Sastra Budaya › Puisi


Apatis

Senin, 06/04/2020 WIB | Oleh : Indra Junaidi, Anggota Unit Kegiatan Kesenian (UKKes) UNP

Terdengar sayup-sayup suara itu

Suara-suara yang datang dari mimbar di sebuah televisi

Semua cerita semakin menggemangkan raga

Meriang raga meriang si anak bangsa

Pahit mengucap menjadi pelengkap

Bila lima dasar negeri ini kau pecah

Bila sila-silanya kau renggut dari jantung bumi pertiwi

Niscaya segala nafsu syahwat bergelimpangan dalam tumpukkan mayat 

Niscaya akan kuisi pena ini dengan darah anjing

Dan kutulis hal sejenis itu untuk para petinggi.

 

Di jurang-jurang penistaan 

Tanda bahaya berada di sana-sini

Orang-orang berpayung hitam

Namun hujan tak pernah turun

Darah merah dari awan yang mengepul

Jatuh pada rintikkan kalimat pendusta.

 

Rentang malam selalu merintih di sudut tiang

Suara mendesiskan kengerian 

Dia iseng sendiri di balik layar meraungkan keadilan

Segala yang tampak bisa terbeli oleh uang

Uang bukanlah Tuhan 

Tapi mirip seperti Tuhan

Yang bisa mewujudkan segala kehendak

Dalam guman mereka lantangkan dengan tertahan

“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”

Tapi nyatanya sebuah fatarmorgana terhinggap dalam kata basa-basi

Aku coba telusuri jalan kerikil ini di antara ilalang penggoda

Terbakar oleh amarah, terbakar semuanya

Kini yang tersisia adalah abu dari sisa api unggun semalam.




• Puisi Terkait
• Puisi Lainnya
Inca ..
Suarakampus