Sastra Budaya › Cerpen


He is Psychopath

Senin, 01/04/2019 WIB | Oleh : Geniva Nuansa Azzuri (Mg)

Dua bulan terakhir telah terjadi kasus penculikan dan pembunuhan  yang dimana semua korban merupakan perempuan dengan rata rata umur 17 sampai 27 tahun.

Mereka menculik dan membunuh korbannya dengan mencekik mati, lalu meninggalkan korban begitu saja dan tidak ada satu pun barang pribadi korban yang hilang serta tidak ada bekas pelecehan yang ada pada korban tersebut.

 

Namun ciri khas dari pembunuh itu ialah terdapat sebuah foto korban yang masih kesakitan saat dicekik yang diletakan disamping korban dan tertulis sebuah angka di foto korban tersebut yang sepertinya merupakan tanggal pembunuhan korban.

Berbagai cacian hingga keluhan masyarakat tertuang di media sosial, mereka khawatir karena sudah dua bulan kasus itu si pelaku belum juga ditangkap.

 

Dua hari yang lalu telah terjadi demo di depan kantor polisi,  masyarakat membawa spanduk dengan bertulisan (Tangkap pelaku!, tingkatkan kualitas kerjamu polisi!,  polisi tidak becus!) dan sebagainya.

Keluarga korban pun ikut serta di dalam demo tersebut,  mereka memprotes kerja polisi yang belum juga menemukan si pelaku,  sementara korban sudah banyak berjatuhan.

 

“Gue rasa dia bener bener psikopat deh, udah berapa orang yang dia bunuh sejak dua bulan yang lalu”

Dengan kedua tangan yang mengepal diposisikan di depan wajahnya dan dahi yang mengkerut menambah efek serius dan kesal di wajah Adrian.

"Malahan semua korbannya cewek lagi"

Lanjutnya.

“Sepertinya pelaku itu hanya memuaskan nafsu pembunuhnya dengan mencekik si korban”

Ryo pun melanjutkan pernyataan dari Adrian.

“Maksud lu gimana yo?”

Tanya Adrian kepadanya dengan wajah yang sedikit mendekat menghadap Ryo.

 

“Ya nafsu.. , dia tu aneh, kan dia psikopat,  jadi dia punya nafsu pembunuh dan mungkin dengan mencekik korban membuat dia puas.”

Aku pun menjawab pertanyaan Adrian yang ditujukan kepada Ryo.

“Wah....Daebak gua merinding. Tapi gimana dia bisa belum ketangkap ya,  apa mungkin tu orang pake jurus menghilang kali ya”

Dengan wajah yang takut Milan merespon pernyataan dariku


“Iya daebak, apa lagi lu cewek kan, bisa jadi lu target selanjutnya”

ihh Edo apaan sih lu”

Milan pun memukul bahuku,  dengan wajah yang cemberut dan bibir maju kedepan Milan melanjutkan meminum teh es yang ada di didepannya.

Aku yang tersenyum melihat tingkah Milan membuatku gemas hingga ingin mencekiknya.




• Cerpen Terkait