Kritisisme dalam Literasi Media yang Berbudaya di Era Digital

Ilustrasi: Nadia/suarakampus.com

Oleh: Siska Maharani


Mahasiswi Prodi KPI
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
UIN Imam Bonjol Padang


Bagaimana gerakan literasi pada era digital? Gerakan merupakan sebuah
tindakan upaya untuk mencapai suatu tujuan yang kita inginkan. Dalam
konteks literasi, hal ini merupakan sebuah tindakan untuk memahami
kemampuan membaca, menulis, dan mengevaluasi sebuah informasi. Pada
masa sekarang ini, banyak yang belum mengerti bagaimana bermedia
dengan baik, dan bagaimana agar tidak terjerumus kedalam bahayanya
cara kerja digital dalam mempengaruhi kita. Maka harus diadakan gerakan
literasi baik dari pemerintah, masyarakat, bahkan keluarga sendiri. Hal
tersebut bisa dengan krisis bermedia dan memahami kemampuan yang kita
punya serta keterampilan dalam mengembangkan budaya. Jadi hal ini akan
kita bahas lebih mendalam.


Bentuk kritisisme apa yang dapat dilakukan pada literasi media? Dalam era
digital di masa sekarang yang semakin berkembang, para pengguna media
sosial di seluruh dunia terhubung melalui jejak digital. Pada kritis media
memerlukan peran seorang individu yang secara kritis mengevaluasi,
menganalis, dan memahami informasi yang disajikan oleh media. Bukan
menerima secara mentah mentah. Terkadang masih banyak orang yang
sekedar menerima informasi yang sekilas lewat di beranda, namun tidak menguliknya lebih dalam. Hal ini dapat kita perbaiki dengan kritis bermedia.


Ditengah hiruk pikuknya informasi yang terjadi di media secara luas,
individu sangat bisa mengembangkan sikap kritis terhadap konten populer
mengenai budaya-budaya yang terjadi pada masyarakat luas. Dengan
kritisisme kita dalam bermedia dapat mendorong untuk menjadi pengguna
digital yang menolak disinformasi, dan melakukan integritas sosial, serta
dapat mempertimbangkan hasil dari penyajian informasi yang kita lihat.
Literasi media merupakan cara cerdas kita dalam memahami dan
menguasai berbagai media yang ada. Lalu sebagai pemakai media kita juga
dapat mengajak dan mempengaruhi orang lain untuk bijak serta cerdas
bermedia. Gerakan literasi merupakan sebuah pilar untuk tercapainya hal
tersebut. Gerakan literasi media merupakan sebuah langkah penting dalam
memastikan kesehatan digital dan informasi yang ada. terlebih lagi dengan
dunia yang semakin terhubung dengan Internet, kita dihadapkan pada
informasi yang tak terbatas dan dituntut agar terus update terhadap media
sosial. Melalui gerakan lierasi kita diajak untuk melek digital dan tidak
menjadi konsumen yang pasif, namun menjadi konsumen yang aktif.
Dengan mewujudkan hal tersebut kita telah berhasil dalam melakukan
kritisisme bermedia.


Kemampuan literasi di Indonesia saat ini masih sangat rendah, banyak
masyarakat yang mengalami darurat membaca. Lalu bagaimana cara kita
untuk meningkatkan literasi saat ini? Ada banyak hal yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan kemampuan literasi tersebut, salah satunya adalah
dengan mengembangkan konsep literasi media. Kita tahu bahwa literasi media merupakan kemampuan khalayak dalam menganalisis media, dalam hal ini juga menjadi alasan masyarakat Indonesia mengalami darurat literasi karena lebih memilih gawai dibandingkan buku. Tentunya hal tersebut disebabkan oleh kebiasaan kita yang susah lepas dari gadget. Nah upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai angka literasi adalah literasi media.


Keterampilan apa yang dilakukan dalam era digital? Pada era digital saat
sekarang ini, kita dituntut untuk memiliki keterampilan yang bermakna
juga bermanfaat. Tanpa adanya keterampilan yang kita punya, kita akan
terpaku pada satu hal saja. Hanya bisa menerima informasi dari luar
namun tidak memiliki keterampilan untuk memulai. “Jika tidak adanya
kebijakan dari pemerintah, orang tua, lingkungan, keburukan pada
generasi kita yang tersingkir di selangkangan digital memang benar
adanya” ( Khusairi, Jurnalisme Online, 2023 ). Dalam hal ini dapat kita tarik
kesimpulan bahwa faktor orang terdekat dan pemerintah dalam
penggunaan sosial media di era digital sangat berpengaruh bagi generasi
kedepannya.


Keterampilan budaya dalam era digital, merupakan hal yang perlu kita
sadari yaitu media sebagai teks atau suatu hal yang menggambarkan
tentang kebudayaan dan diri kita sendiri pada era digital saat ini.
Pertumbuhan yang pesat saat ini sangat dipengaruhi oleh kemajuan
teknologi, sehingga muncul berbagai macam budaya yang berkembang
dalam masyarakat. Era globalisasi saat ini banyak kebudayaan asing yang
masuk, hal itu tak jarang membuat pudar budaya lama yang ada. Sebagai
generasi bangsa kita harus bisa memilih mana yang dapat kita pedoman dan kita hindari. Namun adanya teknologi modern sekarang justru mempermudah para penggiat budaya, di zaman sekarang pasti semua orang menggunakan media sosial. Jadi, media tersebutlah yang menjadi wadah dalam memperkenalkan budaya budaya yang ada dengan berbagai nilainya. Budaya budaya lokal akan dipromosikan lebih mudah dan luas sehingga para pengguna internasional pun bisa mengenal budaya yang ada
di Indonesia.


Akankah kita terlena dengan digital? Sampai sekarang ini dampak yang
diperoleh dalam dunia digital sangat banyak, baik dampak positif maupun
dampak negatif. cara kerja internet dapat mempengaruhi kinerja otak kita.
Sebagaimana Abdullah Khusairi pada esainya menjelaskan dampak
terhadap sistem demokrasi, melalui alasan kebebasan berekspresi, hal yang
tak terelakkan adalah berlakunya teori echo chamber. Di mana imajinasi
publik tentang kehebatan sosial media untuk menyebar propaganda tetapi
ternyata menyiarkan kebencian, keburukan, membangun panggung sendiri sekaligus membuat dinding pemisah dengan dalil perbedaan. Jadi gerakan literasi digital sangat penting dilakukan pada masyarakat dengan berbagai sisi positif dan negatif. Secara alam bawah sadar digital sangat berbahaya bagi penggunanya yang bisa menipu, menghasut dan merugikan bagi masyarakat luas.


Setiap yang kita gunakan di dunia ini ada aturannya, apalagi di sosial
media walaupun setiap orang bebas berpendapat namun hal itu tetap
diatur dalam UU ITE namanya. Pemahaman tentang UU ITE dapat
memberikan manfaat bagi pengguna dalam aktivitas online, juga sebagai
pedoman atas batasan perilaku mereka dalam menggunakan sosial media.

Hal tersebut masih banyak yang menyepelekan dan seenaknya saja dalam
berinteraksi secara online. Sebagai alat untuk melakukan kritisisme media, penulis menggarisbawahi pentingnya untuk melakukan gerakan literasi untuk memperkuat
keterampilan literasi media yang berbudaya pada era digital saat ini. Fokus pada informasi yang diterima serta pengembangan diri dalam menjaga
culture sosial baik pada diri sendiri dan masyarakat. Hal ini merupakan
kunci terjaganya kita dari bahaya digital. Melestarikan budaya dengan
mencerminkan nilai-nilai norma yang berlaku.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Cinta untuk Palestina

Next Post

Pasca TKD, Pengembangan Bahasa UIN IB Gelar Pembekalan

Related Posts

Hahaha

Oleh: Nafi Pramoedya(Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang) Ini kisahku, si paling flatHahaha hihihi sana siniBerani berkata, kadang lupa…
Selengkapnya

Alam

Oleh: Nada Asa Fhamilya Febria Andre (Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang) Banyak insan yang menggambarkan kebahagiaannya pada alamKata…
Selengkapnya
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty