuat tugas sesekali memperhatikan Deril yang tak bisa lepas dari gadgetnya. Dalam hati Nafia, ia ingin sekali Deril tak terlalu sibuk dengan gadgetnya. Ia ingin Deril kembali seperti dulu saat sebelum ia tidak mempunyai gadget. Namun usaha yang di lakukan Nafia selalu saja tidak berhasil.

 

Semenjak Deril mempunyai gadget, ia lupa terhadap sahabat dekatnya, Nafia. Tidak hanya Nafia, ia bahkan tak acuh terhadap lingkungannya. Deril yang dikenal pintar dan peduli terhadap sekitar sudah tidak ada lagi. Ia berubah banyak karena pengaruh gadgetnya.

 

Hari-hari Deril tak pernah lepas dari gadgetnya. Di rumah ia bahkan tak lagi sering membantu ibunya. Untuk sekedar menyapu pun ia sudah jarang apalagi memasak lauk untuk dimakan ia sudah tak pernah lagi. Begitu juga di sekolah, ia tak bisa fokus memperhatikan guru yang sedang menerangkan didepan kelas. Tak jarang ia ditegur oleh guru karena terlalu sibuk dengan gadgetnya. Akibatnya ia tak bisa mengerjakan sendiri lagi latihan maupun tugas sekolahnya.

 

***

Dua bulan kemudian.

Hari ini merupakan pengumuman kenaikan kelas. Jarum jam sudah menunjukkan angka sebelas siang. Deril masih asik memainkan gadgetnya dikelasnya tanpa mempedulikan himbauan pengumuman sekolah untuk segera berbaris di lapangan sekolah. Tanpa ia sadari, Kepala Sekolah sudah mengumumkan semua juara kelas dan juara umum sekolahnya. Nama Deril yang selalu berkumandang setiap pengumuman juara umum sekolahnya sudah tak lagi terdengar. Prediket juara umum di sekolahnya itu kini di gantikan oleh Nafia, teman dekatnya sendiri.

 

Bisik-bisik teman sekelasnya mulai terdengar gaduh ditelinga Deril. Ia mulai merasa risih dengan pandangan sinis teman-temannya.

 

Tak lama, Nafia masuk membawa trophy juara umum ke kelas dengan senyum yang sumringah. Satu-persatu sekelasnya bersalaman dengan Nafia sambil mengucapkan selamat. Mata Deril nanar melihat trophy yang dibawa Nafia tersebut. Mata Deril mulai berkaca-kaca. Vino yang merupakan teman sekelasnya prihatin terhadap Deril.

 

“Ril, sabar ya. Mungkin kamu terlalu asik dengan gadgetmu sampai lupa semuanya,” ungkap Vino kepada Deril.

 

“Aku beneran gak dapat peringkat apa-apa dikelasku? Kenapa? Harusnya kan aku yang megang trophy itu!” Deril kesal sambil menatap Nafia.

 

Nafia yang mendengar ucapan Deril itu langsung menghampirinya sambil berkata, “Aku kan udah ngingetin kamu berkali-kali. Jangan sibuk dengan gadgetmu itu. Tapi kamu gak pernah gubris aku sama sekali. Sekarang lihatkan? Kamu bahkan gak dapat peringkat apapun di kelas.” Ucap Nafia sambil memeluk Deril yang mulai menangis.

 

Tangis Deril semakin terisak sehingga membuat Nafia semakin erat pula memeluk Deril. Seketika ia menyesal karena terlalu sibuk dengan gadgetnya sehingga akhirnya nilainya turun drastis. Semenjak saat itu ia bertekad untuk tidak terlalu sibuk dengan gadgetnya itu.




• Cerpen Terkait