Sastra Budaya › Cerpen


Epilog Sebuah Perjuangan

Rabu, 17/11/2010 WIB | Oleh : Williya Meta*

SMA 01 Nusantara, April 2010

Hiruk pikuk di sekolah siang ini, memekakkan telinga. Teman-temanku bersorak-sorai kegirangan setelah membuka amplop putih yang disalamkan langsung Kepala Sekolah. Dalam amplop itu secarik kertas pengumuman kelulusan pasca Ujian Nasional (UN). Konon, 100% siswa-siswi SMA 01 Nusantara lulus dengan menyandang nilai tertinggi di Sumatra Barat. “Wow... Prestasi yang sangat gemilang.” Setidaknya begitulah decak kagum bagi orang yang mengetahui prestasi sekolah ini.

 

Riuh sekali. Gelak tawa menggema di seluruh pelosok sekolah. Ada juga yang berlari-lari seraya membentangkan tangannya lebar-lebar sambil berteriak kegirangan. Sesekali rentangan tangan itu diubah bentuknya, kadang berat ke sebelah kanan, kadang sebelah kiri. Teriakan pun tak beraturan ritmenya. Bahkan melodi kata yang dilontarkan, bercampur baur.

 

Amak... Den lulus ah...”

“Asyik... Calon mahasiswa, euy....”

Kawin lai ah minggu katibo! Ha... ha....”

 

Aku tertawa kecil mendengar teriakan gembira mereka. Pemandangan corat-coret baju dengan cat berwarna-warni dan spidol tepat di depanku.

“Alhamdulillah... Akhirnya lulus juga.”

Bisuak kalau kawin undang den yo...”

Jan capek bana kawin, nikah dulu...”

 “Kuliahlah  dulujan ... (--sensor)”

“Pisah lagi nih, huhuhu...”

 

Begitu yang kubaca tertulis dengan tinta merah di atas kain yang membalut tubuh seorang siswi yang kebetulan lewat di depanku. Kemudian ketika dia berbalik arah, aku membaca ada tulisan di dekat lehernya.

“Jangan lupakan persahabatan kita ya! Sweet memory waktu SMA gitu loh.”

 

Aku terkesan membaca tulisan itu. Pastilah yang menulis kalimat itu adalah seorang sahabat yang baik yang menyayangi sahabatnya, begitu pikirku. Tapi, tiba-tiba saja. Prakk....

“Hey apa-apaan kamu? Aku salah apa?” tanyaku heran, lalu, berdiri dari dudukku.

“Dasar cowok mata keranjang! Apa lihat-lihat dadaku, heh?”

 “Ops... jangan salah sangka dulu. Aku hanya membaca tulisan ini.” Terangku seraya menunjuk ke arah tulisan yang kumaksud. Aku berusaha membela diri dari fitnahnya.

“Eh, semakin kurang ajar kamu ya...!” Prakk... ternyata dengan tangkasnya siswi itu menangkis tanganku, kemudian membengkokkannya sampai aku sendiri tak sanggup menahan sakit. Tangannya yang satu lagi mendaratkan tamparannya di pipi kiriku.

“Aduh... maaf-maaf. Aku tidak bermaksud jahat. Sumpah, aku hanya membaca tulisan yang di bajumu. Tolong lepaskan tanganku.” Aku berjingkat-jingkat kesakitan saat dia semakin keras memutar tanganku. Dari remasan tangannya yang teramat kuat, taksiranku dia seorang atlet bela diri.

“Lain kali kalau berani lirik-lirik lagi, batang lehermu yang kubuat seperti ini.” Ancamnya, lalu, melepas tanganku.

“Iya, maaf. Tapi ini salah paham. Aku cuma...”

“Banyak alasan...!” hardiknya sambil melihat lambang yang dijahit di lengan bajuku. “Hey, kamu siswa mana, heh? Ngapain di sekolah kami? MAN itu letaknya di sebelah. Bukan di sini. Jadi seperti ini ya guru MAN mengajar muridnya? Tidak bermoral!” katanya lagi dengan tatapan sinis.

 

Aku terdiam. Dia meninggalkanku. Aku kembali terduduk di bawah pohon marapalam, di sudut sekolah ini. Kata-kata wanita tadi masih terngiang di telingaku. Seenaknya saja dia mengatakanku ‘tidak bermoral’. Kutatap siswi itu sampai punggungnya hilang saat ditelan keramaian. Kupejamkan mataku dalam, mencoba melupakan kata-katanya yang pedih lagi menyakitkan. Kemudian kubuka lagi setelah amarah itu pergi jauh dariku.

***

 

“Woi... sendiri saja! Sudah lama menunggu?” suara Januar mengagetkanku.

“Ah... lumayanlah. Lima menit sebelum Kepala Sekolah kalian menyalami amplop.”

“Wah, lama sekali. Kenapa tidak menelpon kami?” Zul menambahkan.

“Tidak baik rasanya merusak kebahagian kalian. Apalagi ini hari terakhir kalian di sekolah. Pasti ingin salam perpisahan dulu. Eh... selamat ya.”

“Salam perpisahan? Ha... ha... ha... Buya ada-ada saja. Rata-rata ‘kan nyambung kuliah ke Padang juga. Nanti juga pasti bertemu lagi. Buya bagaimana? Luluskan? Berapa orang yang gagal?” Januar memborong semua pertanyaan, seolah mengintrogasiku.

“Alhamdulillah, aku lulus. Ada tiga orang yang tidak lulus. Mungkin akan mengejar paket C. Tapi, satu di antaranya-yang perempuan-digosipkan langsung dinikahkan orang tuanya dengan orang rantau daripada membebani ekonomi keluarga,” terangku.

“Wah... Nikah deh. Cepat banget. Eh, rata-rata sekolahnya berapa?”

“Aku kurang tahu! Hm, jadi ke Bank Mandiri kan membeli formulir SMPTN?” Aku mengalihkan topik, malu dengan peringkat sekolahku yang jauh kebanting dengan rata-rata sekolah mereka.

“Jadi lah! Yuk... Setelah itu kita ke pasar, beli baju untuk kuliah. Siap-siap dari sekarang! Buya juga ikut SMPTN?”

 

Aku menggeleng, “Aku dapat PMDK di IAIN Padang sesuai dengan jurusan yang kupilih. Hatiku sudah padat kuliah di sana.”

“Berarti Buya hanya menemani kami saja membeli formulir SMPTN?”

“Tidak ada salahnya, kan? Ayo, sudah lama sekali kita tak ke pasar bertiga. Terakhir ketika kita masih di Tsanawiyah kan?” kenangku.

“Iya. Salah siapa yang milih masuk MAN dulu? Kenapa tak ikut kita saja masuk SMA. Kalau sama-sama sekolah di sini, kita pasti selalu bertiga kemanapun kita pergi. Lagipula SMA itu lebih menjamin. Lihat saja buktinya sekarang. Nilai kelulusan SMA kami yang jadi nomor satu di Sumatra Barat.” Januar meng-elu-elu-kan sekolahnya dengan bangga.

“Ya... mau bagaimana lagi? Amak yang memohon-mohon menyuruh aku melanjutkan ke MAN, kata beliau biar aku jadi muslim yang taat beragama.”

“Ah... sudah jangan diperdebatkan. Toh sekolah di MAN atau SMA sama saja. Yang penting menuntut ilmu. Lagipula, kita juga tak berpisah jauh! Sekolah kita bertetangga. Bisa bertemu tiap hari juga. Seperti sekarang, karena Buya terlebih dahulu menerima tanda kelulusan, dia menunggu kita sangat lama di SMA. Apapun kejadiannya, kita ini tetap sahabat!” Zul mencoba menengahi.

“Ya... benar  juga kata Zul. Tumben sekali kamu pintar khutbah seperti Buya!” Januar menyikut, menggodaku.

“Dari  dulu memang pintar!” Zul bersungut.

“Jadi pergi?”Aku berdiri.

“Ya... jadilah...’’ Zul dan Januar berdiri serentak.

Lets go!”  Januar berbahasa asing ria.

 

***

Hari ini, hasil pengumuman SMPTN telah keluar seperti yang telah dijadwalkan. Banyak yang melihat pengumuman dari internet, tapi banyak juga langsung datang ke tempat pengumuman utama. Sama sepertiku yang menemani dua sahabatku. Kami memutuskan untuk datang ke Padang dari Bukittinggi untuk melihat hasil SMPTN. Rencananya, setelah melihat hasil pengumuman, kami jalan-jalan ke tepi laut.

 

Begitu kami sampai di tempat pengumuman itu ditempel, aku  bertemu dengan seorang wanita yang sangat kukenal wajahnya. Ya... Tidak salah lagi! Dia gadis yang waktu itu menamparku di sekolah dua sahabatku dengan tuduhan melihat dadanya yang sama sekali tidak aku lakukan. Dia melotot ke arahku. Sepertinya, dia juga mengingat wajahku. Aku menundukkan kepala. Bukan kerena takut, tapi malas mencari masalah dengannya.

 

“Januar.... Zul....” teriaknya.

Aih, Sari. Sama siapa ke Padang.”

“Itu diantar kakakku. Kalian sama siapa?” Pertanyaannya meledek, sambil melirikku dan menyunggingkan bibirnya.

“Ini sama teman. Eh, perkenalkan, Namanya, Putra. Tapi, karena dari kecil dulu dia suka berpidato, kami memberinya gelar ‘Buya’. Buya kenalkan ini Sari, teman sekelas kami waktu di SMA.” Januar menarik tanganku agar bersalaman dengan wanita di depanku, namun kutahan.

“Apa? Buya? Huh... Munafik! Januar, bilang ya sama temanmu, jangan hanya pintar berpidato, perbaiki diri sendiri dulu. Tidak bermoral begini kok malah dipanggil Buya? Mana cocok!” celoteh Sari sambil melangkah menjauhi kami.

 

Januar dan Zul bingung.

“Ada masalah apa kamu dengan Sari?”

“Panjang ceritanya. Di rumah nanti kuceritakan.” Aku mencoba untuk tetap tenang.

“Baiklah! Sabar ya, Sari memang judes orangnya! Maklum, anak orang kaya. Jadi semena-mena. Orang tuanya banyak menyumbang ke sekolah kami. Bahkan kalau tidak salah, orang tuanya donatur terbesar di sekolah. Jadi tak banyak yang berani cari masalah padanya.” Aku terdiam, tak menanggapi penjelasan sahabatku.

 

Beberapa detik kemudian, kami melangkah ke arah papan pengumuman. Ada tulisan merah tebal dengan huruf  kapital.

 

‘SELURUH PESERTA SMPTN YANG BERASAL DARI SMA 01 NUSANTARA BUKITTINGGI DINYATAKAN GAGAL. SILAHKAN COBA TAHUN DEPAN.’

 

Zul, Januar, Sari dan beberapa siswa tamatan SMA 01 Nusantara bertanya-tanya. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Kulihat Sari digotong kakaknya menuju Honda Jazz yang tadi mengantarnya. Dia shok berat setelah membaca pengumuman itu. Sementara Zul dan Januar bersama temannya yang lain menyusun strategi untuk pergi langsung ke sekolah mereka, hari ini juga.

***

 

Setelah melihat pengumuman itu,  aku ikut Zul dan Januar bersama teman-temannya balik ke Bukittingi mempertanyakan sebab kegagalan SMPTN mereka. Mereka tidak bisa terima begitu saja. Niat kami untuk relaksasi ke tepi laut sirna.

 

Sesampainya di SMA 01 NUSANTARA, ternyata teman-teman Januar dan Zul yang melihat pengumuman kelulusan dari internet sudah berkumpul dengat niat yang sama untuk mempertanyakan hal ini ke pihak sekolah. Tapi, pintu kantor Tata Usaha terkunci dari dalam. Bukan karena sekolah sepi tak berpenghuni, tapi karena Kepala Sekolah, guru dan para staf ketakutan dengan amukkan siswa. Sementara di areal parkir sekolah, terdapat empat mobil polisi. “Ada apa ini?” tanyaku membatin.

 

Sekitar tiga jam mereka berteriak-teriak menyuruh Kepala Sekolah keluar menemui mereka. Bahkan ada lontaran kata keluar dari salah seorang siswa, entah siapa. “Kita ditipu. Bunuh saja Kepala Sekolah!”

 

Mendengar teriakkan itu, aku yang duduk sendiri menjauh dari keramaian pun bergidik mendengarnya. Aku yakin, Kepala Sekolah yang mengurung diri di dalam kantor tak kalah berdiri bulu romanya. Aku terus menelaah dari jauh apa yang dilakukan para siswa selanjutnya. 

 

Beberapa saat setelah itu pintu kantor Tata Usaha di buka. Aku terdiam. Dari balik daun pintu, keluar sosok Polisi. Ternyata selain takut dengan amukkan siswa, polisi juga tengah mengintrogasi Kepala Sekolah. Kemudian, Pak Amin, cleaning service di sekolah ini mengeluarkan microfon dan menyodorkannya pada Pak Polisi.

 

Siswa yang sedari tadi berunjuk rasa, dengan seksama mendengarkan suara Polisi dari arah pengeras suara itu.

“Selamat Sore adik-adik? Apa kabar?”

Capek se lah pak, jan banyak baso-basi lai.” kata seorang salah satu pengunjuk rasa.

“Tampaknya suasana semakin panas. Baiklah. Langsung saja. Saya tahu pokok permasalahan kalian. Tidak lulus SMPTN kan? Ingin tahu apa sebabnya?”

Woi,  capek se lah!” Terdengar teriakan lebih keras dari teriakan sebelumnya.

“Kalian yang semua berdiri di sini terpaksa dengan berat hati Bapak katakan dua pilihan. Pertama, silahkan ikut UN tahun depan. Kedua, Ambil paket C mengulang ujian Nasional Oktober depan. Kepala Sekolah kalian terbukti membeli soal UN pada salah seorang penggelap soal ujian nasional. Hal yang sangat memalukan dilakukan hanya demi mempertahankan nama baik dan popularitas. Dana yang dipergunakan untuk membeli soal itu berasal dari wali murid yang kaya raya sekaligus donatur terbesar di sekolah ini. Dengan berat hati saya umumkan, Kepala Sekolah beserta staf dan wali murid yang bersangkutan terpaksa menempuh jalur hukum. Dan seluruh siswa SMA ini diwajibkan memilih dua alternatif yang sudah saya terangkan tadi.”

“Huu.....” Siswa pun bersorak. Ada yang rebah mencium tanah, lemah terkulai tak berdaya, bahkan ada yang mencoba melempar Polisi dengan batu. Untung saja aksi itu dicekal oleh teman yang di sebelahnya. Hiruk pikuk kali ini pun lebih bersemarak dari saat mereka menerima pengumuman kelulusan. Hanya saja ini bukan teriakan kebahagiaan, tapi derita dan nestapa.

 

Zul mendekatiku, lalu duduk di sebelahku, di bawah pohon marapalam, di sudut sekolah ini. Dengan perlahan aku bertanya,

“Apa benar kalian membeli soal Ujian Nasional?”

“Ini memang sudah jadi rahasia umum kalau setiap tahun SMA kami membeli soal sebelum UN itu berlangsung. Kemudian, para guru bidang studi yang bersangkutan mengerjakan soal itu. Lantas jawabannya disebarkan kepada seluruh peserta UN dari sekolah kami. Mungkin hanya satu sampai lima jawaban yang sengaja dibuat salah oleh para guru supaya tidak menimbulkan kecurigaan.”

“Kamu juga dapat kunci jawaban soal itu, Zul?”

“Semua pesarta UN dari sekolah kami!”

“Januar juga?” tanyaku tak percaya, sahabat kecilku yang dulu lugu kini berubah menjadi monster licik penipu negara. Bukan cuma Zul, tapi seluruh lapisan SMA terfavorit ini adalah sang pejanggal Ujian Nasional, si Penggadai Kejujuran, Penipu Negara! Mungkin hanya segelintir kaum lemah yang tak bisa memberantas kebathilan yang ada disini.

“Ya, begitulah!”

“Apa kamu tidak ingat kata pak Ustadz kita dulu kalau....”

“Sudahlah, Buya. Hal seperti itu sudah biasa. Jangan terlalu dipermasalahkanlah. Sekolah lain juga banyak yang membeli soal UN. Bukan hanya sekolah kami.”

“Apa? Sudah biasa?”

“Semua orang ingin lulus. Segala cara akan ditempuh untuk lulus. Apalagi popularitas kami sebagai SMA Favorit yang harus dipertahankan,” papar Zul seolah tak berdosa.

 

 Aku terdiam. Sebuah dosa jika sudah terlalu sering dikerjakan akan menjadi hal yang dianggap biasa. Ah, dunia semakin gila!

 

Sementara itu, tak jauh di depanku, berhenti sebuah Honda Jazz milik Sari. Ketika Sari menurunkan kaki hendak menuju perkumpulan teman-temannya, dengan cepat aku mengejarnya lalu meneriakinya, keras sekali.

“Sekarang siapa yang tak bermoral, heh? Aku atau kamu?” Aku menunjuknya dengan telunjuk kiriku seraya memajum-undurkannya, mengeluarkan suara lantang. Lantang suaraku membuat Sari ketakutan dan menangis. Ia tersedu-sedu.

 

Tapi, ah... itu hanya anganku saja. Tubuhku masih setia mendengarkan ocehan Zul. Sementara Sari tetap melangkah menuju keramaian.

 

April lalu, keramaian itu dihiasi canda tawa dan aksi corat-coret baju. Namun sekarang, keramaian ini dibumbui lautan air mata para siswa yang tak bisa menerima nasibnya mengejar paket C atau mengulang UN tahun depan. Sedangkan Oktober depan, mereka harus menebus ‘SEBAGIAN’ kesalahan mereka yang telah menghianati negara, menodai sumpah pemuda! Ada Sari di sana!***

 

*Penulis adalah anggota FLP Sumatera Barat.

Kuliah di jurusan Ekonomi Islam semester III, Fakultas Syari’ah.




• Cerpen Terkait