Sastra Budaya › Puisi


Ibu, Harga Matiku

Senin, 02/09/2019 WIB | Oleh : Noura Arifin (Mg)

Ibu,

Bolehkah aku tahu?

Terbuat dari apa hatimu itu?

Yang selalu ditusuk pilu tapi masih saja mendekap haru.


Ibu,

Tolong beritahu aku

Seberapa banyak air matamu?

Yang selalu ikhlas di peras sendu hanya untuk doa yang kian menghidupi

Pembuluh darahku.

Saat kutemukan sedih di wajahmu,

Saat kutemukan retak pada permukaan hatimu,

Saat itu pula kau tersenyum mengubah resahku menjadi tanya yang kian membatu:

Apa kau ini benar-benar seorang penipu?

Bila kau sedang tertawa,

Bila kau sedng ceria,

Bila kau sedang bahagia,

Apakah kau sedang berpura-pura?

Kau terus memberiku cinta saat dirimu kupenuhi luka

Kau tetap menuntunku mesra saat janjiku selalu saja berujung dusta

Tapi mengapa kau masih saja percaya dan percaya membuat tanda tanya besar akhirnya menjulang di atas kepala:

Sayapmu kau sembunyikan dimana?

Dekatkan wajahmu, ibu.

Eratkan pelukmu, kejoraku.

Kecup aku, malaikatku.

Sebab di sudut sana, bahakan setan pun tahu: kaulah segalaku.

Aku tahu renta tubuhmu kian menjadi

Aku tahu rapuh belulangmu kian menyakiti

Aku tahu peluh lelahmu kian membebani dan takkan pernah mau berhenti

Tapi, aku mohon: aku tak pernah mau kau pergi.

Biarkan waktu tetap berlalu dengan angkuh

Biarkan air di kamar mandi  berubah menjadi keruh

Tapi kasihmu: aku akan selalu butuh

Sebab tanpamu: aku tak akan pernah utuh.


Ibu,

Jangan jatuhkan air matamu

Jangan ketuk lagi simpul senyummu

Genggam jemariku dan terimalah maafku yang hanya bermodal air mata serta lidah yang keluh

Sebab di sudut terdalamku, mencintaimu adalah harga matiku.


Tuhan,

Engkau tahu napasnya bertaut dengan napasku

Degupnya senada dengan jantungku

Dan ringkihnya, akan selalu menjadi tangis bagiku

Maka.jika dunia kami telah berbeda, hamba bersimpuh padaMu: sandarkan lelahnya di surga untukku.




• Puisi Terkait