Sastra Budaya › Cerpen


Wajahku Lima-lima

Rabu, 30/06/2010 WIB | Oleh : Williya Met

          Aku tak pernah merasa bahagia. Hidup bukan dari kalangan elite bukanlah mauku, tampang pas-pas-an pun juga bukan inginku. Bahkan hasil surveyku, saat nguping pembicaraan Andra dan Andri, si kembar tampan di kampusku saat berdiskusi menilai wajah wanita.

“Kalau aku sih wajah oriental untuk cewek, pas banget diajak jalan. Cocoklah buat aku.”

“Walau kita kembar, sepertinya selera kita berbeda. Aku lebih suka cewek hidung bangir, mancungnya minta ampun, mata bulat, bibir sexy.  Mungkin sepeti peranakan India atau Arab yang bikin aku kepincut. Kalau diajak jalan atau sekedar nongkrong di cafe... lumayanlah... Tampangnya tidak malu-malu-in.”

“Seperti Anita? India banget tuh.”

“Ya.. kalau dinilai tampangnya sembilan lima-lah!”

“Kalau Vina??”

“Hm... aku tidak terlalu suka wajah orientalis seperti itu. Tapi... lumayanlah. Mungkin sekitar delapan puluh sampai delapan puluh lima jika dicairkan menjadi nilai.”

“Eitss... jangan salah. Kalau menurutku justru itu sembilan puluh lima untuknya. Tipe-ku banget.”

“Ha...ha...ha... Iya deh. Kalau Sintya?”

“Tujuh puluh lima-lah...  wajahnya Indonesia banget. Kuning langsat, tidak terlalu semampai, hidung tak terlalu mancung tapi khas  Indonesia. Jika artis mungkin setara Happy Salma.”

“Ya...setuju. Kalau dia???” Ujar Andra dengan sedikit memajukan bibirnya beberapa senti mengarah padaku.

“Nova?” Suara Andri bertanya lamban, memastikan bahwa akulah yang dimaksud saudara kembarnya itu. Mungkin saja wajahku segera dinilai  mereka.

            Mendengar namaku disebut orang lain, naluriku tersentak. Kuangkat sedikit kepalaku dan kutegakkan punggungku agar lebih fokus mendengarkan pembicaraan mereka. Sesekali aku mencuri-curi pandang pada si kembar itu. Mataku menangkap sosok Andra mengangguk sambil tersenyum mengejekku, membenarkan kembarannya bahwa memang wajahku lah yang akan menjadi objek penilaian meraka. Bibirnya melengkung ke bawah, meremehkanku. Aku yang duduk paling sudut belakang dua kursi dari samping kanan mereka, kembali menundukkan kepala berpura-pura terpekur membaca buku. Tapi sejatinya tidak, aku mendengar percakapan mereka dari awal. Hingga aku yakin, bahwa akulah yang menjadi objek kajian mereka selanjutnya, yang akan mereka nilai tampangnya. Meskipun sedikit bersungut-sungut, dengan hati-hati aku condongkan tubuhku agar lebih bisa mendengar  mereka lebih jelas. Tentunya aku sangat penasaran berapa penilaian mereka terhadap wajahku.

“Ah.. ada-ada saja.” Terdengar suara Andri dengan volume yang rendah, namun masih bisa kudengar.

“Kenapa? Jawab saja. Dia berapa?”Andra lagi-lagi tertawa mengejekku. Terlihat dia memegang perutnya, tertawa terpingkal-pingkal, geli dengan penilaiannya terhadapku.

“Benar nih  harus dinilai?”

“Iya..., berapa?”

“Ah..., gak penting. Gak masuk tipeku juga.”

“Eh nilai saja!” Andra memaksa Andri memberi penilaian atasku.

“Kalau dia.. Lima-lima lah. Ha...ha...ha....”

“Tepat sekali.  Kali ini penilaian kita sama. Ibaratnya kalau bagi hasil itu istilahnya fifty fifty, nah dia juga begitu. Lima puluh-lima puluh lah dengan tidak ada wajah. Jadi karena dia punya hidung, mata dan bibir maka dimenangkan lima point saja dari pada gak punya wajah sama sekali. Jadi wajah dia lima puluh lima, yang hantu muka rata empat puluh lima. Jadi seimbang. Hahaha....” Gelak Andra menusuk jiwaku.

“Hust...jangan keras-keras nanti dia dengar.” Andri mengingatkan Andra, mungkin dia takut aku tersinggung jika mendengarnya.

“Memang begitu kenyataannya kok. Wajahnya itu dibilang Indonesia gak masuk juga. Mana ada orang Indonesia tulen punya kulit hitam legam gitu. Rambut keriting seperti mie instant gagal produk. Kerdil. Hidung tak berbatang sedikitpun. Kalaupun masih ngotot masuk kategori orang Indonesia. Mungkin Papua asalnya. Ha..ha..ha,..”Andri semakin keras saja tertawanya.

“Hust...jangan keras-keras. Nanti dia marah kalau dengar.”

Aku tahu Andri melirikku, waspada kalau aku mendengar percakapan mereka. Tapi aku mencoba untuk tenang, meski batinku memberontak. Aku berpura-pura diam tenggelam dalam bacaan yang di hadapanku. Padahal inginku berdiri dan mengangkat kursi bekas dudukku tinggi-tinggi, lantas membanting keras ke punggung Andra. Seenaknya saja dia menuding dan mengejekku, apalagi mengatakanku keturunan Papua. Sungguh aku tak terima. Tapi itu semua hanya hayalanku. Masih dengan menggenggam buku aku beranjak dari tempat dudukku. Berpura-pura aku tidak tahu apa-apa. Hingga Andra dan Andri meninggalkan tempat mereka, aku masih dalam gaya yang sama. Diam seribu kata, mencoba untuk tenang seolah tak terjadi apa-apa. Jiwaku yang berkecamuk atas penghinaan ini, aku abaikan saja.

 

***

Sesampainya di kost aku melaksanakan shalat Dzuhur. Setelah itu aku berkaca untuk merapikan penampilanku untuk ke kampus lagi, kebetulan siang ini ada kuliah tambahan dengan dosenku yang sangat jarang masuk ke lokal kami. Saat bercermin, aku teliti wajah dan tubuhku dengan seksama.  Diam. Meneliti. Aku sendiri juga tidak berani berkata ‘tidak buruk rupa’saat melihat wajah Papua-ku. Aku juga tidak heran, wajar saja kurasa memiliki wajah seperti ini. Meski aku tulen gadis Minang Kabau yang rata-rata berkulit sawo matang, tapi ayahku hitam legam bak tembaga.

            Waktu kecil aku sempat bertanya pada nenek. Kenapa aku harus menerima warisan fisik dari ayahku? Kenapa tidak seperti kakakku yang mewarisi fisik Ibu. Kakakku menjadi primadona di kampusnya. Rambutnya panjang terurai, tinggi semampai. Kulitnya halus, putih bersinar memancarkan cahaya sehingga wajar kalau dengan modal kecantikannya dia bisa menggaet beberapa anak orang kaya untuk menjadi pacarnya. Bahkan terakhir kakak bercerita, dia pasang tiga dengan dua anak pengusaha kaya di kota Padang dan satu lagi anak dosen. Prestasi yang luar biasa yang diraih kakakku dengan modal tampang warisan Ibu.

            Sementara aku? Ah.. Sudah tahun ketiga aku kuliah, tapi yang namanya pacaran tetap belum pernah kusandang status itu. Aku kadang iri sama kakak yang bisa punya tiga pacar sekaligus. Kadang rasa iri itu yang menimbulkan aku membencinya. Mengapa kau lebih cantik dariku, kakak?

            Usut punya usut, setelah aku tela’ah tentang sejarah pernikahan Ayah dan Ibuku, barulah aku sadar kalau pernikahan Ayah dan Ibu bukanlah berasal dari cinta. Konon Ibuku yang menjadi kembang desa di zamannya muda dulu mencaci Ayahku yang melamarnya. Ibuku menyuruh Ayah berkaca sebelum berpikir meminangnya. Memang ibuku mirip Tamara Blezensky –kulihat foto beliau tempoe doeloe-sementara ayah nyaris mirip sekali dengan penduduk asli Papua yang kerdil. Logikanya, sangat wajar ibu menolak lamaran ayah. Ibu pasti juga ingin punya pendamping hidup yang rupawan, setidaknya mempertahankan kualitas keturunan.

Ayah tidak bisa menerima kenyataan itu. Karena sakit hati, ayah belajar ilmu  gasiang tangkurak.  Pada saat itu ilmu seperti itu sangat kerap sekali dipergunakan orang untuk menarik lawan jenisnya agar tergila-gila padanya. Dan benar saja, Ibu tergila-gila pada Ayah. Bahkan Ibu mencoba bunuh diri ketika Ayah berpura-pura tidak mau menikahinya. Ayah berlagak sok jual mahal hingga ibu berlutut mencium kaki ayah agar mau menikahinya.

            Akhirnya pernikahan itu berlangsung hingga Ibu punya dua orang anak perempuan. Aku dan kakakku. Dan sialnya, akulah yang mewarisi semua ciri fisik ayahku. Sementara kakak ....? Huft... Kebencianku pada kakak berapi-api.

            Terkadang pernah terlintas di benak untuk operasi plastik. Mungkin sekedar memutihkan seluruh kulitku yang legam ini, atau menambah sedikit tulang di hidungku agar terlihat sedikit lebih mancung. Tapi itu semua mushtahil rasanya. Aku bukan golongan orang kaya. Pastinya orang tuaku tak cukup uang untuk biaya operasi yang melangit harganya. Jangankan uang untuk operasi, ibuku saja yang marah ketika tahu bahwa dirinya terkena sihir gasiang tangkurak ayahku, urung minta bercerai dengan alasan tak cukup uang mengurus surat perceraian ke kantor peradilan agama. Jadi daripada susah bayar sana-sini, ibu lebih memilih mencoba mencintai Ayah dengan lapang hati. Ibu mencoba mempercayai pepatah jawa ‘cinta bisa tumbuh karena sering bersama.’ Konyol, cinta tergadai karena uang.

            Lama aku mematut-matut diri di kaca. Kutolehkan wajahku ke samping kanan, kulihat jam dinding. Astaga... sudah terlambat lima menit dari jadwal kuliah tambahan hari ini. Aku bergegas meninggalkan cermin, mengendarai motorku di panas terik Padang siang ini. Panas matahari dan panas hatiku yang terbayang kata-kata Andra dan Andri serta kebencian pada kakakku berbaur menjadi satu. Kepalaku suntuk, panas, sangat panas. Sumpek. Gelisah. Tapi aku tetap saja memacu motor agar melaju kencang, ‘sudah telat’ pikirku. Tapi otakku terasa sempit. Jantungku sesak. Kemudian semua berubah menjadi gelap. Sepeda motor yang aku kendarai oleng. Aku terjerembab ke aspal. Gelap.

 

***

 

 

            Aku tersadar. Kulihat jam tanganku, oh tidak... dua jam aku telat masuk ke lokal. Aku coba bangkit dari tempat tidur, kuangkat kaki ku.

“Aarrgghh...sakit. Astagfirullah, perban. Ada apa ini?” tanyaku sendiri. Tak satu pun orang di sekitarku.

            Mendengar teriakanku ada suara tunggang-langgang mendekat ke arahku. Kemudian dari balik daun pintu keluar sosok kurus kering dibalut dengan jilbab yang sangat lebar.

“Alhamdulillah, sudah siuman ya Uni?” tanyanya padaku.

“Maaf, saya dimana?” Aku berusaha bangkit tapi dia malah menahan tubuh saya.

“Jangan bergerak dulu. Tadi sewaktu Dinda mau ke kampus, tepat di depan Dinda, Uni jatuh dari motor. Makanya Dinda bawa saja ke kost Dinda,” jelasnya.

“Apa??? Oh... terimakasih ya. Namanya Dinda ya? Terimakasih ya Dinda, kalau tidak ada kamu Uni mungkin sudah mati terlindas kendaraan lain.”

“Ah Uni terlalu berlebihan. Berterima kasihlah pada Allah. Dinda hanya jadi perantara dari pertolongan Nya.”

            Aku tertegun mendengar tutur katanya. Bagaimana tidak, sama sekali tak ada hasrat ingin dipuji. Tak seperti aku yang mimpi punya kecantikan yang luar biasa agar semua orang memuji, dan bertekuk lutut mengharap cintaku. Tapi dia tidak.

 

***     

Semakin hari aku semakin akrab dengan Dinda. Gadis belia yang dua tahun lebih muda dari padaku. Dia ternyata koordinasi keputrian organisasi keislaman yang ada di kampusku. Wajar sekali jika jilbabnya yang berkibar-kibar itu amatlah panjang. Banyak hal yang aku pelajari dari dia. Bagaimana cara berdandan ala Islam yang tak boleh mencolok dan memperlihatkan lekuk tubuh atau menarik perhatian lawan jenis. Tak lupa juga dia mengajarkan bagaimana seorang muslimah yang lembut tutur kata dan bahasanya tapi tegas dan keras dalam prinsipnya.

“Muslimah itu harus lembut dan ramah, tapi tidak lembek dan rapuh. Muslimah itu harus pintar, cerdas dan kreatif. Berhati sutra tapi bertangan baja untuk kemungkaran.” ujarnya selalu padaku.

            Aku salut pada Dinda, meski dia lebih muda padaku, tapi ilmunya sangat menggudang dibandingkan aku. Kata ‘muslimah harus cerdas’ itu yang selalu dijawabnya saat aku bertanya apakah dia tidak bosan membaca buku atau malah ensiklopedia yang selalu di otak-atiknya. Aku sering main ke kostnya tentunya sambil mengamati aktivitasnya.

            Aku tak habis pikir, kenapa sejak berteman dengan Dinda, banyak teman cowokku mengirimkan salamnya pada Dinda. Termasuk Andra, si monster penghancur kepercayaan diriku. Bahkan kalau dilihat Dinda sama sekali tidak pernah memperlihatkan  lekuk tubuhnya, bagaimana bisa banyak orang tertarik padanya. Apalagi jilbabnya yang lebar itu memberi sentuhan kesan bahwa Dinda memiliki tubuh yang gemuk. Setidaknya begitu yang kulihat.

            Rasa ingin tahuku pun memucak. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya pada Dinda, kosmetik apa yang digunakannya supaya bisa mencuri perhatian banyak orang. Atau mungkin Dinda adalah penganut paham sama dengan ayahku dahulu? Ilmu gasiang tangkurak?

Entahlah.....

***

“Cantik itu bukan dari tebal bedak yang menjadi topeng kita sehari-hari. Bukan juga dari putihnya kulit atau tak berjerawat. Tapi cantik itu dari sini.” Dinda meletakkan tangan kanannya di dadanya.

“Jika hati kita bersih, Insyaallah apapun yang keluar dari diri kita akan menyejukan orang yang memandang. Tutur kata kita akan menjadi sebening tetes embun bagi yang mendengar, sangat menyejukkan. Cantik itu tak harus berpakaian super ketat dengan ekspos body  keren. Dengan berpakaian seperti yang disyariaatkan agama seperti ini, justru memancarkan kecantikan. Inner beauty.  Niatkan semua atas nama Allah. Insyaalah kita akan tampak cantik disisi-Nya. Jangan pernah memikirkan apa arti cantik dari orang lain. Tapi jadilah cantik di mata-Nya.”

“Apa Dinda tidak takut dianggap asing oleh teman-teman yang ada di sekitar Dinda?” tanyaku penasaran.

            Dinda tersenyum, lalu menggeleng.

“ Kenapa takut Uni? Bukankah Rasulullah pernah mengatakan bahwa awal munculnya Islam itu dalam keadaan asing. Suatu saat nanti akan kembali asing. Tapi sesungguhnya beruntunglah orang yang asing itu, karena dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Uni pilih mana? Mau dicintai Allah dan Rasul-Nya atau dicintai oleh manusia yang tak luput dari khilaf dan dosa?”

            Lama aku termangu.

***

 

Masih terngiang olehku rahasia kecantikan Dinda. Kini aku mengerti kenapa aku tak cantik selama ini. Bukan karena hidungku yang tak mancung, bukan juga karena kulitku yang legam serta rambutku bak mie instan gagal produk seperti yang kudengar saat Andri menilai wajahku. Bukan karena itu. Tapi aku memang tak cantik di mata-Nya.

Bismillahirrahmanirrahim.  Kukenakan jilbab yang kemarin diberi Dinda sebagai hadiah dan pendorongku untuk istiqomah dengan jilbabku. Aku telah memutuskan untuk memakai kerudung ini. Aku sudah tidak peduli lagi dengan penilaian orang tentang kecantikan, bahkan tentang wajahku yang cuma lima-lima di mata Andra dan Andri. Bagiku cantik di mata Allah jauh lebih menggiurkan daripada mendapat pujian dari makhlukNya. Ya Rabb... semoga aku bisa istiqomah. Amin...***Matur, 19 Februari 2010

 

*Mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam Semester II. Fakultas Syari’ah IAIN IB Padang. Bergiat di FLP Sumbar