Sastra Budaya › Cerpen


Bertahun-Tahun Lamanya, Aku Hidup Diruang Kepalsuan

Selasa, 07/04/2020 WIB | Oleh : Sarah Muthia Fatmi, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, FIB Unand.

Nama aku Tasya. Sekarang aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Aku termasuk orang yang sangat mencintai keluarga dan semua orang-orang terdekat denganku. Aku hidup dalam keluarga yang sederhana. Dibalik kesederhanaan ini, aku tidak pernah merasa kekurangan sedikitpun. Sebab, aku selalu mengutamakan syukur dan merasa cukup atas apa yang diberikan Tuhan.

 

Di rumah, aku tinggal bersama ibuk dan bapak. Sedangkan saudara-saudaraku pergi merantau ke tanah seberang. Inilah sebabnya, aku seperti anak satun-satunya di dalam keluarga ini yang dibesarkan dengan penuh kelembutan, kasih sayang dan kemanjaan. 

 

Namun, tidaklah semua sanak keluargaku yang pergi merantau, di kampung sebelah masih ada nenek dan tante yang menetap untuk menjaga kebun. Setiap hari libur, aku datang ke kampung untuk mengunjungi tante dan nenek sembari bermain serta terkadang juga ikut membersihkan kebun bersama mereka.

 

Tak jarang setelah membersihkan kebun, nenek mengobati rasa lelahku dengan teh manis buatannya. Ku seduh teh itu dengan penuh kenikmatan, yang dibumbui nenek dengan cerita-ceritanya yang berkepanjangan. Aku tidak pernah bosan dengan itu, selalu ku dengarkan dengan penuh keriangan.

 

 Hari-hari terus berganti dan libur demi libur pun telah ku lewati. Kini aku semakin beranjak dewasa, sedangkan nenek semakin menua. Tidak banyak lagi yang bisa nenek ceritakan kepadaku, karena kesehatannya juga semakin menurun, sehingga nenek harus banyak beristirahat.

 

Semenjak itu, liburku mulai hambar rasanya. Telingaku mulai sunyi, ragaku pun terasa sepi. Jika lelah, aku hanya bisa rebahan sambil menatap kosong ke jendela, tanpa ada lagi pundak nenek untukku bersandar serta tidak ada lagi cerita-cerita nenek yang bisa ku dengar.

 

Haaahhhhhh… ini benar-benar membuatku bosan. Rumah dan kebunku di kampung sudah tidak asik lagi. Tempat ini serasa kosong, mereka ikut rehat setelah nenek harus banyak istirahat. 

 

Walaupun begitu, aku tidak pernah memutuskan untuk tidak datang lagi ke kampung. Seperti biasanya, aku masih ikut membersihkan kebun setiap minggunya meski lelahku tidak lagi dibayar dengan teh manis buatan nenek.

 

Kemudian pada suatu hari, dibawah langit mendung nenek menyuruhku untuk memijit tangannya yang sangat berkeriput. Perlahan, aku memijitnya dengan penuh kelembutan. Tak lama kemudian nenek memecahkan suasana di ruangan ini.

“Sya, ada yang pengen nenek omongin, sebelum semuanya terlambat. Mungkin ini akan membuatmu benar-benar terkejut. Namun, siap tidak siap, nenek harus mengatakannya padamu ”, kata nenek dengan raut wajah penuh keseriusan. 

“Hehe.. jangan bercanda gitu, Nek,” jawabku dengan santai.

“Ini tidak bercanda, Sya. Nenek sungguh serius. Sebenarnyaaa….” kata nenek dengan kalimatnya yang terpotong.

 

Aku pun mulai percaya kalau nenek tidak sedang bercanda, ini benar-benar tidak seperti biasanya. Tawaku pun berubah menjadi tegang.

“Sebenarnya apa, Nek ? Apa yang terjadi ? Katakan padaku, Nek !” tanyaku dengan penuh penasaran. 

“Sebenarnya orang yang kamu panggil dengan ‘ibuk dan bapak” itu bukan orang tua kandungmu ! Ibu kandungmu telah tiada, ia telah dijemput Tuhan dan sudah tenang di surga-Nya. Ayahmu masih ada, hanya saja dia tidak disini, ia hidup di rantau orang. Sedangkan orang yang telah membesarkan mu yang kamu sebut dengan ‘ibuk dan bapak” itu merupakan adik dan ipar dari ibu kandungmu sendiri.” begitu kata nenek dengan terpatah-patah.

 

Lalu aku menjawab dengan penuh ketidakpercayaan, “Tidak, Nek.. ini sungguh tidak mungkin, nenek sedang bercanda bukan ?”

“Tidak, Sya. Demi langit dan bumi, itulah kenyataannya. Selama ini orang-orang sengaja menutupnya rapat-rapat dari kamu, termasuk nenek, sampai tiada celah sekecil apapun untuk memberitahukannya padamu hingga sekarang. Namun, kini sudah waktunya untuk kamu tahu, kamu sudah besar dan kamu sudah beranjak remaja. Nenek khawatir sekali jika esok nenek meninggalkan bumi, kebenaran ini akan menjadi rahasia yang abadi serta tidak akan pernah terungkap di dalam hidupmu hingga mati.”, lanjutan kata nenek padaku.

 

Aku terdiam, bibirku membisu. Seketika, jantungku berasa disambar petir, organ dalam ku terasa hancur berkeping seperti puing-puing pesawat yang berjatuhan kepermukaan bumi. Tanganku bergetar, , kulitku dialiri keringat yang sangat dingin bagaikan salju, dan mukaku tampak pucat tak berdarah seperti mayat-mayat di film horor. Rasanya sebatang tubuhku ini berada di awang-awang sedangkan pikiranku pun melayang sejauh-jauhnya dari badan.

 

Percaya tak percaya, inilah yang sebenarnya, inilah kenyataannya. Aku hidup di ruang kepalsuan, 12 tahun lamanya. Seakan tiada celah sekecil apapun untukku mengetahuinya. Sepertinya kenyataan itu dibungkus dalam plastik yang sangat tebal, lalu diletakkan pada sebuah tempat yang sangat curam dan dalam, sehingga tiada satu pun orang yang berani membocorkannya padaku.

 

Hari itu benar-benar pedih rasanya. Semua orang terasa sangat asing dan keterlaluan. Jiwaku yang dulunya tenang dan tentram, sekarang aku bahkan tidak bisa bernafas seperti yang ku inginkan. Apalagi setelah bertahun-tahun cerita ini dibungkam.

 

Sumpah demi semesta, duniaku berantakan. Aku menolak sedih, tapi tak pernah bisa ku lakukan. Hatiku terus meraung-raung pada semesta. Jika bisa, ingin sekali rasanya berlari pada planet lain yang tak ada penghuninya. Menurutku,, semua yang ada di semesta ini sangat kejam, karena sudah tega sekali menyekap ku pada ruang yang penuh kepalsuan ini.

 

Setelah lelah mengutuk keadaan, tetap saja takdir ini tidak bisa berubah. Ini sudah jalan dari Yang Maha Kuasa. Dari detik ini, aku mencoba tenang dan berdamai dengan keadaan.

 

Kini, ingin sekali aku memeluk ibu dan ayah. Tapi jika untuk ibu, jelas sekali aku tidak bisa memeluknya secara langsung. Tapi, aku masih bisa memeluk cium ibu foto ibu pada sebuah figura lusuh dan usang yang baru diperlihatkan nenek kepadaku.

 

Tuhan lebih sayang ibu dan Tuhan telah membawa ibu pergi jauh. Kini, alam ku dan alam ibu sudah jauh berbeda, bahkan aku tidak tahu alam ibu tersebut berada di mana. Yang jelas, ibu sudah berada di sisi-Nya. Kini tugasku adalah mengirimkan do’a-do’a terbaik untuk ibu agar dikawal malaikat dan selalu bahagia di sana.

 

 

Sedangkan ayah, aku masih berkesempatan untuk memeluknya. Berbeda dengan ibu, aku dan ayah masih sama-sama berada di bumi. Hanya saja kami terpisah, dan aku belum tahu ayah berada pada belahan bumi yang mana. Namun yang jelas, aku juga harus mengirimkan do’a untuk ayah, semoga ayah sehat selalu, diberi keberkahan oleh Tuhan, dan harapan yang paling besar semoga kita segera dipertemukan Tuhan. 




• Cerpen Terkait
Suarakampus