Sastra Budaya › Essay


Bagaimana Kognitif akan Berdampak Terhadap Penyelesaian Masalah?

Minggu, 11/12/2019 WIB | Oleh : Hikmah Maharani

Dalam istilah kognisi, psikologi kognitif adalah cabang psikologi yang mempelajari proses-proses mental/aktivitas dari pikiran seorang manusia, contohnya saja persepsi, ingatan/memori, bahasa, penalaran dan penyelesaian masalah. Kognitif selalu berkaitan dengan kecerdasan seseorang dimana semua manusia punya potensi kecerdasan yang diturunkan lewat nabi Adam yaitu terdapat dalam QS. Al- Baqarah ayat 31 yang berbunyi :


وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

 

Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, "Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!"

 

Penelitian mengatakan bahwa 95% manusia itu cerdas dan 5% sisanya jenius. Lalu apakah berpengaruh terhadap penyelesaian masalah?. Disini kita akan bahas bagaimana kognitif akan mempengaruhi seseorang dapat mencerminkan masalah yang sedang mereka hadapi. Keberadaan dari sikap dan perilaku ini apabila digabungkan dengan informasi yang sudah ada, maka dapat menciptakan suatu solusi. Psikologi kognitif akan berusaha untuk menggambarkan cara kerja pikiran dan membuat dunia lebih baik dari seharusnya.

 

Pemecahan masalah selalu melingkupi setiap sudut aktivitas manusia dalam segala bidang kehidupan. Manusia memiliki rasa keingintahuan mengenai cara bertahan hidup, mencari stimulus, dan juga mengatasi konflik dalam kehidupan. Pemecahan masalah merupakan suatu pemikiran yang terarah secara langsung dengan menemukan suatu solusi untuk suatu masalah yang spesifik. Dalam proses penyelesaian masalah psikologi gestalt terkenal dengan pemikirannya mengenai pemahaman "insight" dalam pemecahan masalah, perspektif dalam psikologi gestalt konsisten dengan memandang perilaku sebagai sistem yang terorganisir. Menurut psikologi Gestalt suatu permasalahan terjadi ketika ketegangan/stres muncul sebagai hasil dari interaksi antara persepsi dan memori.

 

Psikologi Gestalt berfokus pada sifat dari suatu tugas dan pengaruhnya pada kemampuan seseorang untuk memecahkannya, menurut psikologi Gestalt representasi adalah bagaimana suatu permasalahan digambarkan dalam suatu pikiran. Hayes (1989) menyusun tahapan pemecahan masalah menjadi enam tahapan sebagai berikut : mengidentifikasi permasalahan, representasi masalah, merencanakan sebuah solusi, merealisasikan rencana, mengevaluasi rencana dan mengevaluasi solusi.Dalam Islam juga dijelaskan cara menyelesaikan masalah diantaranya terdapat dalam :

 QS. Ar-Ra'd :11

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

 

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.


QS. Al-Baqarah : 216

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

 

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

 

QS. Al-Baqarah : 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."

 

QS. Al- insyirah : 5-6

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

 

Lalu bagaimana penyelesaian masalah oleh orang yang cerdas? Contohnya saja penyelesaian masalah dari orang yang memiliki konflik. Ada 2 cara menyelesaikan masalah yang dialami dalam hidup. Pertama to react / memberikan reaksi, kalau kita memilih jalan ini berarti kita memilih untuk "berperang" terhadap orang yang terlibat konflik dengan kita. Cara ini menunjukkan bahwa kita kurang cerdas dalam menyelesaikan konflik dengan orang lain dan konflik akan semakin membesar. Cara kedua yaitu to respond/ respon, kalau kita memutuskan untuk memberi respon terhadap suatu masalah yang kita alami, kita akan mengkomunikasikan masalah kita langsung dengan orang yang terlibat konflik. Dan sebelum berkomunikasi, sebaiknya kita bersabar, merendahkan hati, dan memperhatikan kesadaran diri.




Suarakampus