Tentang Diri

Oleh: Athaya Syahla Hanifah

Rania menghidupkan data seluler, lalu meng-klik salah satu aplikasi yang selalu menjadi target atas kebosanannya di rumah, yaitu Instagram. Ia mulai membuka salah satu fitur instagram yang dapat membuat para pengguna bisa saling memperlihatkan cerita kehidupan mereka, insta story.

Satu persatu insta story milik orang yang diikuti Rania pun terbuka. Dimulai dari Ardi, teman masa kecil Rania, yang baru saja mengunggah perayaan ulang tahunnya yang dihadiri oleh banyak sekali tamu undangan di Dante Cafe, salah satu cafe paling banyak peminatnya di kota. Insta story Pitra, teman kuliah Rania juga tidak kalah heboh. Satu jam yang lalu ia baru saja mengunggah momen perayaan anniversary pernikahan yang pertama dengan suaminya. Masih berhubungan dengan perayaan, lima jam yang lalu, sahabat semasa SMA Rania, yaitu Citra, mengunggah momen saat ia sedang makan-makan bersama teman sekantornya dengan caption, “makan-makan dulu mumpung gajian”, ditambah dengan emoji tertawa.

Rania menghela nafas panjang. Sejenak ia merasakan rasa sesak di dadanya. Rasa yang selalu muncul setiap kali ia membuka instagram dan melihat kehidupan rekan-rekannya yang selalu berbahagia dan dipenuhi dengan keberhasilan. Rasa sesak  selalu muncul, namun Rania tidak bisa berhenti untuk tidak melihat bagaimana kabar dari teman-temannya. Dari insta story lah Rania tetap bisa untuk keep in touch dengan teman-temannya yang sudah mulai sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing itu. Sedangkan dirinya masih tetap di tempat yang sama. Dengan kegagalan yang tak pernah menunjukkan rasa bosan untuk selalu menghampiri kehidupannya.

Sudah dua tahun semenjak Rania lulus dari bangku kuliah. Setelah lulus dari jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Pelita Bangsa dengan prediket cumlaude, Rania langsung membuat surat lamaran dan dikirimkan kepada lowongan tempat kerja yang sudah menjadi incarannya semenjak duduk di bangku kuliah. Dengan nilai yang memuaskan dan catatan aktif dari organisasinya dahulu, Rania yakin ia akan mendapatkan pekerjaan dengan cepat.

Namun prasangka itu salah. Satu bulan, dua bulan, dan berbulan-bulan sudah dilewati dengan tidak ada balasan ataupun undangan interview dari semua lamaran kerja yang diajukannya. Rania mulai merasa ada yang salah dengan tempat ia melamar kerja. Apakah lamaran yang ia kirim tidak sampai, apakah lamarannya belum dibaca, atau apakah lamarannya tidak sengaja terbuang, semua pertanyaan logis memenuhi kepala Rania kala itu. Dengan berat hati, Rania mulai mengajukan surat lamaran ke tempat-tempat yang sebenarnya ia tak ingin. Ia mengirimkan surat lamaran dengan harapan ia diterima bekerja di salah satu tempat itu, mendapatkan pengalaman (dan gaji tentunya), bekerja dalam waktu singkat, lalu mengundurkan diri dan mencoba mencari peluang yang lebih baik lagi dari tempat kerja yang semula. Namun hasilnya sama, tak satupun panggilan interview kerja yang didapatkannya.

Rania mulai merasa jenuh dan stress. Ia mulai bosan dengan kehidupannya selama di rumah semenjak lulus dari bangku kuliah, ditambah orang tua yang selalu menekannya untuk segera mendapatkan pekerjaan dan sindiran yang kerap dilontarkan adiknya karena ia hanya di rumah saja tanpa ada kegiatan. Rania merasa saat-saat seperti ini semesta tidak berpihak kepadanya. Tentang usaha yang tidak akan menghianati hasil atau apalah itu, Rania sudah tidak peduli lagi. Ia merasa sangat putus asa dengan segala hal yang ia alami sekarang.

Senin, 20 Maret 2020

“Ran? Rania ya?” Suara perempuan dari arah belakang membuyarkan lamunannya. Ia yang baru saja hendak menyeruput americano pesanannya secara refleks langsung memutar kepala, mendengar namanya disebut.

“Iya. Siapa ya?” Rania bertanya balik. Perempuan dengan jilbab panjang dan gamis warna biru dibelakangnya tersenyum tipis.

“Aku Aliya, teman satu SD kamu dulu. Kamu awet muda banget ya, aku aja masih ngenalin. Kayaknya aku aja nih yang tambah tua hehe,” Aliya berjalan ke depan Rania.

“Boleh duduk di sini?” Aliya bertanya.

“E-eh iya, duduk aja Al,” Jawab Rania sambil tersenyum canggung. Ia masih berusaha mengingat-ingat siapa Aliya. Sepertinya memori Rania tidak terlalu kuat untuk mengingat masa lalu.

Aliya menarik kursi di depannya, lalu duduk. Rania yang belum sempat menyeruput americano-nya mulai meneguk pesanannya itu perlahan-lahan.

“Jadi apa kegiatan kamu sekarang, Ran?” Aliya mulai membuka obrolan. Rania yang sedang menyeruput kopi pesanannya langsung terdiam. Ia menaruh cangkirnya perlahan.

“Wah, padahal kamu bisa tanya kabar aku dulu sebelumnya, tapi kenapa langsung nanya kegiatanku sekarang?” Tukas Rania. Raut wajahnya muram.

“E-eh, maaf Ran, kabar kamu gimana? Maaf kalau kamu tersinggung sama kata-kataku, aku nggak bermaksud apa-apa.” Aliya menjawab dengan gelagapan. Tiba-tiba ia merasa bersalah.

“Maksudnya kamu mau bilang sekarang aku kaya orang nganggur nggak ada kerjaan terus duduk galau di cafe sendirian gitu?” Rania meninggikan suaranya, sontak membuat Aliya terkejut.

“Ran, maaf. Aku nggak bermaksud apa-apa sama kamu. Aku cuma mau ngobrol aja,” Aliya menjawab dengan suara bergetar.

“Udah deh, aku lagi nggak mau bahas kegiatanku. Aku ingat kamu juga nggak Al, aku pergi dulu,” Rania menyambar tas yang ia letakkan di dedapannya, lalu pergi meninggalkan Aliya, yang masih terdiam dan tidak percaya dengan kejadian yang baru saja ia alami.

“Apa sih, kenapa semua orang nanya kegiatan, kerjaan, kegiatan, kerjaan. Dikira orang nggak berusaha?” Rania tidak berhenti menggerutu sepanjang jalan keluar dari cafe. Sebetulnya ia merasa sangat bersalah kepada Aliya, karena tanpa sadar ia meluapkan emosi dan kekesalannya pada orang tak bersalah, namun di sisi lain Rania merasa Aliya lah yang memancing emosi Rania dan membuanya kesal. Yang tadinya hendak menenangkan diri sejenak di cafe, perasaan Rania malah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Rasanya ia tak ingin pulang sekarang. Ia ingin kabur sejenak, menjernihkan pikiran. Rania meraih ponsel dari dalam tas, menelusuri daftar kontak di hanphone-nya, lalu menekan salah satu nama kontak.

“Halo? Lagi kosong nggak Ki?” Rania bertanya.

“Ran? Kosong kok. Ke rumah aku aja langsung sekarang.” Jawab suara dari seberang.

“Lagi bete banget nih?” Kiki, sahabat satu kampus Rania menuangkan jus jeruk kemasan ke gelas kaca, lalu menyerahkannya ke Rania.

“Minum dulu, biar tuh’ muka nggak jelek-jelek amat, hahaha” Kiki tertawa.

“Apasih, Ki” Rania yang masih dipenuhi rasa kesal meraih gelas di depannya, lalu mulai meneguk minumannya.

“Kayanya dua tahun belakangan ini aku lagi sial banget deh Ki. Udah nggak dapat kerjaan, suasana di rumah lagi nggak bagus banget, ditekan dan ditanyain sama pertanyaan yang bikin kesal terus dimana-mana, pokoknya orang-orang lagi bikin pusing banget deh.” Rania mulai menceritakan kekesalan yang sudah ia pendam selama ini kepada Kiki. Sebenarnya Rania bukanlah tipe orang yang mudah menceritakan masalahnya kepada orang lain, meskipun sahabatnya sendiri. Namun ia merasa sudah tidak bisa lagi menahan beban yang sudah menumpuk itu sendiri, ia butuh teman diskusi.

“Namanya juga lagi di fase quarter life Ran. Kamu kan juga tahu aku sebelas dua belas sama kamu. Udah kerjaan belum dapat, ditekan sana-sini, merasa beban keluarga bangetlah, hahaha.” Kiki menghela nafas pelan.

“Malah adu nasib dia,” Ujar Rania kesal.

Kiki menoleh ke arah Rania. “Gimana ya Ran. Kayanya di fase kaya gini secara nggak langsung Allah lagi nguatin hati kita. Yaa aku tahu orang-orang emang suka bikin kesal, apalagi circle terdekat. Tapi kayanya kita nggak usah terlalu fokus kesitu deh”

“Gimana nggak fokus kesitu Ki, kalo lingkungan kaya gitu yang terus kita temui setiap hari. Lingkungan yang bukannya nyemangatin, tapi malah ngebuat mental kita jatuh” Jawab Rania, tidak setuju dengan pernyataan sahabatnya itu.

“Maksudku, bukannya ada yang paling dekat, dan selalu bisa jadi penyemangat kita?” Kiki bertanya.

“Hah? Apasih Ki, nggak ngerti” Rania balik bertanya.

“Di sini” Kiki menggenggam tangan Rania.

“Kebanyakan nonton sinetron nih si Kiki, jadi dramatis kan,” Rania menepis tangan sahabatnya itu. Ia tak biasa dengan skin ship.

“Heh Ran, maksud aku tuh diri kita sendiri. Kalau kita cuma fokus sama perkataan atau perbuatan orang lain, kapan kita ada waktu untuk berkembang? Kapan kita ada waktu untuk memperbaiki dan mencari tahu apa kesalahan yang membuat kita gagal? Usaha kita yang salah, atau do’a kita yang kurang kuat, kita nggak akan tahu semua itu kalau cuma fokus sama orang lain. Orang lain nggak akan bisa mempengaruhi kalau kita punya hati yang kuat. Orang lain nggak akan buat semangat kita hilang kalau kita punya hati yang besar. Nggak mudah emang punya hati kaya gitu, tapi itu semua bisa kamu dapatin kalau kamu percaya dan mulai fokus sama diri kamu Ran, kita harus lebih banyak fokus sama diri kita sendiri, itu bukan egois, tapi itu yang ngebuat kita tahu apa yang sebenarnya jadi tujuan kita.”

Tiba-tiba suasana di kamar Kiki menjadi hening. Rania mencoba meresapi apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Perlahan-lahan ia menyadari, rasa kesal ia rasakan selama ini karena melihat kesuksesan orang lain, ataupun rasa tidak nyaman yang ia rasakan saat dicecar pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan apa tujuannya kedepan, itu semua tidak akan berdampak pada dirinya jika ia tidak terpaku pada orang lain. Ia memiliki banyak waktu untuk intropeksi diri, namun ia terlalu sibuk dengan selalu membandingkan kehidupan dengan orang yang sudah berhasil, membandingkan diri dengan orang yang dari luar tampak bahagia, padahal Rania tak pernah tahu, apa saja usaha yang telah orang itu lalui untuk sampai di titik keberhasilan. Rania menyadari, selama ini ia terlalu sibuk dengan orang lain. Dan melupakan tentang dirinya sendiri.

“Mau diantar nggak nih?” Kiki mengayun-ayunkan kunci motor di depan Rania yang sudah berdiri di ambang pintu rumahnya.

“Nggak usah deh, pulang sendiri aja, thank you” Rania mengikat tali sepatunya.

“Pokoknya makasih banget deh Ki,” Rania memeluk Kiki.

“Apasih, alay. Pulang sana,” Ujar Kiki, disambut dengan gelak tawa oleh keduanya. Rania melangkah keluar dari rumah Kiki. Ia merasa lebih kuat dan bersemangat untuk mulai menghadapi kenyataan yang ada di depannya. Dan yang utama, ia mulai mempelajari satu hal sangat penting. Yaitu tentang diri.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Tenbi Love Story

Next Post

Rindu Manusia Rapuh pada Insan Mulia

Related Posts

Rumput Tetangga

Oleh: Firga Ries Afdalia Tut..tut..tut… Nada sambung itu berbunyi sekaligus mengakhiri percakapan. Kebiasaan kaum rebahan menghabiskan akhir pekan…
Selengkapnya
Total
0
Share
410 Gone

410 Gone


openresty