Di Balik Mimbar Kekuasaan

Ilustrasi menampilkan istana megah dengan pemimpin yang berdiri diatas mimbar, di pelatarannya rakyat tampak ramai menyerukan komentar. Sumber : Zahra Mustika/Suarakampus.com

Oleh : Aisyah Nurlaili Arinda 

(Mahasiswa Psikologi Islam, UIN Imam Bonjol Padang)

Di atas mimbar megah
kata-kata menjelma janji
diucap lantang
namun sering tercecer
sebelum tiba di telinga rakyat.

Kekuasaan duduk rapi
bersetelan wibawa
namun lupa
ia lahir dari suara
yang pernah berdebu di jalanan.

Rakyat menunggu
bukan pidato panjang
melainkan roti yang cukup
keadilan yang tak pilih kasih
dan hukum yang berdiri
tanpa menunduk pada jabatan.

Di ruang-ruang rapat berpendingin
keputusan ditimbang
dengan angka dan kepentingan sementara di luar sana
perut kosong
tak mengenal statistik.

Politik seharusnya jalan pengabdian
bukan tangga licin
menuju singgasana pribadi
Pemerintahan seharusnya telinga
bukan tembok
yang kebal pada jerit.

Korupsi adalah luka terbuka
di tubuh negara
ia menggerogoti diam-diam
membuat rakyat kehilangan
percaya, harap
bahkan masa depan.

Namun negeri ini belum mati.
Di setiap pemuda yang berani jujur
di setiap suara yang menolak diam
ada api kecil
yang menolak padam.

Kekuasaan boleh berganti wajah
rezim boleh berganti nama
namun nurani tak boleh berganti arah.
Sebab negara yang besar
bukan yang paling keras suaranya
melainkan yang paling adil
kepada yang lemah.

Dan kelak
sejarah akan menulis
bukan siapa yang paling lama berkuasa
melainkan siapa
yang paling setia
kepada rakyatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Post

Berjalan ke Barat

Next Post

Nyanyian Terakhir Burung Rangkong

Related Posts

Perihnya Harapan

Oleh : Najwalin Syofura (Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang) Aku di mata dunia  selalu salah Bayang-bayang cela membayangi…
Selengkapnya