Sastra Budaya › Essay


Pengaruh Broken Home Terhadap Perkembangan Psikologi Kognitif Anak

Minggu, 11/12/2019 WIB | Oleh : Nosa Mailona

Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak sejak lahir sampai usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan lebih lanjut ( Depdinas, 2011). Anak usia dini merupakan salah satu modal dasar yang sangat berharga untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Anak-anak adalah generasi penerus bangsa, merekalah yang kelak membangun bangsa indonesia menjadi maju dan tidak tertinggal dari bangsa-bangsa lain, dengan kata lain, masa depan bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan yang diberikan kepada anak sebagai generasi penerus bangsa.

 

Perhatian pemerintah di bidang pendidikan dengan menekankan pada pembinaan anak dibawah usia 5 tahun atau usia prasekolah dan usia sekolah merupakan wujud usaha pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup bangsa melalui pendidikan. Menurut Soetjiningsih (2000:121) terpenuhinya tiga kebutuhan dasar anak yaitu: kesehatan makanan bergizi (asuh), kasih sayang dari orang tua atau keluarga (asih), dan parasangan atau stimulasi (asah) dapat menjamin terciptanya proses tumbuh kembang anak secara normal karena pada usia itu anak berada pada posisi keemasan (golden age).

 

Tumbuh dan berkembangnya kognitif seorang anak agar memiliki kepribadian yang baik dan menjadi seorang yang unggul adalah suatu kewajiban orang tua yang harus memenuhinya. Sebab orang tua lah yang menjadi guru pertama dan paling utama yang berpengaruh terhadap tumbuh dan berkembangnya kognitif bagi seorang anak.

 

Keluarga merupakan pusat pendidikan pertama yang dikenal oleh anak, keluarga mempunyai peran mensosialisasikan adat istiadat, kebiasaan, peraturan, nilai-nilai, atau tata cara kehidupan. Keluarga merupakan satu kesatuan lingkungan sosial pertama bagi anak dan tempat anak mendapatkan perlindungan, kasih sayang, serta rasa aman. Maka dari itu jika disuatu keluarga terjadi keretakan antara kedua orang tua sampai terjadinya broken home yang akan terkena dampaknya adalah anak. Jika hal itu sampai terjadi bisa sangat berpengaruh bagi perkembangan kognitif anak, dan sangat berakibat pada tingkat kecerdasan anak (Soedarjito,2007).

 

Broken home adalah suatu keadaan dimana orang tua sudah tidak harmonis, sering bertengkar dan menimbulkan keributuan, yang berakibat pada ketiadaan lagi untuk membarikan kasih sayang dan kepedulian terhadap anak, sehingga anak tidak lagi mendapatkan seseorang untuk diayomi atau dijadikan tauladan bagi mereka.

 

Keluarga dikatakan "utuh" apabila pasangan suami istri mempunyai tujuan membangun sebuah keluarga dengan visi dan misi yang akan dijalankan bersama-sama. Keluarga yang utuh memberikan peluang besar bagi anak untuk membangun kepercayaan terhadap kedua orang tuanya, yang merupakan unsur dalam membantu anak untuk memiliki dan mengembangkan diri. Kondisi keluarga akan sangat berpengaruh pada anak, kondisi keluarga yang harmonis serta selalu bahagia tentunya akan berpengaruh positif pada perkembangan psikologi kognitif anak. Berbanding terbalik jika kondisi keluarga mengalami perpecahan atau broken home, tentu saja dampak negatif akan sangat dirasakan dalam perkembangan anak (Taborani,2010)

 

Kognisi manusia ditinjau dari sudut pandang perkembangan, adalah hasil dari rangkaian tahap-tahap perkembangan yang dimulai sejak tahun-tahun awal permulaan pertumbuhan pada tahap awal. Berdasarkan salah satu sudut pandang dari dikotomi sifat dasar (nature) dan hasil proses pengasuhan (nurture), beberapa psikolog berprinsip bahwa bayi sama sekali bebas dari kecendrungan bawaan, dan murni dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman hidupnya.

 

Pandangan semacam ini disebut tabulas rasa atau "kertas kosong". Pandangan umum tentang sisi "nurture" pernah diradikalisasi oleh kaum behavioris menuju pemahaman bahwa semua perilaku merupakan hasil pembelajaran operan, hasil ini menunjukkan adanya pengaruh komponen genetik yang cukup besar dalam perkembangan manusia. Jadi kognisi seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor bawaan dan faktor lingkungan. Diri seseorang dibentuk oleh skema biologis yang diisi oleh pengelaman-pengelaman hidupnya (Solso,2007).

 

Selain itu psikologi kognitif bahasa (komunikasi) pada anak yang berasal dari keluarga broken home juga mengalami perubahan. Sikap anak broken home dengan anak yang berasal dari keluarga utuh bisa saja berbeda kerena kurangnya komunikasi, perhatian dan bimbingan dari kedua orang tua. Kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak dapat mempengaruhi perubahan sikap anak baik dalam keluarga, teman-teman maupun lingkungannya.

 

 

Tidak hanya berakhir pada penilaian orang lain tentang keluarga broken home, anak yang berasal dari keluarga broken home pun membarikan pandangan dan perasaan tentang dirinya sendiri atau disebut konsep diri. Konsep diri merupakan pandangan atau persepsi kita mengenai siapa diri kita dan itu hanya bisa kita peroleh lewat informasi yang diberikan orang lain kepada kita (Dayaksini,2003).

 

Anak yang hidup dalam keluarga yang tidak utuh atau broken home mengalami perubahan sikap. Perubahan sikap yang terjadi adalah perubahan pribadi dari ceria menjadi pemurung, pemalu menjadi terbuka, sensitive dan pemarah. Konsep diri anak yang broken home ada dua, yaitu konsep diri negative dan positif. Anak yang memiliki konsep diri negative cenderung suka tergesa-gesa dalam mengambil tindakan serta terlalu larut bersedih dalam suatu permasalahan sehingga memutuskan sesuatu tanpa memikirkan dampak apa yang akan terjadi kedepannya. Konsep diri positif anak lebih tenang dalam menyikapi permasalahan di dalam kehidupannya dan dapat memfilter segala sesuatu yang akan dilakukannya.




Banner Lima