Sastra Budaya › Essay


Bercanda, Di sana Ada Tawa bukan Penjara

Rabu, 24/07/2019 WIB | Oleh : Farid Mamonto (Ketua Komisariat PMII IAIN Manado)

Mencari persamaan ditengah perbedaan yang makin hari kian kompleks ini, memang membutuhkan keseriusan dan waktu yang terus berulang. Dia tidak hanya bisa dengan sekali berjumpa. Minimal, kita mempunyai waktu yang cukup untuk bertatap, bicara, juga, bercanda.

 

Perihal bercanda di negeri yang bernama Indonesia ini makin kesini kita agak ketakutan meskipun hanya sekedar bercanda dengan teman, kerabat dan sahabat. Perihal hal-hal di luar kewajaran, yang barangkali sepuluh atau lima belas tahun lalu, candaan-candaan perihal “Kamu orang Kristen ga takut bergaul dengan kami Muslim? Atau begitu sebaliknya, “Kamu orang Tionghoa pasti pelit,” atau ketika ada candaan perihal orang Arab di Indonesia itu pandai menambah-nambahkan cerita.

 

Candaan-candaan semacam itu di masa lalu adalah tertawa bagi kita yang memang terbiasa dengan lingkungan yang majemuk. Kita tumbuh besar bersama sedari kecil hingga remaja bahkan dewasa, sehingga hal-hal di atas ketika terlontar memang sudah tidak lagi menjadi marah yang ada adalah saling terima.

 

Jangan lagi bercanda kita hidup di era marah.

Hari ini saya merindukan masa-masa bercanda dengan teman-teman non Muslim, Tionghoa, juga teman-teman keturunan Arab. Bercanda tanpa takut harus dilaporkan hingga di polisikan, bercanda yang kita bisa saling tertawa, bukannya saling menyimpan dendam membara.

 

Kini saya hidup di negara yang katanya demokrasi namun untuk bercanda saja ketakutan selalu saja menghantui. Kita terlalu mudah untuk tersulut amarah, hanya karena barangkali sesuatu yang padahal sepuluh atau lima belas tahun lalu sering kita lontarkan ke sahabat, kawan, juga kerabat. Yang itu baik-baik saja, namun kini itu justru bisa berbahaya.

 

Bahkan hari ini ketika saya coba untuk bercanda lagi dengan teman-teman yang berbeda komunitas dengan saya. Saya bisa sangat jelas melihat semacam ada kekakuan bahkan kehati-hatian dari teman-teman yang padahal dulu kita bisa dengan santai melontarkanya, tertawa riang gembira.

 

Kita perlu ruang pertemuan bukan sel tahanan.

Dulu kita bisa begitu santai dan tidak kaku bahkan tidak dihantui rasa takut oleh karena segala yang kita lontarkan sebagai candaan adalah apa yang kita mulai dari pertemuan juga perjumpaan yang intens, entah di manapun itu, baik di tempat main playstation (PS), lapangan sepak bola, di perempatan-perempatan jalan, dan masih banyak lagi.

 

Sehingga hal itu tidak menjadi masalah besar yang harus mengorbankan sahabat kita bisa mendekam di sel tahanan, oleh kerena saling mempolisikan gara-gara menyebut teman kita Cina suka dagang tapi pelit, kalau sahabat kita yang Arab bicara pasti dilebih-lebihkan, dan begitu seterusnya.

 

Hari ini kita sudah cukup muak dengan aksi “anti-anti” bahkan “bela-bela”. Gara-gara itu, ruang kita untuk mencari persamaan di antara perbedaan semakin terasa memiliki gap yang kian parah.

 

Dengan sangat masifnya perbincangan yang terjadi di ruang bernama “Media Online” candaan kita pun berpindah ke ruang itu, ruang di mana segala sesuatu menjadi sensitif.

 

Kenapa sensitif? Yaa, ruang itu menjadi sangat sensitif oleh karena kita tidak melakukan perjumpaan bahkan tatap wajah secara langsung, di ruang itu ada sesuatu yang memisahkan kita. Yang saya sebut dengan pedekatan emosional.

 

Kita tidak terbiasa untuk tampil jujur di ruang itu. Kita terbiasa dengan kepura-puraan, mengejar eksistensi. Sehingga ketika ada candaan-candaan seperti di atas itu menjadi makanan empuk untuk di goreng biar bisa eksis. Barangkali. Apalagi menjemput momen-momen untuk melakukan penggalangan masa sebanyak-banyaknya. Jelas hal itu sangat empuk untuk di mainkan. Mirisnya.

 

Akhir dari tulisan ini, saya ingin mengajak kepada kita sekalian. Ayo kita perbanyak ruang perjumpaan, masih ada banyak tawa yang bisa kita cipta. Tidak hanya sekedar menanggapi tertawa di Facebook (Fb) yang penuh tanda tanya, apakah tawa karena lucu atau justru meledek? Sudahlah.

 

Dari perjumpaan-perjumpaan yang intens lagi, barangkali kita masih bisa memupuk harapan agar anak muda juga bangsa ini, masih mempunyai selera dan semangat untuk mencari persamaan, guna memperkuat persatuan tanpa harus menghilangkan perbedaan.




• Essay Terkait