Sastra Budaya › Cerpen


Ada Al Qur’an Dalam Hati

Jumat, 23/07/2010 WIB | Oleh : Riyadlotu Sholikhah*

“Cu, Kau ambillah kursi kayu panjang yang dekat jendela itu. Biarlah kita pindah duduk ke jendela belakang. Dari situ jelaslah bukit dan lembah yang saling bertindih di pandangan mata. Di situ lah Kakek kan bercerita kepadamu. Tentang perempuan takhfidhul Qur’an. Seperti kau yang juga Kek harapkan menjadi penghafal Qur,an. Ya, begitulah yang Kek harapkan.”

 

“Penghafal Qur’an, Kek!”

 

“Ya, Cu. Orang yang selalu menjaga ayat-ayat Mulia. Di mana ia juga orang yang dimuliakan Allah. Orang selalu mendapat berkah Allah. Beruntunglah ia sebab ia selalu menjaga kalam Allah.” Kakek buka jendela kayu, sambil menyibakkan gorden yang sehati dengan coklat kayu.

 

Jauh di bawah, dekat lembah, sebelum mendaki bukit hijau, terbentang sungai yang dari hilir utara menuju selatan. Di sanalah mata kakek memperhatikan nenek yang sedang mencuci pakain. Satu ia hempaskan kain di atas batu. Kemudian lagi nenek ambil yang lain. Tampaklah nenek yang memelas keningnya.

 

Kakek rangkul Ihsan lebih mendekat. Duduklah dua orang lelaki itu menghadap bukit yang luas dan langit yang cewang.

“Orang yang mulia, Kek?!”

 

“Ya, Cu. Orang-orang yang diputihkan hatinya, Cu. Seperti kau yang juga mempelajari di bangku pesantren. Hanya orang pilihan yang dapat menghafal dan menjaga al Qur’an.”

 

“Seperti Nabi yang hafal Al Qur’an, Kek!”

 

“Lebih kurang seperti itu, Cu. Hanya nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, Nabi orang yang langsung membawa al Qur’an dari Allah.”

 

“Sudah sampai juz berapa hafalan kamu di pesantren selama dua tahun ini?”

 

“Baru sampai Jus 15, Kek.  Tentang tujuh orang pemuda. Surat al Kahfi sampai ayat 25.”

 

“Baguslah, Cu.” Kakek betulkan letak peci hitamnya. Sesekali kakek angkat tepian kain sarung di pinggangnya. Pagi yang sejuk ia hirup udara yang sejuk. Ihsan lihat nenek yang masih mencuci di sungai.

 

“Dengarkanlah, Cu!”

 

Dua lelaki yang menating dua gelas kopi di atas kusen kayu jendela. Kakek sedup. Mulailah kakek berkisah.

 

“Maka biarlah kubuka lembaran kertas lusuh ini kembali, Cu. Kisah nyatalah yang telah dituliskan sewaktu kakek masih muda dahulu.” Sambil mengeluarkan selipan kertas kusam di lapisan peci hitamnya. Peci nasional orang menyebutnya.

 

“Dari mana kakek tahu, Kek?”

 

“Nanti, Cu.”

 

***

AKU tak tahu ini apa. Tapi pada apa aku telah diperkenalkan tentang sesuatu yang belum aku mengerti. Maka kukatakan saja mungkin ini hari yang beneri.


Ribut angin pagi, ceracau burung-burung mungil, menyertai lambaian daun pepohonan mahoni yang memagar di sepanjang jalan. Fajar telah lama hilang. Tinggal rekah awan di langit. Bergaris-garis panjang.

 

“Ini ruang angin,” kataku. Terus membiarkan daun berguguran di atas kepalaku. Kucium wewangian pagi, seperti angin mencium wewangian rambutku yang terjuntai sepinggang. Namun tak terasa kakiku sudah sampai di ujung pagar panjang deretan mahoni.

 

Apa itu? Ya, aku tidak tahu apa itu. Kenapa mesti gerbang? Mesti ada pintu besar. Gerbang berpucuk bulan dan bintang. Langkah diarak perlahan menuju anak tangga. Tiba-tiba saja aku sudah di dalam. Kenapa begitu cepat?!

 

Memasuki relif kuno dengan ruangan tinggi dan tiang-tiang besar, seperti kembali ke masa lalu. Di dinding terukir lafas Tuhan. Ada “Laailaahaillallah”, “Subhaanallah”, “Alhamdulillah”, “Allahu Akbar”... Tentunya dalam ukiran kaligrafi Arab.

 

Siapa itu yang duduk bersila melingkar. Orang-orang yang duduk memegang kitab suci. Ia baca seorang, ia simak yang lain. Tiba-tiba ada yang memanggilku dengan suara yang lembut dari lingkaran itu. Yach... itu suara ibu, ibuku yang waktu kecilku sering menyanyikan “Jilbab Putih.” Aku mendekati ibu.

 

“Ada apa Ibu memanggilku ...?” tanyaku

 

“Zahra, duduklah di samping Ibu. Ikutlah menyimak Al-Qur’an seperti orang-orang  di sekeliling kita yang sedang menyimak Al-Qur’an.” aku menurut. Aku bersimpuh di samping ibu. Ibu teruskan simak irama suci itu dengan tetap kerudung di kepalanya.

 

” Ibu, suara itu merdu. Ibu, siapakah orang yang melantunkan ayat suci itu?  Mengapa orang itu tidak membawa al-Qur’an? Apakah ia orang yang hafal al-Qur’an?”

 

Ibu tersenyum. Ia letakkan ujung kain kerudungnya ikut menutupi atas kepalaku. Ibu cium keningku. Aku tak mengelak. Ibu membaca mataku.

 

“Iya anakku, orang itu orang yang sudah hafal al-Qur’an. Ibu ingin kamu juga menjadi seorang yang hafal al-Qur’an. Orang yang menjaga ayat Tuhan.” Aku bingung. Orang yang menjaga ayat Tuhan. Bagaimana menjaga ayat? Barangkali ibu bercanda. Tartil itu terus bertalu.

 

Jama’ah yang mengikuti acara yang disebut dengab Sima’an, selesailah sudah. Kata ibu hari sudah sore. Aku tak berkata apa-apa. Bukankah ini pagi yang baru saja terlahir. Tapi kenapa di luar ada megah merah.

 

”Ibu ingin kamu juga menjadi seorang yang hafal al-Qur’an. Orang yang menjaga ayat Tuhan.” Kenapa ngiang kata ibu begitu lama begitu dalam. Menjaga ayat Tuhan. Bagaimana caranya? Tapi kenapa pula pagi dan sore jadi tiba-tiba cepat berubah.  

 

@@@

”Zahra kapan ujian sekolahnya?” tanya ibu

 

”Sekitar 2 bulan lagi, Bu. Emang ada apa, Bu?”

 

”Ibu ingin besok, hari Minggu, Zahra berangkat ke pesantren. Ibu ingin kamu menjadi anak yang soleh dan mendalami ilmu agama. Ibu ingin Zahra menghafal al-Qur’an,” jawab ibu sambil duduk mendekatiku yang sedang santai di permadani, di ruang tengah menonton TV, tausiyah agama. Ustda kondang Lampung ini.

 

Ibu benar-benar tidak bercanda,  ’Ibu ingin kamu juga menjadi seorang yang hafal al-Qur’an. Orang yang menjaga ayat Tuhan.’ Ah, ngiang kata ibu.  

 

”Ibu... Zahra tidak punya cita-cita untuk menjadi seorang takhfidhul Qur’an Bu...? Zahra ingin menjadi seorang guru PAI.”

 

”Lho....kan Zahra tinggalnya di pesantren juga sambil sekolah. ”

 

”Bagaimana jika Zahra tidak kuat sekolah sambil menghafal al-qur’an...?”

 

”Belum dicoba kok sudah bilang tidak kuat.... Jika Allah menghendaki, semua pasti akan terjadi. ”

 

”Bu, berikan Zahra waktu untuk memikirkannya, Bu.”

 

Ya Allah kenapa tiba-tiba ibuku menyuruhku untuk menghafalkan dan menjaga kalammu, apakah ini termasuk perintahmu yang engkau sampaikan lewat ibuku? Sedangkan ibuku adalah orang yang sangat aku sayangi. Aku berat untuk menolak permintaannya. Ya Allah jika memang ini kehendakmu maka bimbinglah dan tuntunlah hambamu yang lemah ini. Tak terasa mataku sayu, dan aku tertidur dengan pulasnya.

 

@@@

Sudah satu bulan aku di pesantren, aku baru mendapatkan hafalan juz ’amma. Di pesantren lebih banyak waktu dihabiskan untuk mengaji bahkan sampai larut malam. Sesudahnya mau belajar sudah mengantuk, membuat aku kesulitan dalam menghadapi ujian. Tidak seperti saat di rumah, setiap habis magrib aku mengunci kamar. Membuka lembaran buku. Jadi saat ujian aku dapat mengerjakan soal ujian dengan mudah. Saat semester satu kelas satu aku dapat peringkat dua. Semester kedua aku dapat peringkat satu.

 

            Malam ini malam khataman juz ’ammaku. Acara khataman rutin setiap santri selesai menamatkan juz ’amma. Betapa bahagianya aku. Bapak, ibu kan datang. Dan besok pagi adalah pembagian rapor hasil ujianku. Hatiku bercampur aduk, ada rasa bahagia dan ada rasa gelisah. Bagaimana dengan hasil raporku nanti.

 

            Akhirnya yang aku gelisahkan benar-benar terjadi di kelas semester dua ini, aku tidak mendapatkan peringkat kelas. Saat temanku tanya, mengapa aku yang dulu peringkat satu sekarang tidak dapat tingkat peringkat apa-apa. aku hanya bisa diam diri. Dalam hatiku berkata, ’Ya Allah,  Jika nilaiku harus turun karena aku lebih sibuk menghafal ayat-ayat sucimu aku rela dengan semua ini, karena engkau pasti merencanakan sesuatu yang terbaik untuk hambamu ini.’

 

            Setelah bagi rapor aku pulang ke rumah. Aku sudah izin dengan abah dan umi untuk pulang memberitahukan nilai raporku.

Aku menangis di pangkuan ibu.

 

            ”Ibu, maafkan Zahra. Zahra tidak bisa menjadi yang terbaik di kelas,” kataku sambil menangis.

 

”Zahra... janganlah bersedih, nilaimu menjadi turun mungkin karena waktumu lebih banyak digunakan untuk mengaji di pesantren.”

 

@@@

 

Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun, senang dan sedihku, kurasakan di pesantren dan tak terasa aku sudah hafal al-qur’an pada juz 11. selesai juz 11 masuk juz 12. Sedang berlangsung hafalan surat yusuf, surat ke dua belas

 

Aku sudah kelas satu Madrasah Aliyah.

 

Aku merasa aneh mengapa banyak sekali pria yang menyatakan cinta kepadaku. Bahkan aku tak menyangka ada sekitar lima belas pria mengharapkan cinta dariku. Ada dari kakak kelasku, adik kelasku, teman kelasku, dari sekolah lain serta dan dari orang sekeliling lingkungan pesantrenku. Sampai di antara mereka berkelahi hanya untuk memperebutkan cintaku. Aku bertanya pada diriku sendiri, ada apa dengan diriku sehingga mereka memperebutkan cintaku? Dan yang lebih menyakitkan lagi ketika aku pulang bersama teman kelasku yang bernama Farida. Farida katakan,” Zahra... ada apa sebenarnya pada dirimu sampai banyak para lelaki yang mengharapkan cintamu?”

 

”Aku juga tidak tahu, mengapa mereka seperti itu.?” jawabku singkat.

 

”Jangan-jangan kamu memakai ilmu pelet...?” timbal Farida. Hatiku tersentak. Meski hatiku terasa sakit namun aku anggap itu hanya gurauan.

 

”Iya nie aku pelet...!” aku sambil menjulurkan lidahku sedikit. Setelah itu kami berpisah di pertigaan jalan. Farida pulang ke rumahnya. Aku pun kembali ke pesantren.

 

Pukul 19.15 suara adzan berkumandang menandakan bahwa telah masuk waktu shalat Isya’. Para santri lekas bersiap-siap wudhu untuk melaksanakan shalat isya’ berjama’ah. Selepas shalat isya’ para santri segera mengambil kitabnya dan menuju ke ruang aula untuk mengaji yang akan dipimpin abah. Setelah abah memasuki aula, abah menjelaskan tentang ujian dan cobaan untuk seorang penghafal al-qur’an.

 

 Abah  katakan, ”Bagi seorang penghafal al-Qur’an pasti akan diuji kesabarannya oleh Allah SWT baik dari segi persabatan, keluarga, lingkungan, maupun dari diri sendiri. Contohnya saat menghafal surat Yusuf di situ akan mendapatkan ujian. Jika si penghafal adalah laki-laki maka godaannya dari perempuan, dan jika si penghafal perempuan maka godaannya dari laki-laki.”

 

Setelah Abah menutup pengajian malam ini para santri lekas menuju ke kamar masing-masing. Namun aku masih meresapi apa yang dikatakan abah tadi. Hatiku berkata, ’Mungkinkah pria sebanyak kira-kira lima belas orang yang mengharapkan cintaku itu merupakan cobaan atau ujian yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku? ’ ya Allah... lindungi hambamu dari hal-hal yang keluar dari syari’at agama.

 

Kini aku merasakan betapa susahnya untuk menjadi orang yang mulia di sisi Allah. Hanya orang-orang pilihan yang bisa melewati ujian-ujian yang sangat berat, bagaikan menghadapi binatang buas yang siap menerkam. Jika kita berani melawan dengan kekuatan dan do’a maka kita pasti akan menang. Tetapi jika kita lemah maka binatang buas menerkam.

 

. Seperti teman-temanku yang tak kuat menghadapi ujian-ujian itu, ada yang sudah juz lima, juz sepuluh, bahkan ada yang sudah juz dua puluh, ia sudah tak sanggup dan ia pun berhenti untuk menghafalkan al-qur’annya.

 

Melihat teman-teman seperti itu, hatiku semakin tak yakin apakah aku bisa menyelesaikan hafalan Qur’anku. Tetapi mengingat nilai raporku yang menurun maka aku harus melanjutkan hafalan Qur’anku sampai selesai dan melekat di hatiku. Aku tak mau semua prestasiku menurun begitu saja. Dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu jika mendengar aku tidak selesai menghafalkan al-Qur’anku. Aku tak boleh berkecil hati. Aku harus semangat karena Allah pasti akan membantu hambanya yang mau berusaha dan berdo’a.

 

@@@

Dan akhirnya Allah mengabulkan do’aku, selama kurang lebih lima tahun aku menyelesaikan hafalan al-Qur’anku, bahkan aku menjadi Takhfidzul Qur’an pertama di pesantrenku itu. Pada saat itu bersamaan bahwa aku juga telah menyelesaikan Sekolahku di Madrasah Aliyah. Mulai ba’da Ashar aku melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan disimak para santri dan kedua orangtuaku yang duduk di sampingku.

 

 Satu hari penuh aku telah menyelesaikan bacaan Q ur’anku. Abah langsung memimpin doa Khatmil Qur’an. Diamini jema’ah penyimak Al-qur’an.

 

Hanya ada rasa bahagia di hatiku dan tak terasa air mataku menetes. Ini air mata bahagia yang telah lama tersimpan di bola mataku. Kini bola mata itu telah merelakan air mata itu menetes dengan sendirinya.

 

Malam ini malam Khatmil Qur’anku. Aku tak menyangka bahwa yang mengisi pengajian di malam ini adalah K.H. Ma’ruf Islamuddin. Beliau orang yang sangat dikagumi dan terkenal di kalangan masyarakat karena ilmu dan cara berdakwahnya yang sangat bagus, diiringi lagu-lagu qasidahnya bersama para santri-santrinya.

 

Sudah ratusan orang yang menghadiri acara Khatmil Qur’an pada malam ini. Betaba bahagianya hatiku saat ada beberapa orang berpakaian seperti tentara yang mengatur orang-orang agar memberikan jalan untukku yang saat itu akan naik ke atas panggung untuk melantunkan salah satu surat yang terdapat dalam al-Quran yaitu surat al-Muzzamil.

 

Acara demi acara telah berlalu. Aku berfoto bersama K.H. Ma’ruf Islamuddin. Abah, umi dan kedua orang tuaku juga ikut. Setelah itu tak kusangka adik-adik kelasku memberikan ucapan selamat dan ternyata mereka datang bersama para guru dan kepala sekolahku. Benar-benar malam ini malam kebahagianku yang tak akan bisa ku lupakan seumur hidupku.

 

@@@

Hari ini hari merdekaku. Bagaikan burung yang terlepas dari sangkarnya, bebas menghirup udara segar di pagi hari. Aku berpamitan pulang kepada abah dan umi untuk pulang bersama ayah dan ibu, dan mengucapkan terima kasih kepada abah dan umi yang sudah membimbing dan memberikan ilmunya kepadaku. Sesampai di rumah aku langsung masuk ke kamarku yang sudah bertahun-tahun tidak aku tempati. Aku mengenang masa-masa waktu aku masih kelas satu MTs yang sangat rajin belajar, dan kini lampu belajarku terlihat ada butiran-butiran debu yang menandakan bahwa lama tak terpakai karena di tinggal oleh pemiliknya. Tiba-tiba ibu memanggilku. aku menemui ibu bersama ayah di ruang tamu.

 

”Ada apa Ibu memanggilku?” tanyaku

 

”Zahra duduklah di samping ibu,”

 

”Zahra kamu kan sudah menyelesaikan sekolahmu dan hafalan Qur’anmu, maukah kamu melanjutkan pendidikanmu untuk kuliah di perguruan tinggi?” tawar ibu.

 

Hatiku benar-benar bahagia saat aku mendengar tawaran ibu kepadaku, karena dengan melanjutkan ke perguruan tinggi, aku bisa mewujudkan cita-citaku untuk menjadi seorang guru.

 

”Iya Ibu... Zahra mau untuk kuliah di perguruan tinggi agar cita-citaku menjadi seorang Guru Pendidikan Agama Islam akan terwujud. ” Ayah dan ibu tersenyum.

 

”Ya Allah ..... Puji syukur aku panjatkan kepadaMu. Kini Engkau telah membuktikan kekuasaanMu padaku, dan aku pun akan menjaga Al-Qur’an ini dalam Hatiku. ”

 

***

            “Ya, begitulah, Cu. Perempuan itu perempuan yang menjaga al Qur’an.” Kakek kembali melipat kertas kusam. Teratur dengan garis tepi yang mulai luntur. Entah sejak kapan berada di peci kakek. Kembali peci itu terpasang di kepala kakek. Miring ke kanan.

 

            “Tadi kau bertanya kenapa Kakek bisa tahu semua. Ya, kakek tahu semua itu, Cu.” Kakek pandang nenek yang sudah mulai naik tangga-tangga tanah menuju tebing rumah kayu ini. Kembali ia sedup satu teguk air kopi. Kakek tersenyum ke arah nenek. Tentu saja nenek tidak melihat. Kakek ingat-ingat bacaan hafalan nenek yang saat ini sedang menyelaikan juz 30. Baru malam tadi masuk surat an Naba’.

 

            “Sebaiknya kau bantulah Nenekmu dahulu mengambil kain dari baskon di kepalanya. Oh, ya Cu. Oh, ya satu hal yang tidak kamu ketahui tentang nenekmu.”

 

            “Apa itu Kek.”

 

            “Kamu tahu siapa nama nenekmu?”

 

            “Tidak Kek. Kakek tidak pernah memangil nenek dengan namanya. Kecuali Kakek katakan ‘Nenek Ihsan,’” kata Ihsan turun dari pintu.

 

            “Nama nenekmu, Zahra.”

 

            “Apa kek?”

 

            “Nenekmu namanya, Zahra…” kakek kembali teguk seteguk air kopi. Kakek tersenyum ke nenek. Tentu nenek masih tidak mengetahui senyum kakek. ***

 

*Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Silam Stain Purwokerto