Harga Beras Melonjak, Petani dan Ibu Rumah Tangga Alami Keresahan

Tangkapan layar saat diskusi melalui Chanel YouTube UIY Official (sumber: Verlandi/suarakampus.com)

Suarakampus.com- Kenaikan harga beras di bulan Ramadan tahun ini, telah menimbulkan keresahan di kalangan petani dan ibu rumah tangga. Muhammad Ishak dalam diskusi online yang dilakukan di channel YouTube UIY Official, ungkapkan bahwa kedua kelompok ini sama-sama merasa dirugikan dengan lonjakan harga bahan pokok tersebut, Minggu (17/03)

Menurut Ishak selaku Pakar Ekonomi, indikator kenaikan harga beras mencerminkan adanya gejala krisis ekonomi di Indonesia. “Jika kita melihat parameter seperti inflasi atau daya beli masyarakat, memang terdapat tanda-tanda bahwa kita sedang mengalami kemerosotan ekonomi,” ujarnya.

Ishak menambahkan bahwa kenaikan harga beras sebesar 5% dalam beberapa waktu terakhir ini, memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan inflasi. “Beras merupakan bahan pangan utama bagi masyarakat Indonesia, sehingga kenaikan harganya berdampak besar pada rumah tangga,” katanya.

Meski demikian, ia berpendapat bahwa upaya pemerintah untuk gelontorkan beras impor dalam jumlah besar tidak akan mengatasi permasalahan. “Kita masih bergantung pada pemasukan pangan dari luar negeri karena produksi dalam negeri belum mencukupi, padahal solusi jangka panjangnya adalah meningkatkan produktivitas petani,” ungkapnya.

Ia juga mengkritik pernyataan Presiden Jokowi yang menyatakan bahwa jika harga beras turun, petani akan protes, dan jika naik, ibu rumah tangga akan mengeluh. “Seharusnya dengan harga beras yang tinggi, kesejahteraan petani bisa meningkat, namun kenyataannya 25% kemiskinan di Indonesia justru ada di sektor pertanian,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sebagian besar petani di Indonesia hanya menyewa lahan, sehingga mereka tidak menikmati sepenuhnya hasil panen. “Mereka juga harus membayar biaya produksi seperti pupuk dan benih yang cenderung mahal,” tambahnya.

Ia menyarankan agar pemerintah mendorong ekspor beras sebagai strategi untuk menstabilkan perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan petani. “Indonesia memiliki lahan yang luas dan berpotensi menjadi negara produsen beras, dengan ekspor, pendapatan petani bisa meningkat,” katanya.

Namun, ia mengakui bahwa mekanisme produksi padi di Indonesia masih menghadapi banyak kendala. “Perlu adanya bantuan dan edukasi bagi petani agar mereka bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen,” jelasnya.

Sementara itu, ia mengungkapkan bahwa kenaikan harga beras menjadi pukulan berat di tengah tingginya biaya hidup saat ini. “Beras adalah bahan pokok yang tidak bisa diganti, kenaikan harganya tentu akan membebani anggaran belanja rumah tangga,” ungkapnya.

Lanjutnya, ia menyebutkan perlu kebijakan yang komprehensif dan berimbang untuk mengatasi masalah ini. “Situasi ini memang dilematis bagi pemerintah, katanya di satu sisi, harga beras yang tinggi bisa meningkatkan kesejahteraan petani, namun di sisi lain ibu rumah tangga akan terbebani dengan tingginya biaya hidup,” tutupnya. (hkm)

Wartawan: Verlandi Putra (Mg)

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Pengamat Politik Internasional: Umat Muslim Menderita Akibat Permainan Politik Global

Next Post

Dema FTK UIN IB Padang Galang Dana untuk Korban Banjir Sumbar

Related Posts
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty