Sastra Budaya › Cerpen


Sisi si Anak Ikan

Selasa, 13/07/2010 WIB | Oleh : Nofit

Kisah ini bermula di daerah Sumatera Barat, tepatnya di daerah Solok. Beratus tahun yang lalu di suatu rumah yang berdinding  bambu, dan beratapkan daun kelapa, tinggal satu keluarga. Sang ayah seorang petani, di samping itu juga hobi memancing ikan. Setiap terbit fajar sampai terbenam matahari ayah tiada di rumah, kerjanya membanting tulang untuk anak-istri tercintanya.

 

Sang ibu adalah wanita baik dan sangat bijaksana. Mereka memiliki dua orang anak. Anak yang sulung bernama Sisi, kecantikannya melebihi kecantikan ibunya. Sedangkan adiknya yang laki-laki bernama Dheta. Ia ganteng dan berwatakan mirip ayahnya.

 

Pada suatu malam, ayah pergi ke sawah melihat air yang masuk ke dalam sawahnya. Karena terlalu letih ia tertidur di pondok kecil. Cuaca malam itu kurang bersahabat, terasa dingin. Sebelum ia tidur teringat janji istrinya saat belum menikah dahulu “Uda, kalau anak kita sudah dewasa nanti, jangan pernah kau menyebut asal-usul nama Sisi, apapun  alasannya, baik disengaja maupun tidak.” Pesan istrinya selalu menghantui tidurnya.

Setelah ia bangun dari tidur nyenyaknya, dari pondok sawah, seperti biasa, ayah memancing di kolam. Ia melihat tas yang biasa dibawa untuk memancing. Ternyata, setelah di cari-cari alat pemancing ikan tidak terbawa. Ia hanya membawa “tangguak” (bahasa soloknya,) berguna untuk menangkap ikan. Cara menggunakannya harus masuk ke dalam sungai.

 

Seperti biasa. Ia menyediakan ikan sebagai sarapan pagi keluarganya. Demi keluarganya, ia tega basah-basah menangkap ikan. Kadang di kolam kadng di sungai. Ketika ia mulai masuk ke dalam sungai ia mulai menggunakan  “tangguak.” Awalnya  ia tidak mendapatkan ikan satupun, akan tetapi ia teringat asal istrinya dari ikan. Tapi anehnya semakin dia mengingat kejadian yang telah berlalu tentang istrinya. Seluruh ikan-ikan yang ada di sungai itu keluar seperti gabus yang diapung di atas air. Ayah pun, dapat menangkap dengan memilih satu persatu, hingga ayah membawa satu tas kecil ikan.

 

Ayah  menuju rumah dengan senang hati. Setiba di rumah ayah berteriak dengan senang hati “Wahai istri dan anak-anakku, lihat apa yang aku bawa?”

 

“Apa, yang Bapak bawa?” kata anak sulungnya

 

“Coba terka?” kata ayah

 

“Pasti ikan,” kata sisi

 

“Iya,” jawab ayah sambil membawa tasnya dipenuhi ikan.

 

Sisi dan Dheta berebut ikan. Sang ayah tersenyum, sang ibu pun merasa bahagia dengan mengeluarkan senyuman pada ayah dan anaknya.

Ikan pun di masak ibu. Setelah masak, semua keluarga berkumpul, menikmati sarapan pagi  yang sedang berlangsung.

Karena, namanya manusia pasti ada kesalahan dan kekhilafan. Sedang anak-anak berbicara, tiba-tiba anak keduanya, bertanya tentang asal-usul nama daerah ini, setelah di jelaskan oleh ayahnya. Anak pertamanya yang bernama Sisi, tanpa sengaja bertanya “Apa asal-suluk nama Sisi” sambil senyum kecil, serta perasaan kuatir, ibu menghampiri ayah. Ibu takut suaminya, tanpa sengaja melanggar janjinya. Di samping itu, ia sangat tahu persis karakter suaminya, apabila ia sedang keasyikan ngomong. Ayahnya sering lupa janji.

 

Tanpa basa-basi ayah menjawab pertanyaan Sisi. “Sisi asal nama kamu dari Ibumu yang berasal dari Ikan.” Mendengarkan jawaban itu sang ibu mulai bertindak menelusuri sungai tempat suaminya menemukannya dahulu. Setelah melihat gerak-gerik ibu sang ayah berkata “Wahai istriku pergi ke mana kau, bukannya kita berkumpul bersama anak-anak kita? Dengan perasaan bingung di jawabnya pertanyaan ayah. “Kita dahulu berjanji tidak mengasih tahu asal-usul nama Sisi, tapi apa boleh buat sekarang telah terungkap. Sekarang, tiba saatnya aku kembali ke tempat asalku.” Pesan terakhirku rawat dan jagalah kedua anak-anak kita agar menjadi orang yang cerdas, baik bagi bangsa dan berguna bagi bangsa dan masyarakat setempat ini. Uda, aku berharap kamu mencarikan penggantiku, sebagai ibu bagi anak-anak kita. Jangan aniaya anak kita, Uda

 

“Tidak istriku kamu tidak boleh kembali ke tempat, aku menemukanmu, maafkan aku. Istriku tadi aku benar-benar tidak sengaja menyebutkan

“tidak mas” kita harus tepati janji kita, seperti janjiku pada seluruh jagat alam raya ini.

 

“Kalau begitu baiklah, aku tidak bisa berkata apa-apa. Lagi untuk menjaga cintaku padamu, aku akan berjanji untuk memenuhi pesan-pesan terakhirmu. Sekarang aku melepaskan dengan senang hati, suatu saat kami akan melihat keadaan kamu di sungai itu, serta kami akan bersihkan tempat itu selalu.

 

Wanita yang berasal dari ikan itu, sebelum berlari meninggalkan keluargaya. Ia sempat berbicara “Sisi kamu jangan sedih ibumu begini dan begitu juga Dheta. “Iya bu” sahut mereka dengan tangisan, dengan secuil senyuman untuk menyenangkan hati ibuya.

 

Setelah melihat itu. Ibu mulai menelusuri sungai “Buluh” yang biasa di sebut orang zaman sekarang ini.***(Mahasiswa Jurusan Bahasan dan Sastra Inggris.)




• Cerpen Terkait