Sastra Budaya › Cerpen


AKU UNTUK PALESTIN

Senin, 27/09/2010 WIB | Oleh : Mariati Shofia

Tidak biasanya pagi-pagi sekali telah duduk seorang anak yang lucu. Empat mata bertatapan penuh kecemasan, seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan.

 

“Eh…eh… Tumben anak ibu pagi sudah siap-siap berangkat, ayah saja baru selesai mandi, ada les pagi ini?” Tanya ibu heran.

 

“Tidak Bu kami pagi ini hanya ingin minum segelas susu saja, Bu.” Ibu yang sedang sibuk menyusun piring piring di meja makan sempat-sempatnya meledek.

 

“Atau mau membantu buka pintu gerbang, yaaaa?” Anak-anak tersenyum./

 

“tidak bu” lalu ibu membuatkan dua gelas susu untuk putera dan putrinya.

 

“setelah ini harus sarapan ya, nak. Sedikit saja.”

Mata mereka saling bertatapan dan terlihat kesal

 

“Tidak Bu, kami hanya ingin minum segelas susu saja.” Ibu tetap sibuk dengan aktivitasnya.

 

“Ya, kalau terburu-buru roti saja.”

 

Si Lucu tersenyum mendengar ucapan ibunya. Lalu mereka memberi isyarat keduanya pertanda misi mereka telah berhasil. Ibu pun menyodorkan dua potong roti di hadapan mereka.

 

“Tumben anak ayah sudah rapi, sudah hampir habis lagi tuh tinggal setengah gelas. Ayah telat dong!” Ayah muncul dengan pakaian kantornya. Ibu yang masih sibuk pun ikut bicara

 

“Bukan ayah yang telat, namun anak-anak saja yang kepagian.”

Ayah tersenyum lalu mengusap-usap kepala kedua anaknya  yang tidak seusia namun seperti kembar.

 

“Tunggu ayah sebentar karena mau sarapan. Mari kita sarapan biar ayah yang ambilkan.” Wajahnya pun tampak kesal.

 

“Mereka tidak mau sarapan dan sudah minum segelas susu dan sepotong kue.”

 

“Yah, Kami boleh berangkat lebih awal, Yah?”

Ayah langsung memberhentikan kunyahannya dan mengerutkan kening.

 

“Ayah hanya lima menit makan. Lagian apa yang kalian kejar pagi-pagi begini. Perjalanan kita butuh waktu. Mau naik apa kalian.” Ayah tidak dapat mengendalakan emosinya.

 

“Sudah Yah, mungkin anak-anak hanya meledek saja.” Ibu mencoba menengahi. Ayah terdiam dan sangat heran melihat tingkah putra-putrinya.

 

“Ini lah hasilnya! Karn bandel. Sudah menonton Palestine-Israel semalam,” ayah seot dan lalu berdiri dan menyelesaikan makannya.

 

“Yah, Ayah jangan marah, Yah. Kami tidak bermaksud untuk bandel.” Wajah mereka terlihat ketakutan. Dengan nada manjanya adik pun menyahutinya.

 

“Iya, Yah. Kata Ayah kita enggak' boleh marah.” Ayah tersenyum meskipun terpaksa.

 

“Tidak. Ayah sudah selesai makan, mari kita berangkat.”

Mereka mencium tangan ibu. Mereka berangkat sekolah.

 

“Jagain adek, kak” pesan ibu.

Dalam perjalanan ayah mencoba untuk selalu tersenym pada anak-anaknya dengan kejadian di meja makan tadi. Tingkah mereka sungguh aneh pagi ini, dari mulai duduk di meja makan hingga ayah menyuap nasi. Dalam mobilpun mereka tidak seperti biasanya yang selalu ceria.

 

“Kenapa pada cemberut nih anak Ayah. Kenapa pada diam? Kejadian tadi kakak dan adik tidak salah. Ayah yang salah, maafin ayah ya, Nak.” Tidak ada jawaban. Mereka hanya tersenyum sedikit ketakutan. “Jangan lesu. Harus semangat. Kan anak Ayah! Bagaimana dengan kabar..., siapa tu yang udah nakalin Adek, Kak?” Mereka Tercengang.

 

“Oh iya Yah! Kan ada kakak yang jagain Adek. Namanya Rio, Yah.” Dengan konsentrasi menyetir mobil, ayah berusaha menenangkan hati anak-anaknya. “Bagus. Lain kali jangan sampai ada yang gangguin Adek. Kakak kan jago!”

 

Mobil berhenti pada lampu merah. “Koran…koran…koran…! Koran Pak! Buk? Koran…Koran.... Berita Palestine Pak! Buk.” Loper berjalan mengelilingi kendaraan yang sedik macet.

 

“Yah, kenapa Ayah tidak membelinya.” Ayah sedang mengangkat telfonnya. Dibukanya kaca mobil lalu dipanggilnya. “Koran!!” Ayah matikan telfon. “Adek, jangan nakal donk! Di rumah sudah ada koran. Ayah pun berlangganan Koran. Mubazir, Dek! Sudah! Sudah! Tutup kacanya! tidak jadi beli,” nada ayah keras. Mereka kesal pada ayah. Tanpa sepengetahuan ayah, adek telah menyelipkan secarik kertas pada penjual Koran.

 

Mobil melaju cepat meninggalkan seorang anak penjual koran yang hanya menggunakan satu tangan itu. “Lain kali jangan ceroboh, Adek!” Dengan nada lembut ayah mencoba untuk merayunya. “Iya Yah. Maafkan adek Yah.” Ayah semakin heran melihat tingkah kedua anaknya,

“Yah, apa bedanya koran yang ada di rumah dengan koran yang dijual anak yang tadi itu, Yah?” Keduanya mencoba bersikap bodoh di depan ayah. “Sama saja. Beritanya juga sama. Hanya beda penerbit”

 

Mobil parkir di halaman sekolah dan melewati gapura, gapura bertuliskan ‘SDN 01 TAN MALAKA’. Ayah berpaling meninggalkan putra-putrinya. Dari balik gerbang terlihat anak-anak itu mengikuti arah ayahnya dan memastikan ayahnya tak akan kembali. Bel berbunyi tepat pukul 7.30 WIB, Pertanda siswa-siswi memulai pelajarannya. Namun dua orang kakak beradik itu terlihat gelisah berada di balik gerbang yang tak mungkin terlihat oleh siapa pun. Seperti ada seseorang yang mereka tunggu.

 

Waktu menunjukkan pukul 9.00 WIB, mereka masih berada di sana. Terlihat teman-temannya berhamburan keluar dari masing-masing kelasnya. Kakak beradik pergi meninggalkan sekolah mereka. Tergambar wajah ketakutan karena tidak masuk pagi ini.

 

Langkah dipercepat, matanya lincah kiri kanan, muka belakang  seperti pencuri yang ketahuan dan dikejar-kejar polisi. Tiba-tiba datang seseorang yang mengejutkan mereka. “Dorrr!!!!” kakak beradik sangat terkejut. Saking kagetnya, adik jatuh dan kakinya sedikit terseleo. Kondisi gadis kecil itu memang lemah.

 

“Maaf saya tidak bermaksud menyakiti dia,” sambil menunjuk ke arah adik. “Saya sudah yakin bahwa yang menulis secarik kertas ini adalah kalian maka langsung saja saya kejutkan. Maaf ya.” Mereka saling bertatapan dan terlihat bahagia. Seperti sahabat yang telah lama kenal. Pakaian mereka terlihat kumuh dan lusuh. Ternyata mereka telah merencanakan sebelumnya.

 

“Nih!” menyodorkan kertas yang diselipkan adik tadi pagi. “Apa maksudmu  dengan meyuruh ku’ temui kamu di SDN 01 TAN MALAKA pagi ini?” Berusaha kakak beradik itu meyakinkan

 

“Kami ingin bersahabat denganmu, pekerjaanmu sangat menyenangkan. Aku suka itu. Seperti para syuhada yang meninggal di Palestina.”

Air matanya menetes kepalanya tertunduk “Sebenarnya kami ingin berjuang seperti mereka, berani dan tidak takut kehilangan dunia, tapi kami kecil. Terlalu banyak aturan yang harus kami patuhi di rumah. Orang tua kami sangat disiplin dan menerapkannya pada kami. Jika kami jujur mengenai hal ini, mereka akan marah jika tidak sekarang kapan lagi.” Seperti intelek mereka berbicara demikian tenang dan begitu serius.

 

“Aku senang kalian mau bersahabat denganku, apakah kalian tidak salah. Aku hanya penjual koran yang menggunakan satu tangan dan tinggal di kolong jembatan  tanpa orang tua. Sementara kalian hidup serba berkecukupan masih menginginkan pekerjaan seperti ku. Tapi aku suka. Kita akan bersama-sama berjuang.” Pikiran bocah itu sangat dewasa.

 

“Apa yang kalian katakan memang benar, sungguh kalian punya jiwa besar yang begitu tulus. Tidak seperti orang kaya-kaya kebanyakan.” Kakak beradik itu terlihat sumringah

 

“Kami hanya ingin berjuang dan memperjuangkan. Mari kita bangkit!!”

Perjalanan mereka lanjutkan menelusuri kota yang penuh polusi dan kebisingan sambil menjual koran hingga larut malam. Bahagia itu menyelimuti mereka belum pernah dirasakannya sebelumnya. Malam ini mereka tidur di bawah  bisingnya kendaraan. Hingga larut malam pun mereka masih bercanda ria. Dan tampak mereka telah melupakan indahnya dan nyamannya bersama orang tua. Saking kecilnya mereka tidak memikirkan betapa orang tua mereka kehilangan dan sangat cemas.

 

“Koran… Koran… koran…!” meskipun terpencar namun kompak mengelilingi kendaraan yang sedang macet. Terlihat pamplet-pamflet bersebaran di mana-mana. Terdengar di mesjid-mesjid pengumuman, “Kita akan berpartisipasi memperjuangkan Palestina. Kita mulai demo pukul 08.00 WIB pagi ini.”

 

Di sisi lain orang tua mereka cemas. Sibuk sudah melaporkannya ke pihak sekolah dan juga pada pihak kepolisian. Namun hasilnya juga belum ada. Tv tetap dihjidupkannya. Tanpa sengaja ibu melihat anak-anaknya berjalan mengelilingi kota dengan semangat mengangkat bendera terlihat lusuh sambil berteriak  “Israel teroris! Zionis hancurkan! One man one dollar to save Palestine!”

 

Ayah dan ibu bergegas tanpa fakir panjang langsung menuju tempat di mana demo itu dilaksanakan. Terlihat wajah emosi ayah ‘mempercepat jalannya’ ibu mengikuti dari belakang “Sabar Yah jangan emosi.” Ibu tak dapat mencegah ayah.

 

“Kakak!! Adek!! berhenti!!’ langkah mereka terhenti perjalanan tetap dilanjutkan. Tiga anak itu terhenti dan tampak ketakutan sekali.

 

“Siapa kamu! Kenapa kamu menyesatkan anak-anakku!!” Suara ayah menggelegar hingga bocah lusuh itu terlihat pucat dan sangat kaget lalu meninggalkan lalu meninggalkan keluarga itu. Kakak mengejar sahabatnya

 

“Awas Kak…!!!!” ayah berteriak keras namun sebuah truk itu terlanjur menghilangkan nyawa anaknya. “Anakku…!”

 

“Palestina! Aku untuk Palestina,” ujar kakak sembari menghembuskan nafas surganya.***Padang, 2010

 

BIODATA

 

Nama                           : Marianti Sofia 

Tempat Tgl Lahir        : Sukoharjo, 23 Maret  1991

Alamat                        : Karang Putih, Sangir, kabupaten. Solok Selatan

Status                          : Mahasiswa di IAIN IB Padang

Fakultas                       : Dakwah

Jurusan                        : Bimbingan Konseling Islam 

BP                               : 209 217