Sastra Budaya › Puisi


Malam (2)

Selasa, 13/07/2010 WIB | Oleh : Khahlil Habibul Ali

Malam, aku sedang mengantuk, aku bayangkan dirimu sedang memelukku, sehelai sutra halus dan bantal kapas menemaniku. Kau sedekahkan tidur terhangat untuk diriku, mimpi terindah yang hanya kujumpai dalam dongeng. Apa yang aku mimpikan? Aku memimpikan semacam dunia kabut. Di atas kabut rajaraja duduk di istana. Para pengawal mengacungkan tombak emas ke langit dan silang duapuluh derjat secara vertikal. Seekor kucing bergelung diam di pangkuan bidadari. Dayangdayang mengipas di samping kursi raja. Aku berdiri di dinding istana dari kabut. Permaisruri didamping selirselir yang kainnya menjuntai ke lantai kabut. Malam kubayangkan kau hadir bersama aku menjadi gelap. Aku ingin tak terlihat dan menyelinap. Tapi di sana siang lebih berkuasa darimu. aku dibawa masuk istana kabut dengan jamuan termewah, satu jus merah yang kurasa itu lebih saga semacam darah, nikmatnya maka ingat aku pituah ketika aku bangun. “makanan surga itu tiada bandingan kenikmatannya di dunia ini.” satu porsi rinyuak dan semacam teh poci yang aduhai. Malam aku tanpa raguragu menyantapnya buah pir dan merah delima yang aku yakin tidak tumbuh pada tanahmu. Dan aku temukan dindingdinding kabut penuh oresan carutmarut yang dihias indah, pakai bingkai foto emas dan lapisan sutra. Tentang kursikursi emas ia dikeliling penjaga yang di kakinya para pegawai istana duduk bersimpuh dan bersila. Orangorang membaca kitab kuno yang diejaeja semacam orang buta, tapi pada matanya mengalir air susu untuk minum para raja, permaisuri dan bidadari. Malam, lalu kau buruburu membangunkanku. aku bayangkan kau sedang ingin bercakap tentang mimpiku. aku ingin katakan “itu pertemuan indah sepanjang tanpa tragedi.” Tapi kau buruburu pula meninggalkanku di bawah gardu lampu merah. “tanpa setetes nirahpun,” ujar kau berlalu.

 

(Padang, April 2010)




• Puisi Lainnya
Suarakampus