Sastra Budaya › Puisi


Rindu

Sabtu, 02/05/2020 WIB | Oleh : Leni Marlina

 

Di balik meja kayu terpotong kaki

Di atas balutan baju merah jambu, mesin ketik itu Aku raba

Dengan rambut terjulai sebahu, celana pendek di atas lutut

Jari lentik tak begitu cantik, riasan merah sebelah kanan

Mengirim pesan tersirat hati, tak terucap pada bibir

Aku, sedang menulis surat


Jendela kayu memandang curiga, arah ke mana kira tuannya

pun ranjang lapuk sebelah, menelisik sebelah lihat

jua racun yang sedang menyala, membakar diri

Demi berpapasan tatap tajam, tanya tak terucap.

Namun,

Tidak pada gelas tua, senantiasa mengorban badan

Berisi, hilang, terisi, diambil, kosong, dilupa

Menyaksi dengan tenang, menunggu tak melirik

Berteman tanpa kata, “ikhlas” pernah ungkapnya


Laman terakhir telah terbaca, terlahap tanpa suara

Pada pikir timbul asa, tak jua, paham berdamai

Laman bergerak hendak ditatap, melompat-

lompat minta perhatian, mata tak kunjung tertuju

Perkira mulai bermain, gerangan sedang melanda

Tanya meronta tak bicara, debar kencang tak biasa


Dingin sedang ingin berkawan, peluk jauh untuk dijangkau

Harap jatuh melimpah ruah, hendak mencapai puncak batas

Kenang menari tak henti jemu, bersarang pada ingat-ingat

Terusir tidak hendak pergi, terpanggil enggan untuk pulang

 

Angan menggambar tak kendali, bayang jua yang terdapat

Sesekali liar irama, sekali menduga-duga

Temu entah kapan terjamah,

merindu Aku kiranya kira, 

Pulanglah, Aku rumahmu 

 

Rindu, sarang bersarang pada benak

Beranak pinak pada hati, Kau jua di dalamnya

Mata henti tuk menatap, buntu tampak pada dinding

Angan hendak bersua juga, tapi sabar jadi sadar

Kasih, Negeri sedang dijamah Corona

Bersabarlah

 

Rindu, sarang bersarang pada benakBeranak pinak pada hati, Kau jua di dalamnyaMata balik meja kayu terpotong kaki
Di atas balutan baju merah jambu, mesin ketik itu aku raba
Dengan rambut terjulai sebahu, celana pendek di atas lutut
Jari lentik tak begitu cantik, riasan merah sebelah kanan
Mengirim pesan tersirat hati, tak terucap pada bibir
Aku, sedang menulis surat
Jendela kayu memandang curiga, arah ke mana kira tuannya
pun ranjang lapuk sebelah, menelisik sebelah lihat
jua racun yang sedang menyala, membakar diri demi
berpapasan tatap tajam, tanya tak terucap.
Namun,
tidak pada gelas tua, senantiasa mengorban badan
Berisi, hilang, terisi, diambil, kosong, dilupa
Menyaksi dengan tenang, menunggu tak melirik
Berteman tanpa kata, “ikhlas” pernah ungkapnya
Laman terakhir telah terbaca, terlahap tanpa suara
Pada pikir timbul asa, tak jua, paham berdamai
Laman bergerak hendak ditatap, melompat-
lompat minta perhatian, mata tak kunjung tertuju
Perkira mulai bermain, gerangan sedang melanda
Tanya meronta tak bicara, debar kencang tak biasa
Dingin sedang ingin berkawan, peluk jauh tuk dijangkau
Harap jatuh melimpah ruah, hendak mencapai puncak batas
Kenang menari tak henti jemu, bersarang pada ingat-ingat
Terusir tidak hendak pergi, terpanggil enggan untuk pulang
Angan menggambar tak kendali, bayang jua yang terdapat
Sesekali liar irama, sekali menduga-duga
Temu entah kapan terjamah, merindu Aku kiranya kira, 
Pulanglah, Aku rumahmu 
Rindu, sarang bersarang pada benak
Beranak pinak pada hati, Kau jua di dalamnya
Mata henti tuk menatap, buntu tampak pada dinding
Angan hendak bersua juga, tapi sabar jadi sadar
Kasih, negeri 

 




• Puisi Terkait
• Puisi Lainnya
Inca ..
Suarakampus