Sastra Budaya › Puisi


Bukan Ibu Tiri Cinderella

Sabtu, 06/04/2019 WIB | Oleh : Silvina Fadhilah

Bawa aku pada kerinduan di hingar bingar. 

Yang tak nampak ruang, termakan desa-desus kendaraan

Membuat candu.

 

Mengepul, menjadi kawan hidung.

Perih, kibas kan mata.

Sunguh kala itu mereka,

berdamai dengan waktu, saling berkejaran.

 

Namun,

Tak semua kabut, di sepertiga sesak masih terdengar gesekan sepatu berlomba mengejar Meja administrasi, sekolah, halte dan stasiun. Menjelang fajar,

Nampak pemandangannya.

Oh sunguh buat senang, kau liat keramaian.

 

Kalau perut sudah berirama, meminta penutup lapar, sungguh dasyat lidah bercinta. Penggugah selara. Delivery aja atau jalan lima langkah , makanan depan mata.

 

Selepas terik, perempuan berdaster berkumpul, sembari melihat anak yang baru lihah berjalan berlojak girang. Tak kan nampak mulut yang diam, bagai lambe turah yang krengki tentang isu terbaru.

 

Ada juga, selepas mencuri waktu rehat, para sosialita, berbunga mejajaki tangga berjalan. Beburu kaos cepek tiga atau merek tiruan, yang penting gaya. Atau hanya sekedar pencuci mata.

 

Sekali-kali juga nampak, remaja uang jajan tabungan, mencari discon 50 an, sesuai selera. Sembari berkata, " Aku mau yang ini ya beb," tutur anak baru gede pada gebetan brondongnya. Aishhh, bukan main.

 

Kawan..

Sungguh jiwa teringat.

Jemput aku, pada waktu dulu, di persimpangan jalan setapak, nampak sorak sorai bocah bermain dan berlarian, menyingkap peluh sambil terbahak.Tak terpikir esok pagi makan apa. Di bawah atap rumah yang saling beradu, membuka pintu, tembok rumah orang yang nampak.

 

Di keberuntungan yang berbeda, kan nampak pemandangan mereka yang besandang keranjang berisi rongsokan, mereka yang lihat mendawai di lampu merah: dikala hijau bergesa ketepi. Terbahak sambil berfikir esok pagi makan apa?

 

Kalau, jingga remang, nampak pijar-pijar cahaya di sepanjang jalan dan kerlap-kerlip lampu kendaraan, sungguh tak akan gelap.  Bergegas menuju surau, Hening.

Kalau malam semakin larut, indah memukau lautan bintang.

 

"Metropolitan" tak sekejam ibu tiri di film cinderalla

Ramah tamah, hangat dan tenang.

 

Jemput aku pada dekapan yang hilang




• Puisi Terkait