Suarakampus.com– Kementerian Keuangan melaporkan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam Konferensi Pers APBN Kita Edisi Februari 2026 yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kementerian Keuangan RI, Senin (23/02). Laporan ini menyoroti pertumbuhan ekonomi 5,11 persen sepanjang 2025 di tengah tekanan perlambatan global serta defisit 2,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, ekonomi Indonesia mampu bertahan solid meskipun menghadapi perlambatan ekonomi Tiongkok dan ketidakpastian kebijakan The Fed atau bank sentral Amerika Serikat. “Pertumbuhan kita tetap terjaga di tengah tekanan global,” ujarnya.
Bendahara Negara menjelaskan, capaian pertumbuhan 5,11 persen pada 2025 ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang stabil di kisaran 5 persen serta investasi yang tumbuh 5,06 persen. “Fondasi domestik menjadi penopang utama perekonomian nasional,” jelasnya.
Kepala otoritas fiskal itu memaparkan, defisit APBN tercatat 2,9 persen dari PDB, lebih rendah dibandingkan Vietnam yang mencapai 3,6 persen dan Malaysia 6,41 persen yang telah melampaui batas kewaspadaan fiskal internasional sebesar 3 persen. “Kita tumbuh tanpa mengorbankan disiplin fiskal,” tegasnya.
Menteri Keuangan menambahkan, rasio utang dan defisit dijaga pada level aman sehingga pemerintah masih memiliki ruang kebijakan jika terjadi guncangan ekonomi mendadak. “Ruang fiskal yang memadai menjadi modal penting dalam menghadapi ketidakpastian global,” tambahnya.
Purbaya mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut dengan pertumbuhan ekspor produk bernilai tambah mencapai 7,03 persen. “Cadangan devisa hingga akhir 2025 berada pada posisi 154,6 miliar dolar AS yang menunjukkan ketahanan eksternal tetap kuat,” ungkapnya.
Menteri Keuangan menerangkan, inflasi pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen yang dipengaruhi efek basis rendah bersifat sementara dan diperkirakan akan normal kembali pada Maret. “Inflasi inti di luar komponen emas hanya mencapai 1,33 persen yang menandakan tekanan harga domestik masih terkendali,” terangnya.
Bendahara Negara memaparkan, jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 147,9 juta orang dengan tingkat pengangguran 4,7 persen per November 2025. “Angka kemiskinan juga turun menjadi 8,25 persen yang membuktikan pertumbuhan ekonomi semakin inklusif,” paparnya.
Kepala otoritas fiskal itu menjelaskan, subsektor tanaman pangan tumbuh 9,94 persen dan peternakan 7,78 persen berkat dukungan program strategis seperti Makanan Bergizi Gratis (MBG) serta penyederhanaan distribusi pupuk. “Produksi pangan yang naik berhasil menahan laju inflasi pangan,” sebutnya.
Menteri Keuangan menambahkan, penguatan hilirisasi industri mendorong peningkatan ekspor olahan nikel, CPO, serta turunan komoditas lainnya. “Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan devisa tetapi juga menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi masyarakat,” tambahnya.
Purbaya menegaskan, prinsip tumbuh cepat dengan fiskal sehat menjadi pijakan utama kebijakan ekonomi pemerintah. “Target pertumbuhan kuartal I 2026 harus dapat mencapai kisaran 5,5 hingga 6 persen, lebih tinggi dari asumsi APBN sebesar 5,4 persen,” tegasnya.
Menteri Keuangan menilai, kebijakan fiskal yang hati-hati ini penting karena stabilitas di tengah tekanan global memberi kepastian bagi investor sekaligus menjaga daya beli masyarakat. “Dengan demikian, risiko krisis dapat diminimalkan dan kesinambungan pembangunan tetap terjaga,” pungkasnya. (fau)
Wartawan: Zahra Mustika, Zahra Zaqhira Pilli (Mg)