Oleh: Nanang Sanjaya (Mahasiswa Perbankan Syari’ah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Imam Bonjol Padang)
Malam sering menguji sabar,
membiarkan mataku terbuka lebar
di antara sepi yang tak kunjung reda.
Aku menggulir layar, mencari-cari alasan,
lalu menemukanmu di ujung percakapan.
Kita dekat, tapi tak pernah benar-benar satu.
Ada batas yang tak pernah kita sebut,
namun juga tak pernah kita langgar.
Antara ingin memiliki, dan takut kehilangan,
kita hanya diam membiarkan rasa tumbuh tanpa peran.
Lucu ya,
kita tak pernah benar-benar punya nama untuk rasa ini.
Bukan kekasih,
bukan sekadar teman.
Tapi entah bagaimana, aku selalu menunggu suaramu
setiap malam yang terlalu panjang.
Mataku sulit terpejam,
tapi hatiku selalu tenang
saat kau bicara.
Seolah malam ini milik kita berdua,
meski besok pagi mungkinn
kau berpura-pura lupa
Dan aku tahu,
besok ketika matahari kembali,
kita hanya akan jadi “biasa”.
Tapi malam tahu rahasia kita
saat mataku sulit tidur,
suaramu selalu jadi alasan
aku bertahan dalam sunyi.