Sastra Budaya › Cerpen


Jiwa Pecinta

Senin, 06/04/2020 WIB | Oleh : Amalia Aris Saraswati, Mahasiswa Fakultas Pertanian Unand

Telah berapa purnama yang terlewatkan begitu saja tanpa temu. Tak ada purnama yang seperti matanya. Tanpa bola mata itu, malam gelap gulita dan sunyi. Desau angin laut yang menampar muara tak membawa kabar tentangnya. Daun-daun merah Switenia mahagoni gugur memenuhi jalanan. Sesekali menari-nari di udara sebentar diterpa laju kendaraan yang lalu lalang, lalu terkulai lagi di tanah. Telah lama sekali aroma zaitun itu lenyap dari penciuman. Telah lama sekali tubuh itu jauh dari jangkauan.

Mari sini ke pelukku lagi. Kubuatkan kopi, jangan kau habiskan sebelum subuh hari.

Kudengar ada orang gila karena cinta. Ada orang mati karena rindu. Sebagai pelipur laraku yang ditikam rindu, aku membaca kisah cinta dari jazirah Arab, yang ditulis Syaikh Nizami Ganjavi pada tahun 1188 Masehi. Kisah itu melegenda tak ubahnya Romeo dan Juliet di daratan Eropa sana, karangan William Shakespear pada abad 17 Masehi. Kedua kisah cinta itu sama-sama bercerita tentang dua manusia yang saling mencinta tetapi terhalang adat. Yang Layla Majnun terhalang adat budaya Arab dengan nuansa Islam yang kental, yang Romeo Juliet berada pada setting Katolik yang kental pula. Keduanya berakhir tragis.

Aku merasakan cinta Qays yang begitu kuat, yang tak pernah sampai. Begitu pula cintaku yang terombang-ambing diterpa badai. Mataku jadi gerimis, menitik-nitik pada halaman 131, membuat puisi Qays basah kuyup.

Jiwa orang yang dimabuk cinta

Akan merasa sakit karena rindu

Sebab pecinta selalu ingin bersama

Tapi halangan tiada ada henti-henti


Pecinta seperti dua ekor kijang di atas bukit tandus

Walau tiada makanan, tetapi mereka tetap bersama

Atau seperti burung merpati

Walau terbang bebas di angkasa luas

Tetap saja kembali pada kekasihnya

Atau laksana ikan tuna

Tetap tabah walau dipermainkan ombak

Timbul- tenggelam di laut

Walau selalu dicaci dan dicela

Batin menjerit tubuh binasa 

Meski lapar dan disia-siakan

Namun jiwa pecinta akan selalu memaafkan

Sebab pecinta tidak membutuhkan pujian

Dan pengorbanan pecinta tidak akan sia-sia


Kulihat bintang kutub dan bintang kejora

Demikian pula cinta

Sekecil apapun, cinta tetap berkuasa di singgasana hati

Dan bagi pecinta

Kebahagiaan dan kesedihan sama indahya

Karena cinta sejati tidak mengenal kesia-siaan


Jiwaku dan jiwa Layla aka tetap bersama

Andaipun tidak di dunia

Pasti jiwa kami akan bersatu di liang lahat

Dan kelak akan dibangkitkan bersama

Hingga dapat bersatu selama-lamanya


Mataku berkurban utuk Layla denga segenap curahan air mata

Berharap liang lahatmu adalah liang lahatku

Agar jenazah kita bersatu

Penderitaan Qays tentang Layla telah membuatnya melarikan diri ke gurun luas, ke rimba yang gelap. Di sana ia meneriakkan satu nama, Layla, sampai suara itu lindap bersatu dengan angin gurun. Bagi Qays si Majnun, tidak ada kenikmatan paling besar kecuali bersama kekasihnya. Karenanya, ia selalu menyebut nama Layla, dalam syair-syairnya, bila ia kehilangan ingatan tentang Layla sedetik saja, ia akan menjadi gila, menderita. Orang-orang takkan mengerti yang tengah diderita Majnun, mereka hanya akan melempar cemoohan dan menganggapnya gila.

Cinta jelas telah membuat Qays muda seperti kena sihir, tak ada hari-harinya kecuali dengan bayangan Layla berkelebat-kelebat. Cinta telah melenyapkan dirinya, yang tersisa hanya jasad yang juga bukan miliknya, semua milik Layla. Bahkan suatu ketika tubuh Majnun sakit dan harus ada bagian yang dibedah. Ia menangis dan menolak tabib menyentuhkan pisau ke tubuhnya.

“Aku bukan takut dibedah. Aku takut pisaunya menyakiti Layla” Kata Majnun mengiba.

“Apa maksudmu? Kau yang sakit, bukan Layla. Tidak ada yang akan menyakitinya,”

“Layla ada di setiap bagian tubuhku, ada di aliran darahku. Kalau aku dibedah, Layla yang sakit.”

Majnun menganggap dirinya dan diri Layla telah manunggal, bersatu, tak dapat terpisahkan. Majnun adalah Layla, dan Layla adalah Majnun. Jika Layla sakit, Majnun ikut menderita, pun sebaliknya. Kekuatan cinta mereka pada akhirnya terpisahkan maut, meski sepanjang mencintai itu keduanya tidak pernah kering oleh air mata.

Mungkin aku takkan bertelanjang mengasingkan diri ke gurun atau ke hutan sepi, seperti ketika Majnun merana karena Layla. Aku tak mungkin menciumi dinding rumahnya untuk mengungkapkan kecintaan pada orang di dalamnya. Tapi rindu begitu mengusikku. Siangku dipenuhi gambar hitam putih wajahnya. Malam-malam terjaga, tidurku tak lena. Terjatuh lelap sebentar, mimpi tentangnya. Aku mengingat-ngingatkan diriku agar tak macam si Majnun. Tapi jiwaku terlanjur terpenjara di dalam dadanya.

Rindu begitu mencekik leherku. Aku tak berkutik. Mataku perih karena terlalu sering menangis dan tak tidur-tidur. Tubuhku layu. Ketika rindu tak dapat dibujuk. Semua resah ini mesti diserahkan kembali kepada Tuhan.

Di dunia ini telah ditemukan benda ajaib bernama telepon genggam yang bahkan penggunanya tidak pernah memberi penghormatan penuh hikmat dalam sebuah upacara untuk si penemu. Bahwa teknologi bernama internet telah ditemukan, masuk ke pelosok desa, orang-orang beramai-ramai hijrah ke dunia maya. Sangat tidak mungkin pada peradaban secanggih itu dua manusia yang dipisahkan jarak sampai tidak bisa menyampaikan rindu bahkan hanya lewat kedua ‘penemuan mistis’ itu. Pada grafik rindu se-curam itu, ‘penemuan mistis’ menjadi tak punya daya, tunduk pada Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Saat air mata telah kering di pipi, sesak dalam dada tak mereda, Al-Fatihah menguar untuknya. Bau harum doa-doa. Ungkapan rindu tingkat tinggi. Tidakkah kau merasakan?




• Cerpen Terkait
Suarakampus